Tuhan Yang Mana?

Indah Suryani
Karya Indah Suryani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Maret 2016
Tuhan Yang Mana?

Malam yang yang terang bersama bulan hampir penuh berkawan bintang-bintang kerlap-kerlip. Kami duduk bersampingan di depan teras rumah sederhanaku. Kami kehilangan kata-kata setelah sekian lama memperdebatkan hal yang sama, berkali-kali mencari jalan dari kerumitan ini dan berkali-kali terhenti di ujung yang sama. Sepertinya malam yang baik ini semuanya akan menemukan solusi sehingga kami tak perlu menarik urat leher untuk berargumen, untuk sekedar menemukan titik temu dari tujuan kami. Tentang cara kami memahami, mencintai.

?Maafkan aku Cah ayu, bukan maksud hati mengakhiri semua seperti ini. Engkau tentu tau betapa Kangmas juga telah berusaha semampu Kangmas untuk meyakinkan kedua orang tua. Meyakinkan diri kita sendiri juga tentunya.?

Lelaki muda itu seperti tak sanggup untuk menatap kedalam mataku, bahkan ia terus tertunduk. Wajahnya yang selalu cerah kini pudar dengan pucat kekhawatiran. Aku hanya melirik ke arahnya, tak sanggup berkata-kata untuk sekian lama. Entahlah, aku tak tau kemana dan berapa lama lagi waktu mampu berlalu dalam kebekuanku.

Air mataku menetes, kemudian mengalir membanjir dipipiku. Aku tak sanggup lagi menahannya. Tangis ini mungkin menjelaskan apa yang tak bisa kukatakan. Lelaki muda itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, menghampiriku. Ia bersimpuh di depanku, ia memelukku. Ia terdiam, tak ada kata-kata, tak ada tatap mata, hanya sebuah pelukan.

?Jangan menangis cah ayu. Jangan kau buat aku makin merana. Sudah, hentikan tangismu,? ia berbisik ke telingaku dengan lembut.

Tangisku belum berhenti. Aku belum sanggup berkata-kata. Ia kemudian menegkkan tubuhnya. Masih bertekuk di lututnya, kini ia memandang kewajahku. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Lelaki tidak menangis, mungkin seperti itu. Aku masih saja sesenggukan, ia kemudian tersenyum, menyeka air mata yang terus meluncur dipipiku.

Aku terus mengingat-ingat pertama kali kami bertemu, apa saja yang selalu kami bicarakan, apa yang sering kami lakukan bersama, tentang mimpi-mimpi kami, tentang apa yang kami inginkan. Bayangan-bayangan it uterus saja berkelebat dikepalaku, seolah mereka pun tak ingin berakhir. Mereka, seperti aku, mungkin juga seperti kangmas, kami tak tahu apa yang bias kami lakukan lagi. Kami pikir kami telah melakukan segalanya untuk memperjuangkan penyatuan hati kami. Kami telah berusaha merangkai simpul-simpul perbedaan yang memperindah jalinan kasih kami. Pada akhirnya tidak semua hal akan seindah yang kami inginkan, bahkan cinta pun tak sanggup lagi menjembatani perbedaan ini.

?Kangmas, bukankah Tuhan itu penuh kasih. Tidak ada yang tidak bias dilakukan oleh Tuhan kan?? kata-kata itu keluar dari bibirku yang terus bergetar menahan tangis.

Senyum lelaki itu mengembang. Bukan untuk menunjukkan suasana hati yang membaik, itu hanya sekedar untuk menenagkankau. Tanganya kemuia meraih tanganku. Menggenggamnya erat, seperti tak hendak dilepas. Mata kami bertemu. Sendu.

?Cah ayu, aku tentu meminta pada Tuhan dalam setiap do?a, dan aku yakin kau juga begitu. Tapi Cah ayu, terkadang Kangmas juga ragu apakah kita meminta pada Tuhan yang sama.? Mulutnya kemudian terkatup lama.

Aku mencermati kata-katanya, berusaha menemukan maknanya. Aku mungkin tersesat dalam pencarian itu, atau aku memang terhenti. Aku tak ingin mencari. Yah, benar. Apakah kami meminta pada Tuhan yang sama? Bukankah karena cara kami memaknai Tuhan, cara kami mencintai Tuhan yang membedakan kami? Dan perbedaan ini yang tak kami temui penyatuaanya. Hingga kini.

Rasanya aku ingin tertawa saja. Tuhan kami itu, memisahkan kami juga. Dan kalau Tuhan berkehendak, kami ini, manusia-manusia yang tak mungkin menghindari takdir-Nya.

Pembicaraan-pembicaraan ini tak pernah menemui akhir. Selalu berhenti di titik ini, berkali-kali, berputar-putar, jalan buntu. Seperti mimpi, kami ingat sepotong-sepotong dan lupa sebagian. Ternyata perbedaan yang indah itu tak selalu menyatukan, terkadang ia benar-benar memisahkan, menciptakan jurang, meluaskan samudra dan jarak.

Dan pembicaraan ini hanya sampai disini, kami mungkin menyerah kali ini, dan Tuhan, maafkan kami. Maafkan kami untuk beberapa kali menafikan-Mu. Maafkan kami Tuhan.

?Cah ayu, aku akan tetap setia pada Tuhanku, dan kau teruslah mencintai Tuhanmu. Kita tak harus menyatukan hati kepada Tuhan yang sama penyebutannya, sama cara mencintainya, dan sama menujunya. Aku tahu Cah ayu, Tuhan kita itu baik.? Itu kata-kata terakhirnya untuk menutup perbincangan malam kami. Dan kami tak hendak bertanya mengapa kami berbeda dan tentang Tuhan kami, biarlah kami belajar terus memahami.

?

foto: http://br3nna.deviantart.com/art/the-stars-in-the-sky-305211028

  • view 170