Bantal Bulu Angsa dan Mimpi yang Berkarat

Indah Suryani
Karya Indah Suryani Kategori Puisi
dipublikasikan 29 Maret 2016
Bantal Bulu Angsa dan Mimpi yang Berkarat

Gelembung-gelembung dalam otak saling bertabrakan dan pecah. Seperti balon-balon dari air sabun. Langkah-langkah mengayun di pagi buta yang abu-abu, tak seperti pagi yang hangat, tak seperti cinta yang lekat. Embun-embun diatas rumput berbisik ?kemana lagi dia akan pergi?? langkah-langkah itu tetap mengayun, tak dengar bisik-bisik embun pada rumput. ?dia akan pergi kemanapun yang dia inginkan,? bisik rumput balik pada embun.

Langkah-langkah tetap mengayun dalam sengat matahari tengah hari. Tetap mengayuh menantang matahari congkak. Kini langkah sedikit lemah, karena lelah bercampur keluh dan peluh. Namun langkah itu tetap mengayun. Tidak ada yang lebih buruk daripada tidak melakukan apa-apa, dan terus melangkah.

Senja mulai menyapa bulan, kemudian senja mulai menelanjangi malam denganbintang-bintangnya. Langkah-langkah itu kemudian terhenti, menatapi langit yang berkerlip-kerlip, langkah itu berhenti. Gelembung-gelembung dalam otak pun ikut berhenti, langkah-langkah terkapar di atas permadani awan yang lembut, diatas bantal bulu angsa yang empuk sebagai penyangga. Namum mimpi-mimpi itu tak pernah kembali datang hingga pagi menjelang. Mimpi-mimpi itu tak pernah datang lagi. Mimpi-mimpi yang mengilhami langkah-langkah. Bahkan mimpi-mimpi itu tak lagi datang ditempat yang nyaman, di atas bantal bulu angsa, di permadani awan.

Pagi menelang, langkah-langkah kembali diayunkan, menantang siang, hingga terkapar di bwah telanjang malam. Langkah-langkah itu tak lagi punya mimpi yang akan mengganti gelembung-gelembung dalam otaknya yang sudah pecah. Langkah-langkah tak lagiberarti tanpa mimpi-mimpi yang mulai berkarat di atas bantal bulu angsa. Mimpi-mimpi itu tak mau lagi merasuk ke dalam otak, menjadi gelembung-gelembung air sabun.

Di atas bantal bulu angsa, mimpi-mimpi itu berkarat.

23 November 2010

  • view 124