#TemanTapiRomantis

Indah Purwaningsih
Karya Indah Purwaningsih Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Desember 2016
#TemanTapiRomantis

PROLOG 

 

Lagi-lagi aku terjatuh, ya terjatuh pada kesalahan yang sama tapi aku bangkit namun akhirnya aku terjatuh juga karena aku tidak mau mendengar perkataanNya malah aku berjalan dengan keegoisanku. Sungguh aku bosan sejujurnya, bosan dengan kesalahan yang sama, aku lelah, aku lelah dengan semua ini karena aku harus butuh banyak tenaga untuk mengembalikan hidupku secara normal lagi seperti sebelum aku mengenal manusia itu ketika aku terjatuh. Tapi.. Entahlah apa yang membuatku tidak jerah malah semakin berkompromi seolah-seolah aku mampu melewati semuanya setelah aku kuat lagi, padahal aku sangat lemah, lemah sekali. Akupun tak tahu.

Setiap kali aku terjatuh aku berharap ini yang terakhir, aku janji ini yang terakhir, aku tak mau mengulangnya lagi walau dengan manusia yang berbeda. Tapi mungkin kalian tahu aku tidak berhenti dan akhirnya aku jatuh lagi. Kalian mengerti maksudku bukan? Dan sekarang aku harap ini yang paling terakhir, terakhir aku terjatuh pada kesalahan yang sama dan aku berharap aku benar-benar memantaskan diriku untuk Sang Pencipta saja sebelum manusia terbaik dariNya datang dan memintaku menjadi teman hidupnya.

*****

Tak perlu kau mengeluh, tak perlu juga kau iri dengan siapapun karena kau juga punya cerita sendiri.

“Yah.. aku punya cerita sendiri”, kataku pelan sambil tersenyum mengingat kembali apa yang telah aku alami hingga saat ini.

Lagian aku juga tak pernah menyesal dengan semua cerita yang telah terangkai dalam kehidupanku, maksudku aku tetap bersyukur dengan semua keadaan yang kuterima walaupun seringkali kadang aku juga mengeluh.

*****

TEMAN TERBAIK

  

BERAWAL DARI...

Sebuah surat, yah surat untuk seseorang. Lupakan! Karena kami hanyalah sebagai penyampai pesan. Dari situlah aku mengenalnya, saat aku masih mengenakan seragam putih merah dan dia sudah mengenakan seragam putih biru. Kalian mengerti maksudku bukan? Ah.. terlalu jauh jarak pertemanan kami.

"Ohya ini ada surat untuk mas Rama, dari mbak Retno.” Ucapku padanya sambil menyerahkan kertas yang tak berselimutkan amplop yang ada tanganku. Dia laki-laki itu bernama Nugraha, Nugraha mengambil kertas itu dari tanganku dan dia hanya tersenyum ke arahku tanpa berkata apapapun dan tetap berdiri dengan posisinya yang masih ada di dalam pagar merah rumah itu. Aku pun meninggalkannya dengan sepeda phoenix unguku.            

Sejak saat itulah setiap malam aku bermain ke rumahnya dengan membawa sedikit jajanan yang suka kubagikan kepada dia. Memang tidak banyak bahkan mungkin hanya sepotong kue yang selalu aku siapkan ketika aku hendak bertemu dengannya. Dengan ayunan sepedaku kuluncurkan kakiku dan menginjak rumahnya. Yah.. seperti biasa juga aku dan dia hanya berbicara di teras rumahnya saat itu. Banyak cerita, canda tawa dan tak lupa kuberikan potongan kue itu untuknya, selalu kuhabiskan waktu sekitar satu setengah jam untuk berbincang banyak hal dengannya.

Begitu pula dengan keesokkan harinya aku menjemputnya dengan ayunan sepedaku untuk mengantarkan kami ke sekolah. Namun sayangnya pertemuan kami sangatlah singkat tidak lebih dari hitungan jari. Pertemuan yang singkat dan mungkin terlalu singkat, hal yang kuingat darinya adalah saat dia berkata, “Jangan takut, ada aku di sini.” Yah, hal itu yang dia katakan padaku saat kami mengayuhkan sepeda dan berusaha menerobos kegelapan dan keheningan malam itu.

