Terlihat Bahagia

Indah Suryani
Karya Indah Suryani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2017
Terlihat Bahagia

Terkadang seseorang terluka hanya karena memaksakan diri untuk bertahan ketika seharusnya merelakan.

 

Senja itu aku masih menangis, terbayang kembali semua impian indah yang pernah kita rencanakan. Bahkan langit senja yang jingga itu masih ingat betul bagaimana engkau mengatakannya. Tapi semua itu telah hilang. Tak bersisa. Tiba-tiba kau pergi dan hilang, tak bisa dihubungi. Nomer telepon mati, facebook dan twitter tidak aktif, whatsapp pun aku di block. Entah apa yang terjadi, kau tiba-tiba saja pergi.


Aku menyusuri jalanan ramai kota Jogja, berusaha mengingat kembali rayuanmu yang pernah memabukkanku dalam asmara, yang membuatku percaya bahwa ada cinta untukku. Aku berhenti di salah satu sudut jalan itu, duduk terpaku di kursi taman di trotoar jalan itu memandang aksi musisi angklung jalanan. Aku melihat mereka menari, orang itu menari seperti kehilangan dunia pada hari ini. Bahagia.

Waktu berlalu, deru suara kendaraan, bus, motor, mobil dan tawa manusia menyeretku dalam sendunya malam Jogja. Aku menghirup nafas panjang, menyesapi segala aroma yang terbawa angin, mengaburkan kegetiran. Aku memaksakan sebuah senyuman dibibirku, bukan untuk siapapun, untukku sendiri. Agar aku bisa menyecap bahagia, meskipun tidak sebenarnya. Aku tersadar kembali oleh tepukan di pundakku.

"Move up Ndah!" perempuan itu setengah berteriak ke arah wajahku. Suaranya berusaha mengalahkan riuh tarian dan meriahnya angklung jalanan.

Aku tersenyum ke arahnya, tanpa kata-kata. Aku baik-baik saja, aku masih bernafas dengan baik, aku bukan penderita asma. Perempuan itu pun sepertinya mampu membaca pikiranku, ia tersenyum sinis sambil membuang pandanganya dariku. Ia memasukkan kedua tanganya ke saku jaket warna coklat muda. Kami memandangi orang-orang yang tak lelah menari di jalanan itu untuk sekian lama.

"Carikan aku suami," kataku dengan nada tegas yang kubuat-buat.

Lalu kami diam sejenak. Kemudian perempuan itu tertawa, dengan sinisnya.

"Suamimu akan menderita kalau menikahi perempuan macam kamu. Berkacalah. Tahu diri. Sadar diri. Perbaiki hidupmu. Perempuan yang hancur tidak akan membawa kebaikan apapun," katanya ringan sambil menyalakan rokok yang sudah berada dikatupan bibirnya.

Aku mengawasi asap rokok yang keluar dari bibirnya, kemudian ia seolah meniup dan memainkan asap rokok itu dengan sengaja.

"Menikah, kau tau Ndah, tidak pernah mudah. Jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang itu-itu saja, bahkan makin buruk saja kelihatanya. Hahaha" ia kemudian memandangi langit, mendongakkan kepalanya sambil menyemburkan asap rokoknya.

"Perempuan yang patah hati sepertimu itu nilainya minus. Tak ada lelaki yang mau bersaing dengan bayang-bayang seumur hidupnya. Atau kalau kau yakin bisa menjaga rahasia masa lalu kekasihmu itu. Dan tentu saja mulut-mulut orang yang sudah menyaksikan betapa jatuh cintanya dirimu dengan kekasihmu itu," katanya tanpa mengalihkan pandanganya dari asap rokok di atas wajahnya

"Mantan kekasih," jawabku sambil mendengus. Berusaha mengeskpresikan kelelahanku sendiri.

"Kamu itu goblok apa ndableg ya Ndah? Aku ga ngerti deh. Lelaki model tukang tipu kayak gitu aja kamu rela-relain bertahan bertahun-tahun."

Aku hanya tersenyum, menertawakan diri sendiri mendengar pertanyaanya yang seperti sebuah penyataan faktual.

"Aku dapat kabar dia sudah punya kekasih baru," aku setengah berbisik, mencoba untuk tidak menampakkan aura negatif.

"Dia tidak akan nikah sebelum kamu nikah Ndah. Dia harus set up cerita kalau dia yang disakitin. Entah ditinggal kawin atau mbok porotin sampai miskin." kata perempuan itu tanpa basa-basi

Aku hanya mampu terdiam mendengar ocehan menyakitkan perempuan itu, yang mungkin banyak benarnya.

