Hujan Pertama Dibalik Jendela Kantor

Ine Rezdiaa
Karya Ine Rezdiaa Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Oktober 2016
Hujan Pertama Dibalik Jendela Kantor

Sudah tiga puluh dua hari aku magang di kantor dinas, suasananya agak membosankan. Orang-orang diruangan tersebut sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Tak ada seoranpun yang bisa aku ajak bicara, karena memang tak seorangpun yang seumuran denganku. Sebenarnya orang-orang diruangan tersebut sangat baik dan peduli, tapi mereka sibuk dengan kerjaan masing-masing. Ibu-ibu dibelakang mejaku sibuk dengan buku besar akuntansi dan kalkulator mereka. Bapak-bapak terlalu fokus dengan komputer dan kertas kerjaan mereka. Satu-satunya hal yang dapat ku syukuri adalah meja tempat kerjaku, menghadap jendela. Aku bisa melihat orang orang yang berlalu lalang. Sesekali ku rebahkan punggungku pada kursi yang empuk itu, mencari ketenangan sesaat. “Mbak Anye tolong inputkan data yang kemarin diberikan sama pak Anwar ya, data nya tolong diambil dulu di ruangan bagian umum.” Suara serak Ibu-ibu membuat ku harus mengakhiri pencarian “ketenangan sesaat” itu. “Iya bu” Jawabku singkat. Satu lagi hal yang saya syukuri, disuruh keluar ruangan. Rasanya seperti baru saja keluar dari ruangan yang terkunci. Ber-Ac tapi terasa pengap.

            Hari ini cuaca nya sudah keterlaluan panasnya, setelah jam makan siang berakhir, aku kembali keruangan, duduk menghadap jendela. Aku membuka ponselku, membalas beberapa pesan yang masuk. Iseng, ku baca satu persatu status teman di timeline ku. Aku agak mengernyitkan dahi, “kok semua bikin status sedang hujan” pikirku. Aku agak maju sedikit sambil mendongakkan kepala ku keatas, mencoba mengintip langit diatas gedung kantor. Awannya cerah, mana mungkin hujan. “mbak anye tirainya ditutup saja kalau silau kena sinar matahari” Suara bapak-bapak menyadarkanku dari keheranan. Setelah merapikan beberapa kertas dimejaku, aku berdiri, hendak menutup tirai jendela. Tiba-tiba suara gemuruh dan gemricik air terdengar. “Hujan?” pikirku heran. Aku lihat lagi langitnya, kali ini nggak secerah tadi, ternyata benar benar hujan. Aku kembali duduk, ku urungkan niatku menutup tirai jendela. “Lho mbak, nggak jadi ditutup tirainya?” tanya bapak-bapak lagi sambil mengunyah bakwan goreng. “Enggak pak, silaunya nggak jadi, kan Hujan” Jawabku sambil nyengir. “Oh, Penikmat hujan to, yawis ati-ati nek ada petir nyasar” candanya sambil berlalu.

            Aku kembali duduk, memandang keluar jendela, hujan. Aku tersenyum, sesekali terpejam menikmati alunan musik alami dari hujan, menenangkan. Sekelebat bayangan masa lalu tentang hujan menyelinap dalam pikirku. Aku tersenyum sekali lagi. Kembali ku lihat hujan pertama dibalik jendela kantorku. “terimakasih Tuhan, untuk nikmat hujanMu ini. Semoga berkah.”

  • view 255