Tentang Abangku #TemanTapiRomantis

Indah Purwaningsih
Karya Indah Purwaningsih Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 April 2017
Tentang Abangku #TemanTapiRomantis

TENTANG ABANGKU

 

Entah beberapa tahun yang lalu, mungkin tepatnya 2007. Yah, ketika aku sedang mengenakan seragam putih biruku, di saat itulah aku mengenalnya. Saat itu aku ingat betul kejadiaannya, kejailannya yang berhasil membuatku marah membuat dia berhasil menyita sedikit perhatianku, aku menatap kesal tapi dia tersenyum dengan sikapku. Setelah itu aku benar-benar lupa apa yang sudah terjadi namun hal itu berhasil membuat kemarahanku menjadi sebuah kepeduliaan untuk dia, yah.. benar-benar untuk dia. Entahlah, aku pun tak tahu.

Dia memintaku untuk berjalan berdampingan dengannya, tapi saat itu aku tak mampu tapi aku tidak menolaknya juga , aku hanya berkata tunggu. “Kalau memang beneran sayang ya udah tunggu aja sampai aku lulus SMP.” Jawabku setelah mendengar permintaannya.

Kulangkahkan kakiku untuk mencari koridor kelas yang sepi, dan beruntungnya saat itu adalah jam pulang sekolah sehingga tidak banyak orang yang lalu lalang.

“Ok, aku bakal tunggu kamu. Aku serius”

“Tapi kalau kamu nggak kuat, boleh kok kamu pacaran.” Sahutku kemudian sambil menatap matanya yang penuh dengan harapan. “Asal..” aku berhenti sejenak dari ucapanku dan tersenyum pebuh arti sambil melipatkan tanganku di depan dadaku. “Kenalin dulu ke aku ceweknya biar kita nggak ada salah paham. Tapi..” aku menatapnya penuh dengan senyum. “Nanti kalau aku udah SMA kamu putusin dia aja, terus jadian sama aku.”

Dia tertawa mendengar ucapanku. “Nggak perlu, aku nunggu kamu aja. Aku akan setia nunggu kamu.”


Tunggu memiliki banyak arti, arti yang seringkali membuat kita terkecoh, terkecoh dan membuat hati kita pun remuk. Yah... dan dia memilih untuk menungguku. Kisah perjalanan cinta anak SMP pun dimulai, terlalu datar kisah kami mungkin tidak bisa banyak kutuangkan dengan berbagai rangkaian cerita karena apa yang kami lakukan hanyalah sebuah rutinitas anak sekolah. Sekolah adalah tempat favorit kami dimana kami bisa saling menunjukkan batang hidung kami, bertatap muka dan bertukar sapa ataupun senyum. Siang hari sebelum sore kami selalu berjumpa untuk bertegur sapa sebelum aku melanjutkan tambahan pelajaranku saat itu dan dengan setia dia menunggu kepulanganku, lebih tepatnya karena dia belum dijemput.

Dia adalah mantan calon pacar pertamaku. Iya dia yang suka dengan warna merah itu. Sebuah warna yang melambangkan keberanian. Keberanian untuk melakukan banyak hal tanpa takut akan terjatuh lagi dan terbangun lagi ketika sudah terjatuh. Ok, aku coba mengulang tentangnya lagi bahwa dia adalah mantan calon pacar pertamaku.
Berlebihan? Mungkin sedikit, tapi biarlah memang itu kenyataannya. Lucu sekali bukan terdengarnya.Sampai detik ini aku ingat betul kekonyolan-kekonyolan yang sempat tercipta di saat kebersamaan kami dahulu. Dia adalah orang yang paling sombong, tapi tidak berlaku jika denganku. Dia adalah orang yang paling bejat, tapi itu juga tidak berlaku jika denganku.

