Perempuan Di Balik Jendela

Indah Suryani
Karya Indah Suryani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Maret 2016
Perempuan Di Balik Jendela

?Kamu bukan Maryam!? setengah berbisik tapi dengan tatapan tajam.
?Setiap anak ada Bapaknya! Siapa?! Jangan diam saja, kau jangan mau dipermainkan lelaki,? ia terus menambahi. Seperti drama monolog dengan dua pemain.

Aku memandangi wajah perempuan itu, menangislah dia menatap keluar jendela, dari mulutnya terus tergumam. Ali, ibu kangen. Aku tak habis pikir ada apa dengan perempuan itu. Aku merasa mengenalnya sekian lama, tapi hari ini aku melihat seseorang yang berbeda. Rapuh dan hampir hancur. Aku mencoba mendekatkan posisi dudukku denganya. Mencoba melihat ke arah yang sama. Ke luar jendela, hanya langit biru dan awan tipis yang berarak pelan. Aku diam mendengarkan ia menggumamkan sebuah nama terus menerus. Menangis, dan kembali menggumam seolah dengan begitu akan membuat yang disebut akan datang ke pangkuanya.
Sekelompok anak-anak melintas, memandangi kami dari jendela Sambil berbisik-bisik kemudian tertawa geli. Aku tersenyum, kecut.

?Apa aku terlihat gila?? Bisiknya sontak mengagetkanku.

Aku terdiam, bingung harus mencari segerombolan kata yang pas. Tak berhasil. Aku tetap diam.

?Aku hanya mau Ali, anakku. Aku tak peduli dengan selainya. Ambilah apa saja, tapi bukan anakku,? ia kembali menitikkan air mata.

Lalu hening. Lelaki yang sedari tadi duduk bersama kami pun mungkin sudah muak, kemudian ia segera pergi meninggalkan kami dalam bilik berjendela jeruji. Aku dan perempuan ini, tak saling menatap tapi melihat ke arah yang sama hening tanpa suara. Takzim.

?Aku akan membunuhnya!? Tiba-tiba ia berbisik kepadaku.

?Ya, aku akan membunuhnya ndah. Kau harus membantuku. Aku akan membunuhnya dan membawa kembali Ali ku.? Tawanya pelan tapi menakutkanku.

Aku hanya menelan ludah. Siapa yang harus kami bunuh? Ali itu tak pernah ada. Bagaimana kami harus meyakinkan perempuan itu?? Itu semua hanya mimpinya, yang hancur. Perempuan itu harus tau.

Aku tak berani menatapnya, tatapan matanya sungguh menakutkanku.

Pada malam itu aku tidur menyamping menghadap sebuah almari dengan cermin besar, aku menatap perempuan itu melalui cermin almari. Aku diam saja, terlalu takut aku memejamkan mata. Tapi tak sanggup tertidur, kemudian aku dan perempuan itu saling menatap lewat cermin.

?Aku harus membunuhnya ndah,? berkata perempuan itu sambil menatapku melalui cermin.

Pikiranku tak karuan, tak tahu harus melakukan apa.

?Kau tahu rasanya dikhianati Ndah? Kamu ingat dia sudah berjanji, tapi apa? Dia terus saja mencari alasan, bahkan sekarang menghilang membawa Ali. Satu-satunya yang ku milikki, Ali!? suaranya pelan tapi dengan emosi yang aku tahu sangat tertekan.

Aku menatap mata perempuan itu melalui cermin, penuh kemarahan. Ya, sebuah kebencian yang terlahir dari rasa cinta yang terlalu dalam. Tapi aku tahu betul perempuan itu tak bisa benar-benar membeci lelaki itu, lelaki yang dibaginya mimpinya, satu-satunya mimpinya dan kemudian hilang membawa serta mimpinya itu. Ali.

?Ndah, apa kau bisa hidup bahagia tanpa mimpi? Hidup macam apa yang akan kau punya? Raga tak berjiwa?? perempuan itu kembali berbisik.

