laki-laki dan calon ibu mertua

indah hadi
Karya indah hadi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Maret 2016
laki-laki dan calon ibu mertua

Setiap laki-laki yang mencari pasangan untuk serius selalu memasang kriteria seperti ibunya. Mulai dari lemah-lembut, pintar, bisa memasak, bisa mengurus anak, mengurus keuangan dan segala urusan soal rumah tangga dengan baik. Walaupun terkesan mereka sedang mencari babysitter, ini tidak mengapa semua wajar, semua dalam tahap yang normal. Meski pada kenyataannya mereka selau lupa bertanya pada ibunya bagaimana proses yang sudah di jalani hingga mencapai titik menjadi istri dan ibu yang sempurna, dalam versi setiap anak.

Diluar sana akan tumbuh perempuan-perempuan yang khawatir tidak mampu memenuhi kriteria-kriteria yang di pasang para laki-laki. Tidak siap dengan perbandingan-perbandingan yang dengan bebas diutarakan soal ?kamu dan ibuku?. Di tambah lagi nanti dengan sikap si ibu laki-laki yang merasa diri paling sempurna dan mengesankan ?tidak rela? melepaskan anaknya pada perempuan yang sedang di pilih putra mereka. Terkadang juga dengan pertemuan pertama yang kesan ?menguji? dan ?kamu bisa apa? untuk putra saya pada tahap ini membuat beberapa perempuan ber-akting bisa dan mem-bisa-bisa-kan apa yang tidak bisa. Untuk sementara saja mengambil hati calon ibu mertua apa saja asal senang asal di terima. Dan pada perjalanannya semua terungkap.

Sama seperti laki-laki pada tahap ini si calon ibu mertua lupa bagaimana dia berada di tahap sekarang menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarganya seperti sekarang. Jalan berliku dan tidak mudah pasti telah di lewati dalam waktu yang tidak singkat. Bukankah semua hal butuh proses? Bukankah semua hal butuh waktu?.

Tuntutan untuk sama, untuk sempurna selalu membuat lupa bahwa ada hal-hal yang harus di beri kesempatan untuk di sesuaikan. Ada hal-hal yang selalu harus di pelajari bersama menuju kehidupan bersama. Ada yang selalu lupa bahwa cara hidup setiap orang berbeda. Ada yang lupa cara setiap orang tumbuh dan di besarkan bersama berbeda. Ada yang lupa bahwa kepala boleh sama, makanan boleh sama, mungkin suku bangsa boleh sama, agama boleh sama tapi sudut pandang belum tentu sama.

Pada tahap menuju ke-serius-an ini si peremuan mulai masuk pada mengenal seperti apa perempuan ?dambaan? laki-laki, proses-pelan pelan saling membuka diri, saling menjelaskan, saling memperlihatkan kekurangan dan kelebihan masing-masing untuk saling melengkapi selanjutnya. Sekalipun dalam prosesnya tidak akan ada perempuan yang ampu sama dengan kriteria ibu, minimal coba utuk menghargai usahanya untuk belajar menjadi perempuan yang setiap laki-laki inginkan. Untuk selalu di ingat setiap usah belajar bukanlah soal untuk kesenangan satu pihak saja, tapi untuk memenuhi kesenangan semua pihak. Tentu tidak ada yang akan pernah mau dalam perjalanannya terjebak pada kata ?terlanjur? bukan.

Untukmu laki-laki dan calon ibu mertua, semua hal tentang menjadi istri dan ibu selalu bisa di pelajari. Beri kesempatan setiap perempuan untuk belajar, memahami dan menyesuaikan keinginanmu,harapmu yang kemudian hari akan menjadi keinginan kita , harapan kita. Dan selanjutnya lahir kembali sosok perempuan yang menjadi istri dan ibu yang sempurna bagi keluarganya.

  • view 211