“Dia beda, dia beda dari cewek yang lain, dan aku tidak akan pernah memintanya seperti apa yang pernah aku dapatkan dulu dengan sebelumnya.” Katanya. Saat salah satu temannya menanyakan apa yang sudah Levy terima dariku. Yah, laki-laki bernama Levy. Jadi Levy adalah seorang laki-laki yang mungkin bisa dikatakan nakal, gonta-ganti pacar dan suka meminta hal yang tidak sepatutnya diminta saat seseorang belum menjalankan hubungan yang terlalu serius terlebih lagi kisah cinta anak SMP, kisah cinta monyet yang masih berumur jagung. Sehingga pertanyaan itu terbesit di pikiran salah satu sahabatnya karena melihat perilaku Levy yang mungkin bisa dikatakan berubah untuk menjadi lebih baik dan kesetiaannya menunggu hingga 12 bulan.

Dia membuatku sangat spesial, yah spesial sekali. Tapi semuanya tak berjalan begitu indah rupanya. Semula berawal dari gengsi, dimana gengsinya menorehkan luka yang cukup dalam di hatiku, membuat diriku terasa terlupakan oleh dia. Entahlah, aku juga tidak tau apa yang ada di otaknya saat itu, aku pun tak mengerti.

Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku menyayangiku lupa akan hari penting dalam hidupku.
Konyol.
Kecewa.
Aku marah seakan semuanya tidak penting.

“Kamu pikir aku itu apa? Boneka? Sesuatu hal yang tidak penting?..”

Dia hanya tertunduk mendengar ucapanku saat itu. Diam membisu seakan dia ingin segera pergi dari hadapanku saat itu juga. Ucapanku melemah namun isakkan tangisku masih jelas terdengar. Mungkin aku sudah jadi perhatiaan seluruh orang yang hadir saat itu. Dia hanya menatapku sebentar dan segera pergi meninggalkanku.

Perempuan itu pun datang menghampiriku dan memeluk seakan tangis itu sudah tak bisa terbendung lagi, perempuan itu menarikku pelan dan membawaku ke sebuah tempat sepi untuk menenangkanku dan tetap membiarkan tangis itu terdengar.

Dengan lembut dia mengelus kepalaku dan berbisik pelan, katanya, “Sudah jangan menangis lagi.”

Perempuan itu adalah teman dekatku dia memiliki wajah yang sangat cantik dan kulit yang bersih, rambutnya tergerai panjang dengan pita kecil yang berada di bagian poni rambutnya, tangannya yang lembut memelukku kembali dan mengusap air mataku. Suasana saat itu begitu sepi hanya isakkan tangis yang terdengar dan akupun menatapnya lembut seakan tak ada kata yang ingin keluar dari mulutku.

“Tadi aku ketemu sama Levy, dia bilang dia belum sempat bawa kadonya jadi dia malu buat ucapin ke kamu.” Katanya pelan, sambil mengusap lembut bahuku untuk menenangkanku. “Dia ingat kok, dia nggak lupa.” Lanjutnya kemudian dengan senyum merekah di mulutnya yang berusaha meyakinkanku.

“Cuma karena kado?” tanyaku membalas pernyataan temanku itu dengan tatapan ke arah yang lain. “Kamu tau nggak sih? Yang paling penting itu bukan kado,” lanjutku kemudian sambil menatap ke arah perempuan itu dan segera
menngarahkan layang pandangku ke sudut yang lainnya “Tapi ucapan dari seseorang yang aku sayang.”. “Kalau dia nggak ucapin artinya dia itu nggak nganggep aku ada.” Lanjutku tegas dengan tangan yang terlipat di dadaku dan mulut yang tertarik miring tanda aku tidak suka dengan sikapnya

