Matahari, Rumput, dan Cawan-cawan

Indah Suryani
Karya Indah Suryani Kategori Puisi
dipublikasikan 26 Februari 2016
Matahari, Rumput, dan Cawan-cawan

Matahari waktu malam, seperti kabut abu-abu dan lelah seperti aku. Matahari waktu malam, bersembunyi dibalik bulan dan bumi. Matahari waktu malam, terengah-engah menanti pagi. Seperti aku, bersembunyi dalam ketakukan menunggu hidup memberi kesempatan, kesempatan yang sama yang dimilikinya untuk dicintai.

Matahari waktu pagi, seperti lampu neon berpendar-pendar di malam tahun baru. Seperti aku menemukan warna dalam wajahmu yang kaku. Matahari waktu pagi, hangat tak menyengat, seperti inginku hatimu menjadi. Matahari waktu pagi, menyembul di ufuk timur, malu-malu mengintip dalam embun. Seperti aku yang tak tau bagaimana harus mengungkapkan rasa padanya.

Matahari waktu siang, seperti matahari. Panas, menyengat, membakar kulit. Seperti dirinya. Seperti caranya melihatku.

Matahari waktu senja, indah. Menyemburatkan jingga dan nila, bukan kuning yang panas. Seperti dirinya. Itu saja.

?

Rumput, hijau, ungu, kuning. Ia harus merunduk ditiup angin, ia harus memutar badan untuk mendapat cahaya matahari, ia harus kering terpapar panas matahari, lalu ia mesti tumbuh lagi karena hujan. Suatu saat ia pun harus mati. Seperti perasaanku.

?

Cawan-cawan menyimpan hujan, menampung air dalam gelembung-gelembung awan. Cawan-cawan menumpahkan air ke bumi, menyirami rumput yang hampir mati, menyirami rumput yang sudah mati. Cawan-cawan mengingatkanku pada seseorang. Bukan dirinya.

?

Matahari, rumput, dan cawan-cawan. Dirinya, diriku, dan orang lain.

?

  • view 94