Monolog Ibu

Indah Suryani
Karya Indah Suryani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Maret 2016
Monolog Ibu

Ali, kau harus tahu nak. Ayahmu tidak akan datang lagi, jadi berhentilah bertanya pada ibumu kapan ayah pulang. Ibu juga merindukanya, sangat. Namun, apalah ibu di mata ayahmu? Ibu sudah seperrti sampah yang tak ada nilainya, atau mungkin ayahmu telah menemukan perempuan lain yang mau merebut hatinya dari ibu. Ya, ayahmu sepertinya suka sekali diperebutkan para perempuan. Diberi harapan lalu disuruh bertanding, macam pacuan kuda, dan ibumu ini salah satu kuda ayahmu yang kini sudah membuatnya bosan.

Ali, kau memang mewarisi ketampanan ayahmu tapi satu hal yang ibu inginkan darimu, jadilah lelaki tampan yang takut akan Tuhan. Ibu ingat sekali kalimat Perempuan itu, ?Kebanyakan lelaki tampan jaman sekarang itu kalau tidak homo ya brengsek!?

Begitulah kira-kira, terlepas dia berbicara begitu karena telah gagal menikah dua kali dan dengan perasaan tertekan yang mungkin tak sanggup menanggung malu. Kau tahu nak, mulut-mulut nyiyir itu jahat sekali pada Perempuan itu. Ada yang mengatakan Perempuan itu terlalu baik, gampang dimanfaatkan. Perempuan itu dan ibu adalah orang yang sama, melihat semua orang adalah baik dan akan kami perlakukan dengan baik terserah ketika balasan mereka jahat, itu urusan mereka dengan Tuhan. Kelak, sekali-kali kau harus membaca buku Fahd Pahdepie, Tere Liye atau Amari Soul. Jadilah lelaki tampan yang takut Tuhan. Ibu tidak memintamu menjadi Muhammad, kau tak akan sanggup. Tapi teruslah berusaha untuk meniru tindak-tanduknya.

Ali anakku, jangan pernah kau menjanjikan sesuatu yang tak bisa kau tepati. Tak Cuma kepada perempuan, tapi kepada siapapun. Ibu telah merasakan sendiri sakitnya, pun ibu juga melihat kegetiran hati Perempuan itu yang bisa jadi tertipu janji hingga sekarang dia nampak seperti orang stress. Teman diskusi ibu itu kini terlihat sama bodohnya dengan ibumu ini Nak. Rasa sakitnya mungkin bisa ditanggung, tapi rasa malunya sepertinya tak sanggup dia hadapi. Dia bukan lagi perempuan yang suka berkumpul menyapa kawan-kawan atau adik-adiknya dan atau tetangganya. Hidupnya kini hanya berada di sekolah dan rumahnya.

Ibu ingat sekali siang itu di hari minggu, dia pergi makan mie ayam dengan ibunya dan tak disangka ada saja orang yang tak tahu diri atau mungkin salah waktu dan kondisi menghampirinya.

?Tidak jadi nikah lagi ya?? tanyanya kepada perempuan itu dengan senyum mengembang.

Siang itu di sebuah warung mie ayam Perempuan itu menatap hangat ibunya yang duduk bersebelahan dengannya, menikmati mie ayam. Tetiba garpunya diletakkan.

?Nanti kalau anak saya menikah, saya kasih undangan Mbak. Tapi datanglah dengan membawa sumbangan yang banyak ya,? ibunya menjawab dengan senyum kemudian melanjutkan makan.

Hanya suara garpu dan sendok beradu pada mangkok putih bergambar ayam jago, tak ada obrolan hingga mie ayam dan kuah habis tertelan oleh perempuan itu dan ibunya.

Satu hal lagi Nak, jagalah bicaramu. Mulut yang jahat akan menggores dan menyisakan luka yang lebih susah sembuhnya. Seperti yang kau lihat pada Perempuan itu itu. seperti yang bisa kau lihat pada ibumu ini.

Orang-orang itu bahkan pernah menyebut ibumu ini tak lebih jorok dari pelacur. Ah, mungkin memang begitu. Seorang pelacur menyerahkan tubuhnya untuk uang, tapi ibumu rela ditelanjangi ayahmu hanya dengan sebuah janji akan dinikahi. Ibumu ini hanya perempuan kampung yang bodoh dan mudah ditipu. Ibu hampir tak sanggup mendengar mulut-mulut jahat itu, kalau bukan karena Perempuan itu, ibumu ini sudah mati bunuh diri. Sebenarnya ibu juga tahu kalau Perempuan itu hanya bersikap baik pada Ibu atau bahkan kasihan, tapi setidaknya ia tidak mengatakan hal jahat tentang Ibu. Mungkin juga karena ia merasa senasib dengan ibu, ditipu.

Ali anakku, ibu sedang memikirkan jawaban terbaik atas pertanyaanmu, tentang kapan ayahmu akan pulang. Ibu tidak pernah tahu. Haruskah ibu menjawab ayahmu sedang bekerja, seperti ayah anak-anak lainya? Tapi orang bekerja tentu ada waktunya pulang, tidak selamanya bekerja. Atau haruskah ibu mengatakan padamu bahwa ayahmu telah mati? Setidaknya dengan begitu ibu tak harus mencari alasan kenapa sampai sekarang ayahmu tak pulang, karena orang mati tidak akan pulang. Tapi jika kau beranjak besar, akankah kau ingin tahu dimana ayahmu yang telah mati itu dikubur? Lalu kalau kau bertanya, ibu harus menjawab apa?

Ah, ibu lelah sekali Nak. Bahkan ibu tak tau bagaimana menjelaskan kepadamu kenapa perempuan yang tidak menikah bisa memiliki anak, apakah kau akan mengerti tentang ?kumpul kebo?? tidakkah kau akan marah dan tenggelam dalam perasaan malu terlahir dari perempuan murahan yang tidak lebih baik dari seorang pelacur?

Ali anakku, Ibu sedang belajar kuat untukmu. Kalaupun pada akhirnya ibu tak sanggup menanggung semua ini, maka ibu akan menitipkanmu pada Perempuan itu. Dia sangat ingin punya anak, tapi dia belum menikah. Perempuan itu wanita terhormat, tidak seperti ibumu, ia menjaga dirinya dengan baik. Karena itu, ibu percaya padanya. Dia pasti bersedia membantu ibu untuk merawatmu, karena dia juga teramat sayang padamu.

Ibu berharap kau tumbuh menjadi anak yang paham dan mengerti bahwa selalu ada kesalahan yang mengubah segalanya, seperti kesalahan yang ibu lakukan. Ibu ingin kau mengerti bahwa ibu tak bisa terus berbohong ketika menjawab pertanyaanmu tentang ayahmu. Ibu ingin melupakanya dan hidup kembali bersamamu. Sebesar apapu keinginan kita untuk bersama ayah tapi jika ayah tak menginginkan bersama kita lalu ibu bisa apa?

Atau, ibu punya ide lain. Ibu akank membunuh ayahmu. Bagaimana menurutmu?

  • view 666