Sejak saat aku mulai menghindari Levy, dia berusaha menemuiku tapi aku menolaknya dan aku ingat betul dimana dia sedang menungguku dan berusaha meminta maaf aku hanya diam dan memandanginya, bahkan aku sangat mengacuhkannya. Aku benar-benar mendiamkannya. Tapi dia tak pernah kehilangan akal untuk membuatku memaafkannya kembali sampai dimana hubungan kita mulai membaik. Hal tersebut tidak berlangsung lama, ada sesuatu yang berbeda dan aku merasakan ada hal lain yang dia sembunyikan dariku. Akhirnya kabar burung itu mulai terdengar tapi aku bukanlah orang yang mudah percaya, saat itu aku sangat yakin kalau dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu tapi aku merasa semakin hari berita itu bukan hanya kabar burung saja namun aku melihat secara nyata ada hal yang memang sengaja disembunyikan namun dia tetap berkata tidak, dia tidak berkata jujur padaku.

Kira-kira 13 hari berjalan di tahun yang baru, kira-kira Januari 2009 aku pun segera mengakhiri semuanya dan dia menghilang begitu saja, meninggalkan semua kenangan. Oh.. tapi tidak, tidak, bukan dia yang meninggalkanku, tapi aku yang meninggalkannya karena aku tak bisa ada dalam hati yang bercabang. Dan.. saat itu tak lagi kudengar lagi kabarnya, seolah dia telah pergi ditelan bumi, lebih tepatnya tak ingin kudengar lagi apapun tentangnya. Luka itu memang terlalu dalam, luka yang dia ciptakan untukku.

 

 *****

Entah bagaimana ceritanya dia menemukanku kembali, kembali dalam sosial media dan menambahkanku dalam pertemanannya setelah mungkin dia menghapusku dalam kehidupannya.

Sungguh rasa itu belum benar-benar hilang, dia terlihat sangat memukau saat kami mencoba untuk mewujudkan pertemuan kami setelah hubungan kami kembali baik pastinya. Senyum khasnya dan kedipan matanya masih sangat jelas, jelas seperti awal aku pertama mengenalnya.

-Kamu tetap sama, nggak berubah yah, semakin cantik.- pesan yang kubaca darinya setelah pertemuan kami malam itu.

Aku hanya tersenyum membaca pesan itu dan beberapa kali juga tak sengaja kutemukan status media sosialnya yang aku yakin itu memang untukku, singkatnya permintaan maaf secara tidak langsung atas perbuatannya yang mungkin selama ini membuatku marah.

Setelah itu frekuensi percakapan kami semakin meningkat sampai dimana dia menemuiku kembali di perayaan Idul Fitri 2012, saat itu dia sempatkan untuk berkunjung ke rumahku, setelahnya entah dia hilang kemana aku pun tak tahu.

Namun semua yang hanya terlupakan akan sakit jika itu disentuh kembali, semua ingatan itu muncul kembali dan membuat emosiku semakin naik saat kudengar soal dia dan wanita itu, sungguh aku tak sudih mendengar nama wanita itu, wanita itu yang membuat Levy sepertinya kehilangan jati dirinya dan menjadi sangat berbeda ketika bersamaku dulu.

Benar teringat oleh ingatanku tingkahnya begitu menawan dan lucu, tapi kini semuanya berubah. Ingin kuputar ulang saat itu dan tidak membiarkannya pergi kalau aku tau kejadiaannya seperti ini.

“Sungguh aku tak ingin kamu berjalan dalam gelapmu karena kamu tak akan melihat lobang yang dapat membuatmu terjatuh”, kataku pelan.

Sejenak hening dan aku terdiam.

Diam membisu.

Tidak seharusnya aku seperti ini, pikirku pada hati kecilku.

Wanita itu adalah ciptaanNya yang maha indah dan siapakah aku mampu mencela karya dari si Pencipta?

Yah.. mungkin aku teralu sombong menganggap hanya wanita itu yang salah dan tidak mengambil sisi lain dari masalah ini. Sehingga kuputuskan untuk tidak hanya melupakan namun ingin kucabut permasalahan itu hingga ke akarnya dengan aku meminta maaf pada wanita itu.