Tentu saja aku bisa hidup tanpa mimpi, aku bisa menjadi bagian dari mimpi-mimpi orang lain, membesarkan mimpi mereka, dan mungkin akan ada orang baik yang akan bersedia membagi mimpinya denganku, seperti perempuan itu yang telah membai mimpinya pada lelaki itu. meski kemudian entah bagaimana nasib impian itu, Ali. Ah, Ali, impian besar perempuan itu yang disimpanya rapat sejak dulu dalam hati, setelah berani membuka hati tapi dikecewakan lagi. Malang benar nasibmu. Aku hampir tak percaya, selama ini perempuan itu adalah orang yang paling rasional, bahkan ketika aku terlalu terbawa emosi perempuan itu akan mengingatkan. Sebelumnya perempuan itu adalah orang yang hampir tak pernah menangis dihadapan orang lain, terlihat kuat dan selalu membawa bahagia, dia adalah perempuan yang tak pernah takut memaki diri sendiri. Kini perempuan itu adalah orang yang berbeda. Tapi aku tak pernah berani menyanggahnya. Aku terlalu takut.

Ah, dulu perempuan itu begitu girangnya hanya dengan nonton sepak bola dilayar kaca, memaki pemain yang bermain seadanya, sampai guyonan sarkastik yang kadang sangat intelegensia. Aku kagum dengan perempuan itu, sebelumnya. Tapi kini perempuan itu seperti raga dengan nyawa tapi tanpa jiwa, kalau tidak menangis dia mengeluh, atau sakit dan harus dibawa ke dokter. Aku ingat sekali, sebelumnya ia seperti kembang api. Cahayanya meledak tinggi ke langit, membahagiakan yang melihat. Kini ia berbeda. Tapi aku seperti tak bisa apa-apa.

?Hanya kau yang bisa melakukanya Ndah, kau harus membantuku. Tolonglah aku,? tatapanya memelas. Aku harus kuat.

Aku berpikir keras, aku lihat betapa perempuan itu menderita. Menunggu setiap hari dibalik jendela, menunggu yang mungkin tidak datang. Aku tau pasti sangat sakit rasanya mempercayai sesuatu yang pada akhirnya tidak benar-benar ada, bahkan orang-orang menyebut perempuan itu gila. Gila, kasihan sekali bukan?

Perempuan itu hanya akan menjadi luka bagiku, aku harus membunuhnya. Aku tak perlu mencari lelaki itu dan membunuhnya kemudian mengambil Ali, itu mungkin tidak berhasil, dan tentu aku akan jadi penjahat. Lebih baik kubunuh perempuan itu dan semuanya selesai. Aku tenang dan lelaki itu bisa bebas, walaupun aku tak tahu bagaimana nasib Ali nantinya. Apakah aku bisa kembali menemukanya, atau mugkin lelaki itu akan menjaga Ali dengan baik. Aku harus melepaskanya, bagaimanapun caranya.

Aku menunggu hingga senyap, hingga perempuan itu tidak bersuara. Lalu aku membunuhnya. Ya, aku membunuhnya.

-

Aku terbangun dengan diriku sendiri, perempuan itu telah mati.

Aku keluar dari kamarku, menyapa kakak lelakiku. Ia sepertinya kaget melihatku, tersenyum.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan Redaksi: Tulisan yang berhasil membawa suasana cukup "mencekam" ke pembaca berkat teknik penuturan yang sangat personal. Emosi masing-masing karakter pun bisa terbangun dengan baik. Jalan cerita sangat tragis dan menarik yakni tentang perubahan kepribadian wanita yang sangat drastis menjadi manusia rapuh setelah merasa kehilangan mimpi terbesarnya. Ia pun dikuasai amarah dan dendam lalu mulai kewalahan mengendalikannya. Akibatnya, temannya pun tak mau direpotkan dengan misi balas dendam wanita itu lalu memilih mengakhiri penderitaan perempuan tersebut untuk selamanya.

  • salwa faeha
    salwa faeha
    1 tahun yang lalu.
    Bagus

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    1 tahun yang lalu.
    Penggambaran karakter pemainnya keren.

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Betul, ada beberapa typo dan mispelling... mulai dari judulnya: dibalik => di balik

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Ceritanya bagus mbak .... Cuma saya melihat ada beberapa typo, mungkin karena kurang teliti pas nulisnya ya, hehe ... Diksi-diksinya keren, bikin cerita jadi menarik dibaca, hanya saja ending ceritanya saya kurang paham, mungkin otak saya sedang ngadat. Hehe ...