BERAPA POINKU, ALLAH?

Reni Indira Anggraeni
Karya Reni Indira Anggraeni Kategori Renungan
dipublikasikan 11 Oktober 2016
BERAPA POINKU, ALLAH?

Di jaman modern ini banyak hal yang dilakukan oleh retailer untuk menarik peminat, salah satunya dengan sistem  POIN,

 

Belanja sekian akan dapat poin sekian, yang bisa ditukarkan dengan barang tertentu atau diskon dengan poin sekian.

 

Poin keduniawian bisa mudah dihitung dan dicek setiap saat.Kalau kurang bisa ditambah dengan cara belanja lebih banyak.

 

Andai poin keakhiratan juga bisa dicek setiap saat, mungkin akan lebih mudah untuk kita mengukur kadar ibadah kita.

 

Tapi tidak, poin  keakhiratan tidak bisa dihitung bahkan TIDAK BOLEH dihitung-hitung, itu hak Allah, berapa besar poin yang akan Ia berikan, dan kita akan tahu nanti saat dikumpulkan di padang mahsyar.

 

Manusia lebih tertarik untuk mengumpulkan poin keduniawian dibandingkan poin keakhiratan.

Contoh saja di bulan Ramadhan perbandingan manusia yang mengejar poin di Mesjid masih kalah jauh dengan yang mengejar poin di pusat perbelanjaan.

Atau lebih senang shalat sendiri daripada jamaah padahal poinnya bisa lebih banyak.

Suka bingung aja, kalau belanja maunya poin bertambah banyak dengan cepat, tapi untuk poin ibadah cuek aja padahal kalau dapat poin banyak bekal ke akhirat pun akan bertambah pula.

 

 

Belum lagi kalau diiming-imingi penukaran poin.

Kadang saat ibadah kita rajin, kita merasa berhak meminta ini - itu, karena berharap poinnya bertambah banyak.

Kadang saat kita mulai malas ibadah, kita juga masih merasa poin kita masih cukup untuk minta ini - itu.

Tapi tidak begtu perhitunganya. Perhitungan keakhiratan tidak berupa 1 + 1 = 2, tapi bisa berapapun, bahkan NOL.  Sekali lagi tergantung Allah mau kasih kita poin berapa.

 

Sadar kalau saat Allah selamatkan dari kecelakaan motor 9 tahun  walau tempurung lutut harus geser, entah berapa poin keakhiratan yang melayang hilang. Akan bertambah atau makin berkurang tergantung saat menjalani rasa sakitnya, tetap bersyukur dan bersabar atau menghujat dan meratapi kesialan.

 

Sadar kalau saat hampir tertabrak truk yang melaju kencang, 12 tahun lalu di pinggir tol saat entah Malaikat apa yang menarik ke pinggir rerumputan, saat itulah juga Poin keakhiratan berkurang.

Ucapan syukur mungkin bisa menambahnya kembali, Insya Allah.

 

Sadar kalau hari ini benar - benar berharap belas kasihan Allah untuk membuka pintu rejekiNya yang tak kunjung datang, mungkin poin yang dibutuhkan masih kurang banyak, harus makin ditambah jam mengunjungi SANG BIG BOSS.

 

Maaf kalau penasaran untuk ingin 'mengintip' buku catatan poin, namanya manusia.

Kalau sudah banyak poinnya, mau segera ditukarkan dengan yang diinginkan.

Yah, anggaplah masih kurang banyaaaaaaaaaaaak poinku  untuk lepas dari masalah saat ini, mohon diberi waktu lebih banyak untuk mengejar poin keakhiratanku, agar bisa tetap ada saldonya untuk bekal di akhirat nanti sebelum habis di dunia.

 

Dan iijinkan untuk terus yakin : 

 

مَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (QS Al Zalzalah :8)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Aamiin.

  • view 221