Kapan Nikah??

Indah Suryani
Karya Indah Suryani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Maret 2016
Kapan Nikah??

?Kapan nikah??

Pertanyaan itu sering terlontar ketika ada saudara, teman sebaya atau bahkan lebih muda dari kita menikah. Sejatinya menikah itu jodoh yang dirahasiakan Tuhan, seperti yang saya kutip dari seorang penulis bahwa yang namanya rahasia Tuhan, manusia pasti tidak akan pernah tahu. Kenapa pertanyaan ini menjadi begitu sensitif untuk beberapa orang? Tentu saja, di lingkungan kita?saya?mungkin usia 28 (lebih) tahun seorang perempuan (dianggap) sudah siap menikah. Padahal?menurut saya?pernikahan itu lebih pada soal kedewasaan. Umur boleh angka besar dan banyak, tapi soal pemikiran, siapa yang bisa menjamin?

Bagi saya menikah tidak seperti balap karung. Lomba siapa yang harus sampai garis finish lebih dulu. Start anda juga penting. pun begitu, bukan berarti saya juga tidak ingin menikah, munafik kalau saya mengatakan saya tidak ingin menikah. Tapi kembali lagi, ini soal ketetapan hati, setiap orang pasti berbeda (cari alasannya).

Saya belajar banyak dari melihat lingkungan sekitar saya, kawan-kawan saya yang menikah muda atau bahkan adik-adik saya yang ?terpaksa? menikah akibat tak tahan godaan asmara.

Ada dari mereka yang bahkan masih berusia dibawah 17 tahun ketika menikah. Sungguh, lingkungan kita?saya?kini cukup mengkhawatirkan. Adakah yang salah dari lingkungan kita? Saya sering bertanya kenapa anak-anak semuda itu memutuskan untuk, ya saya akan menikah, tapi kemudian muncul fenomena?hamil duluan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa pernikahan tidak seperti apa yang saya pikirkan tentang ?pernikahan? itu sendiri. Tentu saja saya menghormati mereka yang memilih menjalankan perjodohan seperti orang tua dulu, saya juga menghormati orang yang memilih untuk saling mengenal terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk kemudian mengatakan ?ya, saya akan menikah?.

Hal-hal yang sudah direncanakan saja bisa gagal, apalagi untuk anak-anak muda yang ?terpaksa? dinikahkan. Banyak dari mereka menyesal kehilangan masa muda untuk bergaul, bermain, hura-hura dan bercanda dengan kawan sebaya. Mereka kemudian harus masuk dalam kondisi yang mungkin mereka tak pernah membayangkan sebelumnya, rumah tangga. Ada yang kemudian pulang ke rumah orang tua karena ribut dengan suami yang sebenarnya diakibatkan masalah sepele. Yah, maklum saja mereka masih anak-anak. Mungkin mereka belum banyak belajar tentang manajemen krisis, mereka diharapkan untuk learning by doing diwaktu yang?mungkin?belum saatnya mereka hadapi. Lalu apakah yang ada dalam benak mereka tentang pernikahan? Apakah sama dengan yang saya pikirkan? Entahlah.

Kemudian ada kawan-kawan saya yang memutuskan menikah muda di usia mereka yang masih 20an. Mereka tentu merencanakan, ada yang sudah pacaran sejak SMA. Mereka tentu ingin menikah, menjadikan hubungan yang halal dimata TUHAN dan diakui oleh negara. Mereka berpikir mau mencari apa lagi, lelaki sudah mapan, perempuan sudah siap. Mereka ?mungkin hanya?akan kehilangan masa muda hura-hura dengan merawat bayi, atau mereka bisa menikmati hura-hura dalam keluarganya.

Masalah tentu saja ada dalam pernikahan mereka. Usia muda dianggap masih labil, kedewasaan yang belum matang?sekali lagi ini bukan soal usia, ada yang kemudian masih bertingkah seperti bocah. Lelaki yang seharusnya menanggung hidup perempuan?istri?dan juga anak terkadang masih asik nongkrong dengan teman-teman sebaya mereka sepulang kerja. Keributan berakhir di awang-awang tanpa penyelesaian karena susah untuk mengalah. Masalah kian bertumpuk karena yang satu menyembunyikan pekatnya dari yang lain hingga semua membuncah dan meledak di satu waktu. Mereka yang sanggup menyelesaikannya mungkin menjadi lebih kuat dan lebih dewasa, tapi bagi yang tidak mampu? Mereka semakin linglung, mungkin merasa malu dengan keputusannya, mungkin bingung harus bertanya pada siapa. Apakah esensi sebuah ?pernikahan? bagi mereka?

Menikah, menjadi sebuah kata yang begitu sensitif untuk beberapa orang. Pernikahan itu akan menjadi sangat berbeda untuk setiap individu. Bagi saya pernikahan itu luar biasa indah, sesuatu yang harus dipikirkan dengan masak, baik dengan siapa dan akan menjadi apa kehidupan pernikahan itu.

Karena menikah itu ketika anda telah siap untuk mencintai, untuk jatuh cinta kepada orang yang sama untuk berkali-kali dalam waktu yang lama. Seumur hidup anda.

Mungkin akan membosankan, tapi anda harus tahu bagaimana untuk menghidupkan kembali perasaan itu. Ketika telah memutuskan, ?ya, saya akan menikah? anda akan berhadapan dengan kondisi baru, dua kepala yang berbeda isinya, dua sifat yang mungkin mirip atau justru berkebalikan. Anda akan mulai?harus?menanyakan kesiapan membangun manusia-manusia baru?anak-anak anda?yang tentu saja menjadi tanggung jawab kalian berdua.

Pernikahan itu ibadah dengan esensi keagamaan, sosial sekaligus privat


  • Indah Suryani
    Indah Suryani
    1 tahun yang lalu.
    sip. karena pengenya cuma sekali kan ya

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    yap, jatuh cinta berkali-kali selama seumur hidup. hal yang pertama jadi pertimbangan, sebelum Agama. kalo akusih. soalnya aku takut malah jadi gak bisa berbakti kalo gak ada sedikit rasa.