CERPEN PULAU TIGA

insani ina
Karya insani ina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018
CERPEN PULAU TIGA

                                                           PULAU TIGA

         Siapa yang tidak kenal dengan kota Riung, keindahan pulaunya membuat para wisatawan lokal maupun manca negara berlomba-lomba ingin mengunjunginya, terdapat 17 pulau yang memiliki pesona keindahan seperti Pulau Kelalawar yang dikenal dengan kelalawarnya yang bergantung disetiap pohon bakau. Namun ada sala satu pulau yang memiliki pesona keindahan tersendiri.

Pulau Tiga atau Pulau Panjang adalah pulau yang banyak dikunjungi para wisatawan karen pasir putinya bak berlian terkena sinar matahari, namun dibalik keindahan terdapat sebuah kisah tragis yang tersimpan.

     Pulau tersebut hiduplah sepasang suami istri yang memiliki tiga orang anak, yaitu dua orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Kedua anak laki –laki itu diberi nama Mbe’i dan Mba’o. Sedangkan anak perempuan diberi nama Mbo’o. Di pulau tersebut hanya dihuni oleh dua puluh kepala keluarga yang pekerjaan sehari-hari hanya sebagai nelayan dan memelihara binatang. Hasil nelayan dan binatang yang mereka usahakan itu bisa mereka jual kepasar yang berada didesa atau dikota, dengan menggunakan perahu, yang perjalanan membutuhkan waktu cukup lama. Sebagai hasil perjualan itu mereka gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,dan sebagian sisanya mereka simpan. Walaupun mereka hidup sederhana tetapi mereka sering membantu dan menolong orang lain yang membutuhkanya, karena kebaikan hati mereka selalu dihargai dan dihormati.

       Mbo’o adalah anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan dikeluarga mereka,sehingga orang tua dan kakak-kakaknya sangat menyayangi “Mbo’o”.namun walaupun begitu ayah dan ibu tidak membedakan ketiga anak mereka.mbe’i, Mba’o dan Mbo’o sangat senang membantu ayah dan Ibu mereka. Mba’o membantu memberi makanan binatang dan mencari kayu bakar di hutan sedangkan Mbo’o membantu ibunya membersikan rumah serta berjualan makanan,seperti ubi rebus,dan jagung bakar. Mbo’o dan ibunya menjual makanan dan para wisatawan banyak yang suka sekali dengan makanan yang dibuat oleh Mbo’o dan ibunya. Mereka mendatangkan makana tersebut dari desa-desa atau kota dikarenaka halaman ruma mereka tidak bisa ditanami ubi dn jagung.

       Keesokan harinya “Mbe’i dan ayahnya meminta ijin kepada istri dan kedua anaknya Mba’o dan Mbo’o bahwa mereka akan pergi memancing selama 3 hari. sebelum pergi memancing Mbe’i dan Ayahnya menyiapkan peralatan memancing ,sedangkan istri dan kedua anaknya membantu menyiapkan bekal yang dibawah oleh Mbe’i dan Ayah mereka, sebelum pergi memancing Ayahnya berpesan kepada istrinya

       “Ibu tolong jaga rumah dan kedua anak kita dengan baik ,” sang isteri pu n menjawab

     “Saya akan menjaga kedua anak kita dan ruma ini sebagaimana saya menjaga diri saya sendiri”

Tak lama kemudian sang Ayah berkata kepada anaknya Mbe”i

         “Anakku Mbe’i kita akan pergi kepulau sebelah

   “Baik Ayah….” Mbe’i pun menjawab dengan sopan

Sang Ayah menjelaskan lagi kepada anaknya “Di sana hanya ada pasir putih dan pohon bakau,apakah Mbe’i tidak keberatan ? “ Tanya sang ayah,

     “Tidak Ayah,saya akan sangat senang karena saya akan tahu tempat-tempat disekitar sana jawab mbe’i .”

Sang ayah pun sangat senang mendengar pernyataan anaknya , ia kembali bertanya

     “Mbe’i jika malam menjemput kita akan tidur beralaskan tikar dan dedaunan di sana “

Tak heran mbe’i pun menjawab pertanyaan Ayahnya karena ia tahu pergi mencari hasil itu tidak perlu bermewah-mewa

     “Baik ayah, apapun itu yang terpenting kita bisa paling dengan membawa hasil yang banyak”.

