Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 19 Februari 2018   01:19 WIB
Isyarat Rasa

Senja yang jingga di sebuah taman publik yang penuh dengan anak-anak berlarian kesana kemari, memenuhi berbagai mainan di area yang tak terlalu luas itu. Aku duduk termenung di sebuah saung, memandangi dua orang yang tampak sumringah dengan senyum dan tawa-tawa kecil yang terurai. Gerakan tangan mereka menjadi obrolan yang sedikit sekali kupahami, tapi aku seolah ikut merasakan hangatnya hati kedua insan itu. Arya dan Mia, ya, mereka kawan-kawan baruku.
Mia menoleh ke arahku, sambil memberikan isyarat gerakan tangan pada Arya. Aku mengangguk saja sambil tersenyum membalas senyuman mereka. Mia melambaikan tanganya ke arahku, memintaku mendekat. Aku lalu menemui mereka di sebuah gedung serbaguna terbuka tanpa pintu, seperti joglo berdinding tidak sempurna. Aku disambut senyum hangat dan tangkupan kedua telapak tangan di depan dada, aku membalas dengan gerakan serupa.
Mia menyebutkan nama Arya kepadaku, yang sebelumnya aku sudah tahu dari Mia, lalu Mia membuat gerakan jemari kepada Arya, Mia mengeja namaku. Arya mengangguk-angguk sambil tersenyum ramah. Syukurlah. Arya kemudian mengajak kami menuju sebuah sudut pada bangunan itu, Mia lalu membuat gerakan-gerakan dengan tanganya kepada Arya, entah apa yang mereka bahasakan, mereka kemudian mengangguk-angguk dan saling melempar senyum sambil Mia melangkah meninggalkan kami berdua.
Arya kemudian tersenyum padaku, kemudian mulai membuat gerakan-gerakan dengan tanganya, isyarat, dengan itu aku akan mendengarnya, begitu kata Mia. Arya mengulang beberapa gerakan yang kemudian aku pahami sebagai alfabet. Aku menebaknya, dan Arya mengerti bahasa bibirku, ia mengangguk-angguk dengan cepat dan senyum yang jenaka. Aku pun tak kalah senang, seperti baru berhasil naik sepeda untuk pertama kalinya. Arya membuat sebuah gerakan, isyarat agar aku mengikuti gerakanya sambil mengeja setiap hurufnya, a, b, c, d,e ,f, g dan seterusnya. Sore itu aku mengulang gerakan-gerakan itu selama hampir setengah jam, aku mulai terbiasa tapi tentu saja belum bisa secepat Arya melakukanya. Akhirnya aku berhasil mengeja nama dan alamat rumah. Entah kenapa aku merasa sangat bahagia dengan itu.
Adzan maghrib berkumandang, Arya lalu membat sebuah gerakan lagi dengan tanganya yang belum kupahami. Aku hanya memandanginya sambil bertanya-tanya apa gerangan maksudnya. Ia kemudian tertawa seperti memahami kebingunganku dan merasa lucu dengan itu. Aku hanya terdiam dengan menampakkan mimik muka kekesalanku.
Sejak hari itu, aku selalu menantikan pertemuanku kembali dengan Arya. Bukan sebuah pertemuan karena rindu, cinta perempuan dan lelaki, tapi rindu sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Rindu melihat gerak tangan dan memahami bahasa baru, rindu bagamana mendengar dunia dengan cara yang lainya.
Seminggu berlalu, dan aku kembali mendatangi tempat itu, dan kali ini aku merasa sangat bersemangat karena disana tidak hanya ada Mia dan Arya tapi juga beberapa teman lainya. Ya mereka akan mengajarkanku bagaimana mendengar dunia mereka. Cara mendengar dunia yang sepenuhnya baru, yang belum kupahami tapi sangat ingin aku mengerti. Hari itu Mia menemaniku belajar, mungkin karena pertemuan inggu lalu dimana aku sangat kesal dan benar-benar menunjukkan wajah yang kusut pada Arya.
Hari ini belajar aku beberapa kosa kata baru dengan teman-teman baru, Bima, Della, Egin, Erfan, Jordan, Puput, Hiskia, Andi, dan beberapa teman Tuli yang lain. Ya, Tuli, mereka lebih memilih dipanggil Tuli daripada tuna rungu yang selama hidupku diajarkan menjadi sebutan yang lebih sopan dan formal, tapi teryata tidak bagi mereka. Tuna rungu mereka maknai sebagai suatu ketidakbisaan untuk mendengar, untuk berkomunikasi. Bagi mereka Tuli lebih mewakili kesetaraan, bahwa mereka tetap bisa berkomunikasi dengan bahasa visual bukan audio seperti kebanyakan orang. Ini pelajaran hebatku minggu ini.
Lalu aku mulai menunggu perjumpaan kembali dengan mereka, seperti ada buncah gembira melihat mereka bercanda. Rindu, bukan kepada siapa tapi lebih kepada apa. Apa yang menghidupkan kembali jiwaku. Bahwa ada banyak cara untuk mendengar dunia, bahkan hanya melalui gerakan dua tanganmu pun menjadi sebuah suara merdu.
Dan gadis itu, Mia dengan tatapan lembutnya pada Arya, senyum hangantnya, kau akan tahu bahwa dia mencintainya, pun Arya. Mereka serupa dalam rasa. Ketika Arya membaca gerak bibirnya, ketika Mia mengagumi isyarat tangannya. Lalu mereka menderaikan tawa yang entah apa maknanya, yang kemudian ditutup dengan tatapan lekat yang menghentikan tawa. Menelan ludah, menundukkan kepala dan tetiba merasa canggung satu sama lainya.
Kemudian aku pun mereka-reka apa maknanya. Tidak ada yang kurang atau lebih ketika melihat keduanya.

****

“Bapak Ibuk punya pandangan berbeda tentag Arya, Mba,” Begitu kata Mia.
Aku jelas langsung memahaminya. Bahwa cara kita mendengar dunia, cara kita menyapa, cara kita bercerita tak selalu dengan telinga dan  mulut, bahkan Tuhan sudah mengisyaratkan bahwa ada saatnya tangan dan kaki kitalah yang akan diminta bicara. Dan mungkin, kita bisa mulai mengintipnya sekarang. Isyarat itu, isyarat tangan, isyarat hati. Isyarat cinta.
Terima kasih teman-teman Tuli yang telah mengajarkanku untuk mendengar dunia dengan cara yang lain, bukan berbeda, hanya lain dari biasanya.

Karya : Indah Suryani