Perempuan dan Sukses

Indah Suryani
Karya Indah Suryani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Februari 2016
Perempuan dan Sukses

Ukuran sukses pasti berbeda bagi setiap orang, harta, kebahagiaan, kepuasan, kekuasaan atau apapun itu. Pun demikian bagi perempuan

Mandiri secara finansial, tentu bukan sebuah ukuran mutlak kesuksesan, tapi siapa yang tidak mau punya banyak uang? Yang dengan itu kita bisa mendapatkan barang-barang yang kita inginkan, bepergian ke temapat yang kita impikan, mendaatkan perhatian dari orang-orang tertentu, bahkan mungkin mendapatkan cinta.

Saya tidak akan munafik dengan mengatakan saya sama sekali tidak membutuhkan uang untuk bisa bahagia. Suatu kali heboh tetang kerudung halal, saya juga terusik tulisan seorang kawan tentang itu. tapi sekali lagi, halal bendanya belum tentu tetap halal ketika haram cara mendapatkanya. Saya sempat tertatrik dan menilisik, bukan tentang halal-haramnya (itu bukan kuasa saya) tapi tentang produknya (termakan propaganda iklan). Sialnya, saya hampir syok melihat label harganya. Beuhhh!! Mahal banget yak!

Kejadian itulah yang kemudian sedikit meruwetkan pikiran saya tentang sukses. Betapa ketika saya menjadi perempuan sukses? Karir yang bagus dan punya banyak uang sehingga saya tidak perlu syok melihat label harga pada kerudung halal itu. bukankah itu teramat menyenangkan?? Sukses itu ketika punya banyak uang?

Suatu sore ketika berkunjung ke rumah kawan, berceritalah ia tentang seorang perempuan yang aku kenal. Perempuan dengan karir yang sukses, suami yang luar biasa, yang selalu kubicarakan hebat karena kesuksesan mereka berumah tangga hampir 11 tahun ini. Ya usia mereka tak jauh denganku, tentu terlihat seperti kejomplangan luar biasa kalau aku saling membandingkan. Tapi apa yang perempuan sukses ini tangiskan kepada kawanku? Untuk apa mereka sukses punya harta berlimpah tapi tak juga dikaruniai anak, akan diberikan pada siapa warisan mereka kelak? Sukses itu ketika memiliki anak?

Beberapa hari yang lalu membaca share seorang teman yang bercerita tentang istrinya yang ingin bekerja. Suami yang berkeras bekerja meminta istri di rumah merawat putra-putri mereka yang masih batita. Namun sang istri merasa perlu baginya untuk kembali bekerja untuk meningkatkan penghasilan keluarga. Suami tidak menolak istri bekerja, asal tidak meninggalkan rumah dan tetap bisa mengawasi putra-putrinya. Suami bersedia mencarikan modal untuk membuka bisnis kecil atau sekedar jualan online, tapi istri merasa bakatnya bukan disana. Ia seorang karyawati tegasnya. Ia ingin sekali keluarganya mapan dan bisa menabung lebih banyak. Sukses itu ketika penghasilan meningkat?

Sering terdengar tentang para perempuan sukses dengan harta berlimpah namun tetap sendiri, aku mengenal beberapa diantaranya. Mereka mungkin menjadi sedikit pemilih di awal, mempertimbangkan lebih banyak hal, standar yang mungkin lebih tinggi, tapi bukan berarti mereka juga tidak ingin menikah dan melanjutkan keturunan. Sukses itu ketika bisa berkeluarga?

Sekian kali berbincang dengan perempuan pebisnis yang sukses luar biasa, sehingga ketika mau ketemu saja harus mengagendakan di sela-sela rapatnya. Dan lucunya setiap kali bertemu selalu mengeluhkan jadwal yang padat, tak bisa fokus mengurus anak, dan sering berucap seandainya kita tidak harus bekerja tapi tetap punya banyak uang.

Hahaha... tawa itu hanya kami simpan dalam hati, sedikit senyumnya terlintas sebelum menempelkan cangkir kopi ke mulutnya.

Pun aku pernah menyaksikan perempuan yang terlihat bahagia merawat putra-putrinya di rumah, memasak untuk suami dan mertuanya. Ah, tapi suaminya lelaki yang pekerja keras bisa mencukupi semuanya. Pikirku.

?

Ini bukan tentang apa yang lebih baik, mungkin ini tentang sebuah pelajaran syukur yang harus kembali aku baca dan mengerti. Setiap kita memiliki ukuran masing-masing, yang mungkin tak sama, tapi bukan berarti tidak bisa bersama.

?

foto diambil disini: http://cdn.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2014/09/11/4812/664xauto-dua-kiat-menjadi-pengusaha-perempuan-yang-sukses-1409119.jpg

  • view 149