         Ketika selesai bercakap-cakap Mbe’i dan Ayahnya langsung berlayar menuju pulau tempat mereka akan memancing. Karena perjalannya lumayan jauh dan ketika mereka sampai di pulau itu panorama sore pun menjemput dengan keindahan pantainya. Mbe’i mengagumkan betapa besarnya ciptaan tuhan yang begitu indah,karena perjalanannya cukup jauh dan melelahkan Mbe’i dan Ayahnya tertidur dengan nyenyak ,dalam keheningan malam disinari dan dikelilingi bintang-bintang ditemani mimpi indah ,tiba-tiba sang ayahpun kaget dan terbangun dari tidurnya sambil mengelus-elus dada sambil berkata ternyata hanya mimpi.setelah itu ia memandang dise   kitar mereka sudah mulau terang benderang kira-kira pukul 05.00 pagi .Ayahnya langsung menyiapakan makanan untuk sarapan pagi mereka ,setelah selesai menyiapkan makanan dan membangunkan Mbe’i.

  “Bangun nak hari sudah pagi” mbe’i pun langsung bangun dan mengusapkan matanya dan berkata pada ayahnya

       “Ayah ayo kita sarapan”

Setelah sarapan mbe’i dan Ayahnya menyiapkan peralatan dan perlengkapan untuk pergi memancing.sang Ayah berpesan kepada anaknya “Mbe’i seandainya sebentar kita mendapakan banyak ikan maka kita langsung pulang kerumah”

     Mbe’i menjawab “iyah Ayah..” Ayah pun melanjutkan percakapan

   “Kasihan adik-adikmu, dan ibu yang sudah menunggu kedatangan kita dirumah.”

Mbe’i (terdiam dan hanya menganggukan kepalanya)’ Mbe’i dan Ayahnya lanjut memancing, setelah 1 jam memancing, Ayah melihat hasil pancingannya ternyata sudah banyak. Sang ayah pun berkata kepada mbe’i

Mbe’i dan Ayahnya lanjut memancing, setelah 1 jam memancing, Ayah melihat hasil pancingannya ternyata sudah banyak. sang Ayah pun berkata kepada mbe’i

     “Mbe’i ternyata ikan kita sudah banyak ayo kita pulang kerumah”

Mbe’i hanya tersenyum dan mengangguk sambil memutar haluan untuk pulang.

       Setelah sampai di rumah Ayah memanggil Ibu, dan anaknya Mba’o sembari terburu-buru untuk memasuki rumah terdengar dari dapur sang ibupun menjawab panggilan sang Ayah

     “Ia ayah,kalian sudah pulang”, sembari berjalan cepat menghampiri Ayah dan Mbe’i anaknya ,karena sang ayah tidak melihat anaknya Mba’o ia pun bertanya pada isterinya

     “Dimana Mba’o?”

     “Mba’o sedang pergi mancari kayu bakar di hutan” jawab sang isteri.

Diam- diam sang Ayah memasuki rumah dan memeluk Mbe’i sambil membawa ikan dan membantu sang isteri memasak didapur.

Mbe’i dan ayahnya pun isterahat sejekan melepaskan lelah di ruang tamu mereka,setelah selesai beristerehat mbe’i dan Ayahnya bergegas kekamar mandi untuk mandi, setelah selesai mandi mereka menikati kopi panas yang telah di sediakan ibunya. Terdengar bunyi kaki dihalaman rumah mbe’i melihat adikya pulang dengan membawa kayu bakar, Mbe’i pun menyambut adiknya dengan senyuman. Beberapa menit kemudian ibunya telah selesai masak dan sudah menyiapkan makanan untuk makan siang bersama.

Sambil menikmati makanan ayahpun berkata pada Mbe’i

       “Mbe’i setelah selesai makan kita akan pergi kedesa sebelah untuk menjual ikan “

Iya Ayah , tapi setelah kita sampai disana kita menjualnya dengan harga berapa? ”jawab mbe’i

   “Jual saja sesuai dengan keadaan ekonomi disana ,yang penting ikan kita habis terjual”, sanga Ayah pun tersenyum dan menjawab pertanyaan anaknya.

Dengan senyuman lebar mbe’i menjawab “iyah ayah, semoga ikan kita habis terjual”

        Setelah selesai makan Mbe’i dan Ayahnya langsung pergi kepasar untuk menjual ikan ,ternyata ikan merekapun habis terjual, dengan ucapan syukur Mbe’i dan Ayah pun langsung pulang kerumah, setelah sampai dirumah, Ibu dan adik-adiknya sedang tertidur (istirahat siang). Mbe’i pun menghampiri ibunya lalu membangunkan ibunya yang tertidur pulas

     “Ibu kami sudah pulang” ibupun kaget dan terbangun dari tidurnya

     “Ikan-ikan habis terjual” Tanya sang Ibu.

Dengan bahagia Mbe’i menjawab “Alhamdulillah iya Ibu”

Dengan membelai kepala sang anak Ibu pun menyuru Mbe’i untuk tidur

     “Mbe’i istirahatlah, tidur disamping adikmu .” Mbe’i pun tidur di samping kedua adiknya

Sang Ibu hanya bisa melihat dan tersenyum sambil berkata didalam hatinya “betapa bhagia mempunyai tiga orang anak yang saling menyayangi satu sama lain .

