Catatan Perjalanan ke Papua

Indra Talip Moti
Karya Indra Talip Moti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 September 2018
Catatan Perjalanan ke Papua

Selasa pagi di bulan Juli 2017 sekira jam 10 saya tiba di Sentani Airport Jayapura. Transit penerbangan ke Nabire. Sambil menunggu, saya menikmati segelas kopi paniai khas Papua di iringi lagu beat Sajojo di cafe bandara. Saya tiba-tiba teringat, dulu zaman saya SD, lagu sajojo begitu familiar, menempati tangga lagu teratas di kampung saya. Ketika pergi sekolah saya dan teman-teman sebaya kerap menyanyikan penggalan lagu sajojo, “Sajojo. Samuna muna-muna keke. Samuna-muna keke”. Begitu kira-kira penggalan liriknya. Sambil menikmati kopi dan lagu sajojo. Saya menghubungi Abdul, kawan sekampung yang hijrah ke Nabire.

Nabire dan Paniai adalah kota yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Beberapa informasi tentangnya telah saya searching di google, namun tidak memadai. Karena itu saya minta di jemput. Mendengar keterangan saya, Abu sapaan akrabnya cepat-cepat minta maaf dengan logat papua yang kental. “Pace, Sa minta maaf, Sa sekarang di Serui, tapi ada Sa pu tamang, namanya Anwar di Nabire. Nanti Ko kontak dia ee!” Saya langsung menghubungi Anwar. Alhamdulil, dia berkenan menjemput saya.

Senja di Pantai Nabire.
 
Bertemu Anwar, dan Mace Mery
 
Siang itu matahari cerah. Saya tiba di tanah Nabire. Salah satu Kabupaten di hamparan “leher burung” kepulauan Papua. Anwar sudah di sana menanti saya. Kami bertemu, bersalaman, dan berkenalan. Karna lapar, saya dan anwar cari rumah makan terdekat untuk “isi gudang tengah”. Sambil makan anwar menawarkan agar saya nginap semalam di rumahnya Mace Mery, istri dari sahabat baik Ayahnya. Saya setujui.

Waktu keluar dari pintu bandara. Di depan mata saya, berdiri kokoh dua buah patung saling membelakangi dengan gimmick lokal papua yang kuat. Ke arah Bandara satu dari patung itu diukir meniup kulit bia atau kerang. Dalam tradisi orang Papua, kulit bia, atau kerang digunakan sebagai tanda untuk memanggil orang agar datang mengunjungi Nabire. Satu patung lagi menghadap lurus ke kantor Bupati Kabupaten Nabire, diukir berotot sedang memegang panah dan busur di tangan kanannya, dan tangan satunya lagi sedang menggenggam kapak yang diletakan di atas pundak kirinya.
 
Tiba lah kami di rumah Mace Mery. Letaknya di belakang bekas perumahan Radio Republik Indonesia (RRI) distrik Oyehe. Mace Mery asalnya dari Batu Malang Jawa Timur. Menikah dengan Pace Papua yang hitam manis. Lalu hijrah dan menetap di Nabire. Mace Mery juga memilih hengkang agama, dari muslim ke kristen protestan. Mengkuti agama suaminya. Sekira 2007 silam suaminya meninggal dunia.

Di rumahnya, Mace Meri tidak sendiri. Dia di temani anak kosan rantauan dari Toraja dan Batak. Satu kamarnya di buka untuk saya nginap semalam. Orangnya ramah dan peduli. Lebih penting lagi Mace Mery memahami dan mengerti saya sebagai seorang muslim.

Setelah melepaskan tas di kamar. Anwar mengajak saya jalan ke rumahnya di Samabusa. Anwar dan keluarganya berasal dari Banda di kepulauan Maluku. Tetangga mereka kebanyakan dari Seram, dan Ambon. Ada juga dari Ternate, dan Tidore. Mereka tiba di Nabire sekira tahun 70-an mengkuti program transmigrasi Pemerintah. Penduduk Nabire sudah sangat heterogen. Orang asli Papua berbaur harmoni dengan pendatang dari Toraja, Jawa, Bugis, Bali, Batak, dan dari kepulauan Maluku. Orang-orang di Teluk Cendrawasih dari Kimi, Biak, Serui, juga banyak di Nabire.
 
Nabire kini kalau diibaratkan sebuah Pot, maka tumbuhan di dalam pot tersebut adalah tumbuhan dengan pelbagai latarbelakang suku. Bhineka Tungal Ika adalah pot bagi tumbuhnya kebudayaan. Sikap toleransi, humanis, dan pluralis adalah buah kebangsaan dari tanah Papua.

Jalan-Jalan ke Pasar Oyehe, bertemu Berto dan Simson

Menjelang sore saya minta bantu ke Anwar agar diantar ke Pasar Oyehe. Sepanjang jalan protokol saya memerhatikan berjejeran mace-mace papua berjualan noken. Melihat pemandangan itu, saya langsung jepret melalui kamera. Tetiba saya ditegur, “Jangan Ko ambil foto”, ujar salah seorang penjual. Saya langsung klarifikasi, “Mama, saya ambil foto untuk kenang-kenangan”. “Ah jangan Ko tipu-tipu, Ko ambil foto untuk bikin proposal dan kasih masuk di Kabupeten”, (Jangan kamu tipu, kamu ambil gambar untuk buat proposal dan menawarkannya ke pemerintah).” Saya terus meyakinkan, akhirnya dipersilahkan.

