Tiga Petaka yang Terjadi jika Suhu Bumi Naik 1,5 Derajat Celsius

Inspirasi Dalam Tiga
Karya Inspirasi Dalam Tiga  Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 Mei 2017
Tiga Petaka yang Terjadi jika Suhu Bumi Naik 1,5 Derajat Celsius

Temperatur permukaan bumi memang bervariasi. Ada yang luar biasa panas seperti Sahara hingga yang luar biasa dingin seperti Antartika. Namun, 144 negara yang berpartisipasi dalam Persetujuan Paris 2015 mengumumkan bahwa kenaikan suhu bumi untuk abad ini harus dibatasi menjadi 1,5 derajat celcius, setengah derajat lebih rendah daripada sebelumnya.

Sebenarnya, mengapa para ilmuwan dan pemimpin dunia begitu peduli dengan kenaikan temperatur yang hanya 1,5 derajat ini?

Dilansir dari Live Science, Peter deMenocal, seorang ilmuwan iklim purba di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, New York, berkata bahwa kenaikan temperatur rata-rata planet bumi adalah permasalahan besar, walaupun hanya beberapa derajat saja. Dia menambahkan, bumi kini 1,2 derajat lebih panas dibandingkan sebelum adanya industrialisasi. Bandingkan angka tersebut terhadap perubahan suhu yang hanya lima derajat celcius sejak zaman es 15.000 tahun yang lalu. Perubahan lima derajat ini membuat permukaan air laut naik sebanyak 106 meter dan membuat permukaan es pada bumi berkurang dari 32 persen menjadi hanya 10 persen di era modern ini.

Lantas apa yang akan terjadi jika suhu bumi naik lebih dari 1,5 derajat celcius?

Makanan

Lautan yang menyediakan 20 persen makanan manusia, misalnya, menjadi lebih asam akibat peningkatan karbon dioksida yang terserap. Hal ini membuat ribuan spesies seperti tiram, kepiting, dan terumbu kesulitan untuk membuat cangkang pelindungnya.

Sementara itu, kenaikan dua derajat celcius pada daratan dapat melipatgandakan kekeringan air dan menurunkan hasil panen para petani. Temperatur yang terlalu panas juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman yang berbunga seperti jagung dan biji-bijian lainnya.

Tempat tinggal

DeMenocal berkata bahwa sebanyak 40 persen populasi dunia hidup dalam jarak 100 kilometer dari laut. Dengan meningkatnya temperatur dunia, permukaan air laut yang naik akibat es yang meleleh dapat menghancurkan kota dan tempat tinggal mereka.

Sebuah laporan pada tahun 2015 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menemukan bahwa di antara 1901 ke 1990, rata-rata permukaan air laut meningkat sebanyak 1,2 milimeter per tahun. Namun, angka tersebut melejit menjadi tiga milimeter per tahun dari tahun 1993 ke 2010.

Kesehatan

Menurut deMenocal, peningkatan temperatur dan perubahan pola hujan telah dihubungkan dengan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti penyakit Lyme dan malaria. “Bahkan, ketika penyakit tersebut berhasil dihilangkan dari suatu area, perubahan cuaca akibat perubahan iklim dapat membuatnya bermigrasi ke area yang lain,” ujarnya.

Selain itu, beberapa area seperti Timur Tengah dan Amerika Barat bisa menjadi tidak dapat ditinggali manusia karena temperatur yang ekstrem. Sebab, temperatur yang tinggi biasanya juga dibarengi oleh tingkat kelembapan yang tinggi. Kedua hal tersebut membuat keringat tidak bisa menguap dan mendinginkan tubuh manusia. Kondisi ini dapat berujung pada kematian.

Ketiga malapetaka ini diperkirakan akan terjadi dalam 15 tahun, antara 2032 dan 2039 ketika temperatur bumi naik sebanyak 1,5 derajat celcius atau bahkan lebih jika melihat kondisi cuaca sekarang yang semakin sulit diprediksi. Bagaimana kalau dalam 15 tahun itu digalakkan reboisasi dan upaya-upaya lainnya untuk mengatasi global warming?

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 48