Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 21 Maret 2016   04:03 WIB
TARIAN ASAP ROKOK

Malam semakin larut

Segelas kopi semakin surut

Pagi pun bergegas hendak menjemput

Tatkala dompet semakin mengerut

?

Aku masih menjadi tunggul

Diantara sunyi dan siul

Kulihat asap rokok bergoyang pinggul

Dipekat udara ia semakin cabul

?

Merayu seorang wanita

Batuk dan meronta

Teringat aku dalam bes pariwisata

Sembunyi dibalik tawa

?

Ingatan hangat itu

Meminta mata untuk menahan iba

Ada seorang nenek tua

Mengisap dan meniup lepas ke udara

?

Oh gila dalam hati ku mengungkapnya

Si tua itu menarikan asap rokok jua

Kutanya ia menjawab

"Kata siapa rokok membunuh mu"

?

Aku kaget dan berusaha

Ternyata nenek itu membaca

Hahahaha aku perpraduga

Akulah tersangka, dan nyata bungkus rokok itu mengundang tanya

?

Tarian asap rokok nenek tua

Ku lihat seperti ada luka dan derita

Enggan aku bertanya

Karena keburu ia membaca dan menjawab

?

"Jangan percaya pada pemerintah

Kita hanya untuk diperintah

Percayalah kepada rokok

Di hujah tapi jadi kebutuhan pokok

?

Dulu suami ku perokok

Setelah berhenti ia mati

Ternyata karena beban hidup ini

Lebih berat daripada beban asap

?

Aku merokok karena sehat

Kalau rokok membunuhku

Mungkin aku terlalu lugu

Angkat dahi tekan dagu

Melihat penderitaanku"

?

Aku kembali sadar

Dan melihat alam sekitar

Tak ada yang lebih kasar

Selain hukum yang longgar

?

Ah... gumamku bersandar

Mungkin hanya karena aku tak sadar

Perutku mulai lapar

Tapi kopi semakin segar

?

Judulnya menipu hehe, alibi suapaya tidak terlihat politis.

Karya : Nur