Maaf, mba atau mas ...

Reni Indira Anggraeni
Karya Reni Indira Anggraeni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Agustus 2016
Maaf, mba atau mas ...

Maaf, mba atau mas yang telah datang untuk  jadwal interview, sebaiknya pulang aja, lebih baik menyisihkan waktu kalian untuk hal yang lebih penting, untuk menjadwalkan wawancara kerja di tempat lain yang lebih menghargai waktu kalian. 

 
Informasi diri dalam secarik kertas tentang kalian hanya menjadi bagian desahan nafas tanda tidak tercapainya kualifikasi rekan kerja (atau bawahan tepatnya) yang dibutuhkan.
 
Tatapan mata, gestur tubuh, tutur kata ga lagi dianggap penting dalam sebuah penerimaan teman 'sehidup sekantor.'
 
Lihat dulu fotonya, cantik, ok, buat jadwal interview.
Ganteng, boleh nih ... Kapan bisa interview?
 
Semua berawal dari tangkapan mata sekilas bukan telaah jiwa.
 
Untuk mba dan mas yang sejak pagi berdandan rapi, khusyuk berdoa mohon ridho orang tua hanya jadi penghias ruang meeting untuk beberapa jam ke depan, mungkin sedang menghitung jumlah keramik lantai, atau sedang merapal kata agar tidak terlupa saat terlontar pertanyaan dari sang tokoh penentu nasib kalian, atau sedang menghentak-hentakan pena di meja mengikuti detakan jantung diselimuti dinginnya ruangan. 
 
Entah kenapa di sini semangat itu hilang. Butuh tapi ga butuh, begitulah kiranya. Tim kerja berkurang, karena melirik tempat lain yang lebih menggiurkan penghasilan untuk menunjang gaya hidup. Warisan kerjaan dilimpahkan ke bawahan yang tersisa, tanpa ba bi bu, menumpuklah tugas dengan embel-embel sementara. Kestabilan goyah, megap-megap membagi otak, percuma mengeluh karena hanya akan dijawab 'belum ada kandidat baru'.
 
Dan sekarang setelah banyak mba-mba dan mas- mas keluar masuk ruang meeting menunggu bertemu dirimu 'penguasa waktu' dengan seenaknya dikau bermalas-malasan membaca riwayat hidup mereka yang berharap dapat melangsungkan hidup. Enggan mengangkat badanmu dari kursi empuk, sementara mba-mba dan mas-mas itu sejak subuh telah beranjak diri dari waktu istirahat mereka, berperang emosi di jalan, hanya untuk bisa bertemu denganmu.
 
Waktumu hanya akan sebentar, dan itu akan berpengaruh pada sebagian waktu hidupmu. Carilah yang menghargaimu, bukan yang membuatmu menunggu.
 
Saat ini menunggu dicecar pertanyaan, kemudian akan menunggu kepastian diterima atau tidaknya, selepas itu akan menunggu nasibmu diperpanjang dengan status kontrak atau tetap, belum berhenti, kamu akan menunggu kepastian kenaikan gaji yang tak seberapa dengan kenaikan biaya hidup di luar sana, menunggu diperhatikan oleh mereka-mereka yang hanya selintas mengganggapmu ada, menunggu jawaban kapan deritamu di sini akan berhenti.
 
Sudah cukup waktumu hari ini jangan teruskan, ini nasihatku yang dulu terjebak dengan senyum menghargai yang berubah seketika dengan tatapan merendahkan karena berkat dialah uang yang ada di rekeningku sekarang (padahal hanya sekedar lewat dan langsung habis membayar biaya hidup tak tersisa untuk gaya hidup).
 
Ya begitulah, pulanglah, jangan buang waktumu di sini.
 
Langkahkan kali lebih jauh untuk mendapatkan tempat yang lebih baik menghargaimu.
 
catatan harian : 16/08/16 11:22

  • view 184