Sungguh aku merasakan hal yang berbeda ketika kuberanikan diriku untuk melawan keegoisanku dengan meminta maaf pada wanita itu. Kini tak lagi amarah dan kebencian lagi yang muncul ketika mendengar sesuatu yang berhubungan dengannya namun rasa damai dan tenanglah yang kini hinggap di hatiku. Jadi tak perlu lagi kukeluarkan lagi tenagaku secara berlebihan untuk hal yang mungkin tidak penting untuk direspon.

Hari-hari kujalani seperti biasa sehingga sampailah aku di pertengahan tahun 2014, dimana aku bertemu lagi dengan Levy di salah satu kota di Jawa Timur yaitu Surabaya.

Sebelum pertemuan terencana aku dan dia, saat itu pikiranku menggerakkan tanganku untuk meninggalkan kabar untuknya melalui pesan singkat yang berisi tentang keberadaanku di kota ini dan tanpa menunggu lama dia membalas pesanku dan berencana menemuiku malam ini dan aku pun mengizinkannya untuk menjemputku di salah satu rumah temanku yang sedang kutinggali selama aku melaksanakan kegiatan di kota itu.

Malampun tiba dan dia segera memberitahuku kalau dia sedang dalam perjalanan menuju ke arahku dan kebetulan aku sudah menuntaskan tugasku sehingga aku segera berpamitan dengan teman-temanku yang lainnya.

            “Jadi pulang sama siapa, Indah?” tanya salah satu temanku sambil mengantarku berjalan. Tanganku digandengnya lembut dan dengan riang dia menemaniku sampai pagar rumah.

Akupun tersenyum mendengar pertanyaannya, lalu kataku “Sama Abangku.”

Tak lama kemudian sorotan lampu mobil itu bersama dengan lampu-lampu jalanan menyinari kawasan tersebut dan membuat mataku silau. Mobil PW seperti salah satu film cartoon kesukaanku yang berjudul “Scoby Doo”, akhirnya pun datang dan berhenti tepat di depanku. Terlihat seseorang yang sudah lama tak kutemui itu tersenyum ke arahku dan tetap dalam mobilnya.

            “Aku duluan ya, itu sopirnya sudah datang.” Kataku, menoleh ke arah pemilik mobil itu sambil menjulurkan lidah dan mengacungkan kedua jariku hingga membentuk huruf V, kemudian aku pun meninggalkan temanku itu dan segera membuka pintu mobil lalu duduk di sampingnya.

Mobil itu pun melaju dengan santainya meninggalkan jalanan yang sedari tadi kupijaki. Menyusuri malamnya jalanan kota pahlawan tersebut.

            “Lapar? Mau makan?” tanya Levy kepadaku sambil terus terfokus pada setir mobil yang ada di tangannya.

            ”Hem...”

            “Ohya ini ada roti kalau mau.” Lanjutnya kemudian sambil berusaha mengarahkan tangannya ke pertengahan kursiku dan kursinya untuk menyerahkan kresek putih yang berisi beberapa roti dan minuman. “Disitu ada teh juga ambil aja aku beliin buat kamu.” Katanya lagi sambil tertawa kecil ke arahku dan dengan tetap berfokus pada pemandangan malam kota Surabaya

            “Ya udah makan ini aja aku mah.” Sahutku kemudian sambil mencomot sebagian roti yang ada di tanganku.

            “Tapi aku lapar, temenin aku makan ya.” balasnya kemudian, dan tangan kirinya mengusap-usap lembut kepalaku.

            “Udah malem tapi, Lev.”

            “Ayolah, yaa?” pintanya. “Ya udah kamu nginap di rumah aku aja, besok pagi aku anterin deh kamu kemana.” Tawarnya kemudian. “ya,ya, ya..”

            “Jangan. Hari ini aku janji tidur di rumah kakak sepupuku. Iya, iya aku temenin.”