"Lelaki model begitu itu ya memang bakatnya jadi penipu, playing victim, berlagak jadi korban padahal dalam hati ngetawain kamu, begonya kamu cuma jadi lelucon buat dia dan orang-orang sekitarnya. Kamu ga lebih punya nilai dari sampah. Habis dipake ditinggal gitu aja. Ga dimasukin tempat sampah tapi dibiarin berserakan jadi sarang penyakit dan kelihatan jorok!" kali ini perempuan itu menyapukan pandanganya ke wajahku.

Rokok disela jemarinya mulai habis. Tak ada perdebatan atau perbincangan lagi. Kami menikmati tarian orang-orang itu. Menyesaki kebahagiaan ke dalam ruang-ruang kosong.

Kami seperti patung mati yang menyaksikan tawa riuh manusia-manusia diluaran sana, tersenyum getir memandangi kebahagiaan orang lain. Kami membiarkan waktu dan angin melewat kami, dengan lembut mereka menyapu tubuh kami, pergi.

“Aku bercerai Ndah,” kata perempuan itu tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan wajahnya dari atas sana,

Aku melihat air mengalir dari sudut matanya, tapi ia tetap mendongak, ia tak mau menangis atau setidaknya ia menahan diri untuk tidak menangis. Aku tetap terdiam, menunggu waktu ang tepat untuk bereaksi, tapi aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

“Lucu sekali bukan? Kau lihat kami pasangan yang sangat bahagia, kami sudah menikah enam tahun lamanya, aku memiliki karir yang bagus begitupun suamiku. Tapi kau tahu Ndah? Aku tidak bisa memberinya anak. Lalu semua keluarganya mulai membisikkan sindiran-sindiran, lelucon-lelucon, hal-hal gila yang aku sendiri tak percaya mampu keluar dari bibir-bibir orang berpendidikan seperti mereka,” perempuan itu lalu mulai menertawakan dirinya sendiri, lirih.

“Suamiku tak pernah berkata buruk padaku, tak pernah memukuliku, tapi aku tahu bahwa bisikan-bisikan itu membuatnya banyak berpikir. Keluarganya dan aku, tiba-tiba menjadi dua hal yang harus dia pilih padahal sebelumnya ia menikahiku untuk dijadikan ‘keluarga’-nya bukan? Bukankah itu lucu? Dan itu kemudian menyakitiku. Aku bertahan, tapi sepertinya dia tak mampu” kini tawa perempuan itu sudah mulai disertai tangis yang pelan tapi memilukan.

“Jangan kau berpikir bahwa menikah itu sepenuhnya bahagia, kupikir setiap kita harus berani menerima rasa sakit bahkan ketika kita sudah bersama. Ada hal-hal yang harus tetap kita pegang dengan kuat agar tidak membuat yang lainya jatuh,”

“Kau yakin dengan ide perceraianmu itu?” selaku diantara tangisnya.

Aku tak langsung mendapatkan jawabanya, ia terdiam cukup lama. Kembali menyalakan rokok dari saku jaket coklatnya. Menghisap asap rokok dan menghembuskanya di udara. Lalu aku dengar tawanya, tawa yang ia deraikan untuk menguatkan batinya. Sendiri.

“Ndah, ada satu hal baik dari sakit hatimu itu, bahwa kau beruntung tidak harus menghabiskan hidupmu dengan lelaki brengsek dan pengecut. Yang lari dari janjinya sendiri, yang bahkan ia tidak mampu menepati ucapanya sendiri. Sekarang kau punya lebih banyak waktu untuk berpikir ulang tentang menikah. Sejauh mana kau mampu menjalaninya,” perempuan itu tersenyum sambil beranjak dari bangku taman, berdiri dan menarik tanganku. Aku kemudian mengikuti langkah-langkahnya.

Jalanan ini ramai dan bising dengan manusia-manusi yang bahagia dan mungkin mereka yang pura-pura bahagia. Aku memandangi punggung perempuan dengan jaket coklat didepanku, mengikuti langkah-langkah tegarnya, tanpa ragu.

 

Aku harus memastikan padamu, setiap pasangan yang telah menikahpun pasti akan datang masa saling menyakiti, tidak akan selamanya terus-menerus bahagia, tetap akan muncul saat-saat itu entah sengaja atau tidak bahwa ada yang akan menyakiti. Entah aku yang salah atau dirimu, Lelakiku, siapapun engkau yang datang padaku nanti, berjanjilah padaku bahwa engkau akan tetap tinggal bersamaku bahkan ketika aku menyakitimu.

 

  • view 68