Seharusnya Rasa

Firdhayan Indah
Karya Firdhayan Indah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 September 2016
Seharusnya Rasa

 

           Hari ini, 23 September bertepatan dengan hari ulang tahunku, aku menikah dengan seorang pria. Pria yang memiliihku untuk menjadi pendamping hidupnya, menjadi ibu untuk anak-anaknya. Terima kasih sayang. Akhirnya apa yang menjadi tujuan kita hari ini terlaksana, apa yang kita lakukan hari ini semoga di ridhai olehNya.

            Kini statusku pun berubah menjadi seorang istri. Dan pria yang duduk di sampingku kini ialah imamku dalam rumah tangga. Ia akan menjadi kepala keluarga untukku dan untuk anak-anakku kelak. Kami akan berlayar ke pulau kehidupan dengan menerima semua kekurangan dari masing-masing diri.

“ Apa kamu bahagia hari ini? ”

“ Tak ada perasaan lain selain rasa bahagia yang aku rasakan sayang “

“ Terima kasih, sayang. “ Dan satu kecupan manis dari pria yang telah menjadi halal di sampingku ini membuatku seperti wanita yang paling bahagia di dunia ini.

Yaa memang benar ini adalah awal dari semua. Pernikahan adalah awal untuk kami memulai berlayar. Pelayaran kami akan seperti apa kelak, aku dan dia yang menjalani. Pernikahan membuat kami menjadi lebih memaknai hidup, lebih mengerti alasan Tuhan menciptakan manusia namun kemudian ajal menjemputnya. Kami adalah anak adam dan hawa yang kemudian bersatu mengikuti sunnah.

            Hal yang membuatku lebih bahagia adalah aku tak perlu resah dengan rasa galau yang mendera anak remaja sekarang. Aku tak perlu menambah lagi daftar dosaku atas perasaanku sebagai manusia. Aku kini lebih menjaga diriku untuk suamiku. Banyak kewajiban dan tanggung jawab untuk menjadikanku sebagai manusia yang lebih bermanfaat, meski itu untuk keluargaku sendiri.

            Setelah seharian, dari siang hingga malam rentetan acara pernikahan itu pun selesai, betapa rasa lelah lebih senang berdiam dalam tubuhku. Aku dan suami memilih untuk beristirahat setelah semua rampung di kerjakan.

Beberapa bulan setelahnya, ada hal-hal yang tidak biasa aku rasakan dari dalam tubuhku, entah apa ini. Aku menceritakannya kepada suami, lantas ia lebih khawatir hingga aku di paksa ke dokter untuk memeriksa apa yang terjadi.

“ Sayang, kita harus ke dokter kali aja kamu kenapa-kenapa, sudah berapa kali kamu muntah-muntah seperti itu, “ katanya dengan ekspresi penuh kekhawatiran.

“ Gak usah yang, paling masuk angin aja kok. Besok juga udah baikan, tadi cuma bingung aja salah makan atau apa, “ sahutku mencoba menenangkan.

“ Kebiasaan kamu, udah muka lemes kayak gitu masih aja di bilang gak kenapa-kenapa “

Aku tertawa kecil menanggapinya. Suamiku ini khawatirnya sudah melebihi ibuku kalau aku lagi sakit begini, gumamku.

“ Kamu jangan ketawa gitu. Aku khawatir tau. Atau jangan-jangan, kamu mual-mual itu gejala dari?? “ tiba-tiba ia ingat sesuatu, seperti mendapatkan pencerahan, hihihi lucu aja liat ekspresinya.

“ Jangan- jangan apa?hamil? “

“ Iya, jangan-jangan kamu hamil. “

“ Enggak tau sih yang, tapi bulan lalu aku dapet tamu bulanan kok. “

“ Gitu yaa, kamu salah makan kali ya? “ ada sedikit raut kekecewaan dari dia setelah itu, tapi gak apa-apa kok kita manusia memang hanya berencana Tuhan yang bakal menentukan.

“ Iya, kamu istirahat aja. Besok aku bakal periksa ke dokter kok. “ Aku mencoba menghibur dengan mengikuti kemauannya periksa ke dokter. Semua pasangan pengantin baru pasti menanti keturunan dari rahim istrinya, tidak terkecuali kami.

            Keeseokannya, setelah suami berangkat kerja aku coba periksa ke dokter mengingat tadi pagi sebelum sarapan aku mual-mual lagi. Sedikit membosankan sih ke dokter menunggu antrian gini buat periksa. Tapi dari pada terus-terusan gak enak badan gini buat gak nyaman. Sekitar 15 menit, akhirnya namaku di panggil suster yang keluar dari balik pintu ruangan si dokter. Meski sebenarnya aku gak suka-suka banget ketemu dokter tapi toh tetap butuh dokter juga,hehehehe. Dokternya cewek dan ramah jadi aku nyaman menceritakan keluhanku.

            Semua selesai di periksa, dokkter akhirnya menyampaikan bahwa memang aku sedang hamil 1 bulan. Tadi memang sempat aku bilang ke dokter soal dugaanku kalau aku hamil, tapi gak begitu yakin takut sedikit kecewa. Dokternya malah senyum-senyum dan ngasih selamat sama aku sebagai calon ibu. Alhamdulillah akhirnya ini jadi kabar bahagia untuk aku dan suami.

            Suami pulang kerja seperti biasa, tak mau terlalu terburu-buru memberitahunya. Aku biarkan ia dengan aktivitasnya di rumah.

“ Yang, kamu tadi ke dokter kan? Dokter bilang apa? “ tiba-tiba ia bertanya di sela-selanya menonton film favoritnya.

“ Beneran mau tau dokter bilang apa? “

“ Gak lucu aah, kamu sehat kan? Gak kenapa-kenapa kan? “

Dan lagi aku tertawa kecil melihat ia khawatir seperti itu. “ Alhamdulillah sayang aku sehat kok. Cuma sekarang nih di dalam perut aku ada dedenya. “

“ Kamu hamil? Alhamdulillah terima kasih ya Allah,” satu kecupan manis untukku sebagai tanda kebahagian suamiku, “ semoga kamu sehat terus ya sayang, “ sahutnya sambil memelukku.

Ya Allah terima kasih atas semua kebaikan yang telah engkau berikan, semoga ujian kebahagiaan keluarga kecilku ini menjadi penambah kasih sayang aku kepada suami, begitupun sebaliknya. Menjadi teladan yang baik untuk anak-anak. Semoga kita bisa sehidup sesurga ya sayang, insya Allah.

Pernikahan, menurut kami adalah jalan untuk menyempurnakan mimpi-mimpi tentang hidup. Kami mungkin tak sesempurna lukisan seorang seniman di atas kanvasnya, tapi kami membuatnya terlihat indah bukan di mata manusia, melainkan di mata Tuhan.

  • view 226