Dan sejuta perbincangan yang lainnya, dan saat sedang melewati sebuah jembatan terlihat mobil lain yang sedang menyapa dan meminta Levy untuk memberhentikan mobilnya sebentar.

            “Kamu tunggu di sini aku keluar sebentar, ada temenku mau ambil sound system di belakang.” Ucapnya sambil tangannya membuka pintu mobilnya dan mengarahkan kakinya untuk mengambil barang yang dimaksud dan segera menemui temannya.

Aku pun terduduk diam sambil mengamati percakapan mereka. Tak lama kemudian Levy pun berbalik arah dan segera menuju ke mobil. Dia memintaku untuk ke rumahnya sebentar karena ternyata ada barang yang tertinggal.

Kedua mobil itu pun berpisah dan mobil PW milik Levy tetap mengalun menyusuri jalanan menuju sebuah kompleks perumahan elite yang berada di Kawasan Jemursari. Mobilpun terhenti di depan pagar rumahnya dan dia pun mengajakku untuk masuk.

Sepi dan gelap karena waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB dan Levy pun segera menyalakan lampu teras rumahnya yang ternyata sedari tadi belum sempat ternyalakan,  kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan korek api untuk menghangatkan tubuhnya, katanya saat itu.

            “Katanya tadi buru-buru, kok malah ngerokok dulu sih?” tanyaku saat dia mengepulkan asap pertama dari rokoknya, karena aku bukanlah orang yang nyaman dengan asap rokokyang kadang membuat dadaku terasa sesak. “Pasti alasan doang biar bisa lama-lama sama aku, makanya diajak ke rumahlah, inilah itulah.”

            “Hahaha.. “ tawanya sambil tetap menikmati asapnya dan berusaha menjauh dariku karena asapnya yang mulai mengganggu pernafasanku. “PD kamu, tapi iya sih.” Lanjutnya kemudian tetap dibarengin dengan tawanya. Kegokilannya masih sama, sama seperti awal aku mengenalnya. “Indah, tidur di sini aja yuk, jadi kamu temenin aku ke temenku naik motor aja yah.”

            “Ih.. nggak mau Lev. Aku udah janji sama kakak.”

            “Jumat aku balik ke Mojokerto, Indah.”

            “Terus?”

Levy hanya memandangku dengan sebelah matanya. “Yah gak papa sih cuma kasih tau aja, siapa tau ada yang bareng.” Katanya kemudian.

            “Hahaha..” sahutku dengan ketawa. “Baik deh kamu, tau aja kalau aku mau tanya."

            “Ya udah berkabar aja nanti. Yuk cabut, kemaleman ntar nggak baik untuk anak kecil.”

“Ih... parah dibilang anak kecil.”protesku sambil menunjuknya dengan jariku kemudian sambil mengejarnya yang sempat berjalan lari menghindariku dan segera mencubitnya saat kudapatkan langkah kakinya beriringan bersamaku.

 

*****

2014 pun hampir berlalu dan sudah kulewati banyak hal. Kali ini aku sedang tidak merencanakan liburanku dengan siapa atau dimana pun, karena memang aku bisa disebut dengan anak rumah. Tapi keberuntungan berkata lain, abangku itu mengabulkan keisenganku yang aku pun hanya bercanda saat berbicara.

BROMO.

Yah.. awal tahun 2015 salah satu harapanku untuk pergi ke gunung tercapai. Saat itu tepat pukul 5 sore dia menjemputku sebelum kita melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk singgah sebentar di rumahnya karena sengaja pergi ke BROMO tengah malam, - untuk mendapatkan momen melihat matahari terbit.

Tapi semuanya hanya seperti mimpi saja, berlalu seperti angin karena BROMO adalah tempat terakhir kami berjumpa dan setelah itu seperti biasa dia pergi entah dengan sebab apa, aku juga tidak tahu.

  • view 51