         Keesokan harinya sang Ibu dan Ayah mereka pergi kepasar untuk membeli kebutuhan makanan karena , beras yang mereka konsumsi sehari-hari telah habis, sebelum sang ibu pergi kepasar ia berpesan kepada anak pertamanya Mbe’i untuk menjaga adik-adiknya. Setelah berpesan kepada anaknya mereka pun bergegas menujuh pasar dengan menggunakan perahu motor. Sesampai dipasar sang Ibu membeli beras dan perlalatan kebutahn lainnya. Selesai membeli mereka pun pulang kerumah. Sesampai dirumah sang Ibu memanggil Mbe’i untuk mengambil beras yang telah dibelinya, Mbe’i pun langsung mengambil beras dari ibunya untuk menyimpanya di dapur. Selesai menyimpan Mbe’i pun meminta ijin pada Ibunya untuk pergi kepantai:

     “Ibu,saya ingin kepantai” kata Mbe’i,

       ”Ibu ijinkan kamu pergi kepantai tetapi tidak dengan adik-adikmu kamu harus pergi sendirian,” sang Ibu menjawab.

       “Iya Ibu, saya akan pergi sebentar “jawab Mbe’i kepada Ibunya.

Tidak lama Mbe’i berpesan terdengar suara dari bilik rumah, suara itu adalah suara kedua adiknya Mba’o dan Mbo’o, mereka juga ingin mengikuti kakak mereka ke pantai.

     Ibu, kami juga ingin pergi kepantai bersama kakak.”

           Dengan berat hati sang Ibu pun mengijinkan mereka pergi, tetapi sang Ibu berpesan kepada Mbe’i untuk menjaga kedua adiknya agar tidak terjadi apa-apa. Mereka pun pamit dan pergi kepantai bersama-sama, sesampai dipantai mereka langsung menaiki perahu Ayahnya yang terapung di pantai. Mereka keasikan bermain hingga tidak sadar bahwa perahu yang mereka tumpangi itu suda berada di tengah laut. Tiba-tiba gelombang menghampiri perahu mereka ,Mbo’o adik perempuan dari Mbe’i dan Mba’o menangis karena ketakutan, semakin besar gelombang yang menghantam perahu mereka dan semakin banyak air laut yang masuk kedalam perahu mereka. Mereka berteriak meminta tolong .

     Tolong,,,tolong,,,tolong,, kata Mbe’i, tetapi hembusan angin yang begitu besar ahirnya suara Mbe’i tidak terdengar oleh orang-orang yang dipantai, sementara kedua adiknya sudah terapung dipergelangan perahu, akhirnya Mbe’i memutuskan untuk mengangkat kedua adiknya tetapi perahunya terbalik dan mereka bertiga tenggelam karena kebanyakan minum ait laut.

       Tidak lama kemudin sala seorang warga yang melihat perahu terapung dipantai dan segera mengabil perahu itu, sesampai dibibir pantai ia melihat tiga bersaudara terbawa oleh arus di bagian bawah kapal. Ia berteriak meminta tolong dan ia kaget melihat ketiga anak itu ternyata anak itu adalah tetangaga rumahnya, dan ia berlari sekuat tenaga untuk memberitahukan kepada ibu dan bapak dari tiga bersaudara itu, tetapi dari luar ruma ia pun berteriak

         “Ibu…Bapak…!!!”

         “Kenapa ibu kok lari-lari kaya dikejar hantu ” kata sang ibu

Lalu sang tetangga pun menjelaskan kepada ibu bahwa anak anak mereka tenggelam ,

         “Shok, dan tidak menyangka apa yang di ceritakan oleh tetangganya karena tidak percaya ahirnya ia memanggil suaminya untuk pergi kepantai.”

     Sesampai di pantai ia melihat jenazah ketiga anaknya yang sudah diangkat kedarat, Ibunya histeris dan menangis tersedu-sedu melihat anak mereka yang terbaring tak berdaya di hamparan pasir putih.

   Sang Ayah yang melihat anak mereka hanya bisa mengikhlaskan, dan memberi pengertian kepada istrinya agar bisa ikhlas atas kepergian anak-anak mereka, dan jenazah anak-anak mereka dibawah kerumah dan dimandikan untuk dimakamkan. Sesampai dirumah anak-anak mereka dimandikan dan ,disholatkan dan dimakamkan di samping rumah mereka.

       Dan tempat tersebut diberi nama pulau tiga, sehingga sampai saat ini kisah mereka tetap dikenang oleh masyarakat Riung hingga hari ini. Disitu juga kedua orang tua yang malang itu menghabiskan sisa hidupnya .

 

                                                               SELESAI

  • view 45