Magrib pun tiba, saya cepat-cepat ke masjid Baiturrahman dekat pasar Oyehe melaksanakan shalat magrib. usai shalat, saya teruskan ke jalan merdeka. Di perempatan jalan merdeka ada sebuah tugu, namanya tugu roket. posisinya berhadapan dengan kantor Bupati kabupaten Nabire. Di sudut perempatan jalan merdeka itu ada sebuh kedai kopi. Di sanalah saya menikmati kopi sambil merampungkan rencana dan mengontak beberapa kenalan agar ikut bersama ke Kabupaten Paniai. Kami buat janjian bertemu besok pagi di terminal lintas kabupaten Karang Tumaritis Nabire.  

Rabu pagi yang teduh. Saya bertemu dengan Berto, dan simson di terminal. Mereka berdua asalnya dari Biak. Di Nabire mereka tinggal dan menetap di Samabusa. Istilah “Samabusa belok kanan” begitu familiar bagi orang-orang di Nabire maupun di kabupaten lain. Samabusa belok kanan adalah istilah yang menunjukan arah ke lokalisasi PSK. Kalau kita dari pusat kota ke Samabusa. Sebelum masuk gerbang perkampungan. Ikuti arah jalan belok kanan. Itu lah arah menuju lokalisasi. Lokalisasi Samabusa termasuk lokalisasi terbasar di Kabupaten Nabire.

Perjalanan ke Paniai

Dok Indra Talip di lembah di Dogiai. 
 
Cuaca hari ini cerah sekali. Sekira jam 10 pagi kami menumpangi mobil Mitsubishi Pajero, khusus menangani penumpang lintas kabupaten. Supir tancap Gas, go ahead. Kami melaju dengan kecepatan 70-80 KM/Jam melewati perkampungan Topo menyusuri jalan terjal berbukit. Perjalan dari Nabire-Paniai kami tempuh dengan waktu 10 jam.
 
Di Kilo 19 tepat di samping kiri jalan, air terjun mengalir deras dari tebing gunung. Saya diberitahu oleh Supir, air terjun itu namanya air terjun kilo 19. Biasanya penumpang yang baru pertamakali ke tempat ini. Mereka akan turun dari mobil untuk ambil gambar. Memotret dan selfie, atau sekedar cuci muka. Saya pun turun dan mengabadikan moment. Memotret dan selfie bareng Simson dan Berto.
 
Sampai di Kilo 100 kami istirahat sejenak untuk makan. Kilo 100 adalah tempat persinggahan mobil lintas kabupaten sebelum melanjutkan lagi perjalanan. Rata-rata pemilik warung makan di kilo 100 adalah orang Jawa, Bugis dan Toraja.

Tak jauh dari kilo 100, persisnya saya lupa. Kami malapor di pos penjagaan TNI dan Pos Brimob. Setelah di periksa kami lanjutkan lagi perjalanan. Saat melintasi Moanemani Ibu Kota Kebupaten Dogiai, dan Waghete Ibu kota Deiai. Kami tabrakan hujan deras di jalanan. Jalan jadi becek, licin dan berbahya. Harus ekstra hati-hati. Sepanjang jalan Moanemani-Waghete. Mace-mace Papua berjualan di tepi jalan. Sayur, buah, udang, ikan, digelar begitu saja di atas tanah yang basah dan kecoklatan. Babi-babi besar dan kecil berkeliaran mencari makan.

Kami tiba di Enarotali Ibu Kota Paniai malam selepas magrib. Hujan baru saja pergi. Tanah basah, meninggalkan becek yang lengket di ban mobil. Kami melintasi pasar Enarotali, yang sudah sepi. Pasar itu tampak kusam, dan tidak teratur.

Kabupaten Dogiai, Deiai dan Paniai adalah daerah pegunungan tengah Papua yang dikelilingi danau besar dengan suhu udara 17 derajat celcius. Wilayah yang bergunung-gunung dengan kelembaban dan suhu udara yang relatif tinggi mengakibat tingkat curah hujan yang tinggi pula. Sebagian besar penduduk di tiga kabupaten itu berprofesi sebagai nelayan dan petani.

Komposisi Suku di Kabupaten Paniai yang mayoritas terdiri dari suku Mee, dan suku Moni. Sabagiannya lagi dari suku Dani. Sementara komposisi suku pendatang terdiri dari Toraja, Jawa, Buton, Bugis-Makassar dan Batak.

Kalau berada di dataran yang lebih tinggi. Melihat dari atas landscape Kota Enarotali, maka seolah letaknya berada di dalam kuali raksasa.

Pagi yang Dingin dan Indahnya Danau Paniai  


Seorang mama Enarotali bersama anaknya sedang menuju Danau, untuk menyuci pakaian. foto; Indra Talip

Kamis pagi yang dingin. Saya pergi melihat pasar Enarotali. Seterusnya memutar ke tempat berlabuhnya perahu nelayan, dan kapal motor yang melayani penumpang antar distrik di danau Paniai. Saya memerhatikan beberapa mama-mama Enarotali sedang memancing ikan, dan menangkap udang. Di tepiannya segerombolan anak-anak bermain saling kejar sambil tertawa lepas.

Danau Paniai awalnya dinamakan Wissel Meeren. Adalah nama seorang pilot berkembangsaan Belanda yang pertama kali menemukan danau ini. Luas danau Paniai sekira 14.500 hektar. Danau ini indah sekali, dikelilingi tebing bukit yang tinggi dan curam.

Saya menghabiskan waktu seharian di sini. Menjelang matahari pulang ke punggung bukit. Seorang nona Enarotali yang hitam manis dari pegunungan tengah Papua menghampiri saya, “selamat datang di Eropaniai. Semoga berkesan di hati Pace”. Saya baru Tahu, di sini orang-orang Enarotali menyebut Paniai dengan sebutan Eropaniai. Karena hamparan pegununuggan dan danaunya mirip dengan kawasan di Eropa.

Saya berguman dalam hati, Papua is masterpices of nature and im happy here.
 
Semoga Bermanfaat!!!

  • view 197