Lagi-lagi karena keegoisanku akhirnya dia menghilang, aku juga tak tau sebenernya apa yang terjadi saat itu, bahkan sampai waktu dimana akhirnya kita bertemu lagi, aku juga belum paham apa yang membuatnya menghilang saat itu. Kejadiaannya sekitar 8 tahun silam sampai aku menemukannya lagi. Awalnya dia menuliskan ucapan selamat ulang tahun di dinding facebookku dan akhirnya kuberanikan diriku untuk menyapanya kembali.

 

8 Januari 2015 akhirnya kami mewujudkan pertemuan kami.Terlalu lama, lama sekali akhirnya aku melihat senyumnya kembali. Aku menemukannya tetap seperti dia yang dahulu aku temui juga, tanpa canggung seolah-olah tanpa masalah.

Laki-laki itu sekarang berambut gondrong dan berombak, badannya masih terlihat kurus dan ceking dan dia sedang menungguku di atas kuda besinya. Kakiku pun terayun santai mengarahkan tubuhku ke arahnya dan kunaikkan kakiku untuk menempati boncengan belakang kuda besinya. Roda itu pun berputar dan meninggalkan teras rumahku.

Jalanan aspal, hembusan angin dan terik matahari turut mewarnai perjalanan kami. Perbicangan ringan pun dimulai sampai dimana kami menemukan sebuah kedai bakso. Kedai itu terlihat sangat penuh sesak dengan sejumlah manusia yang ada di dalamnya dan terlihat para pelayan dengan sibuk namun dengan sabar, ramah dan senyum melayani setiap pesanan para tamunya.

Kuda besi miliknya pun diletakkan tak jauh dari tempat kami duduk dan dengan antusias aku dan dia, yah kami memilih menu spesial kedai bakso ini ditambah segelas es teh manis yang mampu menyejukkan keringnya tenggorokan kami.

“Gimana tugas akhirnya? Kapan wisuda?” tanyaku sambil memandangnya penuh senyum dengan menopangkan daguku pada telapak tanganku.

Dia tersenyum dan selanjutnya tertawa mendengar ucapanku, katanya “Masih dalam proses.” Ucapnya singkat. “Ohya akhir tahun depan aku ke Bandung. Semacan pelatihan untuk pecinta alam dan kita kerja sama dengan WANADRI.”

“Beneran ke Bandung?” tanyaku seolah tak percaya. “Tapi masih tahun depan yah, kirain tahun ini.” Lanjutku kemudian. “Ya udah pokoknya kamu cepet lulus terus ajak aku naik gunung ya?” pintaku padanya merengek layaknya anak kecil dengan kedua tanganku yang terkatup tepat di bawah daguku dan tersenyum manja kepadanya.

Dia hanya tertawa mendengar ucapku. “Kalau ada apa-apa aku nggak tanggung jawab ya.” ucapnya sambil mengepalkan tangannya untuk menopang dagunya di atas meja.

Belum sempat aku membalas ucapannya akhirnya pesanan itu tiba. Asapnya mengepul ditambah aroma nikmat. Segera kubersihkan sendok dan garpu dan kuserahkan kepadanya untuk dapat dinikmati bakso lezat itu, dan kuambil sendok garpu juga untuk diriku sendiri.

Itulah pertemuan kami, hingga sampai saat ini aku belum sempat lagi meluangkan waktuku untuk bertemunya dengannya. Hanya kabar-kabar lewat sosial media yang selalu memberi tau aktifitas dan kesibukkan apa yang sedang kami lakukan saat ini.

Yah.. dialah teman terbaikku itu, lelaki kurus ceking berambut ombak gondrong. Doaku terbaik untukmu semoga segera kamu tuntaskan kewajiban bangku kuliahmu, dan kita jalankan misi kita ke pendakian

*****

  • view 138