Kita di Pulau Lombok

Kita di Pulau Lombok

Indah Nasir
Karya Indah Nasir Kategori Puisi
dipublikasikan 04 Agustus 2018
Kita di Pulau Lombok

Apakah kau ingat?

Momen singkat kita di Pulau Lombok.

Mungkin memang telah lewat bertahun yang lalu, tapi kau adalah misteri yang masih tersimpan di sini, di suatu ruang di sekitaran wilayah hati.

Di Pulau Lombok, cerita ini mungkin harus kuberi nama.

Tapi kau bukanlah kisah yang mudah diterjemahkan.

Dengan diammu yang terlampau bisu nampaknya, apa yang bisa kuperoleh jawabnya ?

Jawab atas apa yang terjadi disana sebenarnya.

Disana, ketika kita sama memijaki Pulau Lombok.

Adakah hatimu sempat menawan bayangku?

Adakah tajam sinar matamu sempat menerabas wajahku?

Dengan pribadi tak pedulimu itu, bagaimanalah aku mampu membacamu ?

Membaca sifat kakumu yang terlampau eksotis.

Sama eksotisnya dengan pulau yang kita pijaki.

Tidakkah kau sempat memikirkan mengapa aku terlampau cerewet ?

Tidakkah kau sempat memperhatikan sinar pandanganku yang sibuk menyusun rencana untuk pertemuan-pertemuan disengaja?

 

Dan kita di Pulau Lombok.

Seminggu yang berjalan cepat menurutku, yang entah menurutmu .

Saat itu aku tahu ada yang mengganjal dariku.

Tentang cinta yang kumiliki, sebuah ikatan yang aku tahu tak kau sukai .

Tapi kau tahu?

Saat itu memang adalah masa sekarangku.

Dan saat ini tak lebih masa laluku.

Masa lalu yang tak ingin kuberi nama lagi, karena sungguh aku telah berdamai sempurna .

Namun aku tahu kau masih sama.

Masih sama kakunya dengan kau yang kutemui di Pulau Lombok sana.

Seseorang sepertiku, yang memiliki plat nama kisah “masa lalu” , tak masuk daftar pikiranmu.

Benarkah itu?

Tidakkah kau ingin membantahnya?

Memberikanku kesempatan memasuki gerbang pribadi kakumu?

Entahlah, bahkan aku tak yakin kau menyadari kedatanganku lagi .

 

 Dan kita di Pulau Lombok.

Aku ingin memutar kisah yang lalu.

Yang mungkin hanya ada di kaset memoriku, entah di kaset memorimu.

Tentang ayat La Yukallifu Allahu nafsaan illa wus’aha.

Yang kau beri saat kusampaikan ketakutanku menghadapi lomba.

Tentang suasana ganjil di pesawat perjalanan Makassar-Surabaya.

Kau di belakang kursiku, kau yang kutatap lamat-lamat, kau dengan mata tajammu, kau yang memperhatikan tingkah ganjilku dengan jilbab yang basah karena flu yang menyiksa.

Tentang penulisan pesan singkatmu yang sungguh mengundang tawa.

Menulis pesan singkat dengan menghilangkan semua huruf vokal, menyisahkan huruf konsonan yang sungguh menyulitkan untuk dibaca.

Juga dengan gaya tulisan huruf besar semua.

Tentang perdebata n kita mengenai filsafat.

Saat kau bertanya perbedaan filsuf dan filosof.

Tentang kita ketika di ruang lomba.

Kau yang begitu serius, nampak percaya diri.

Dan aku yang begitu tegang, takut setengah mati.

Karena aku tahu, kau begitu cerdas dan jenius.

Sedangkan aku yang bahkan tak pernah sepintar apa yang kuraih itu.

Tentang titipan oleh-oleh untuk si Fathul Qarib.

Kau yang memang begitu kaku hanya menyimpannya di sudut kursi depan kamar.

Tak ingin berinteraksi lama dengan wanita, pikirku waktu itu.

Dan sebuah pulpen oleh-oleh khas lomba teronggok bisu di sudut kursi depan kamar.

Saat itu aku menyadari kau memang istimewa.

Tentang kamus yang kupinjam darimu.

Suara kakimu menuruni tangga.

Gurat wajah kakumu saat menyerahkan kamus itu, aku masih ingat meski samar.

Tentang semua kenangan itu, mungkin hanya aku yang menyimpannya.

Tentang dirimu dan cerita ini yang kembali berkisah tiba-tiba.

 

Dan kita di Pulau Lombok.

Itu sudah lama, tiga tahun yang lalu .

Pulau itu  telah tertinggal bermil-mil jauhnya.

Dan setelah sekian lama, aku kembali menemuimu pada rasa yang berbeda.

Ada sesuatu yang kau tinggalkan padaku.

Apakah kau tahu?

Kau sungguh punya tempat di hatiku.

Sebuah ruang yang bertahun ini tersamar, sulit kuterjemahkan.

Dan kehadiranmu lagi menjadi penyeruak kenyataan itu.

Kau adalah apa yang ingin kucari jawabnya.

 

Kisah di Pulau Lombok bertahun lalu.

Pantaskah kusebut kisah jika sebenarnya tak terjadi apa-apa padamu, mungkin?

Hanya aku yang terlampau sibuk menyusun pertanda merangkai cerita.

Benarkah aku sedang berfatamorgana dengan perasaan?

Adakah kau mengenangnya meski hanya sebatas kita pernah berada disana?

Tanyaku mengambang di udara.

Bahkan untuk menyalami bayangmu pun aku enggan rasa, malu, minder dengan semua fakta yang ada.

Tentang aku, masa laluku, pribadiku, dan kau yang begitu kuanggap istimewa.

Jelas kurasa, kita sungguh berbeda.

Tapi kau, tak apa jika kujadikan lelaki impian?

Kau, pribadimu, sifat kakumu, jeniusmu, wajah biasamu, sungguh menawan rasaku.

Masa sekarang, tidaklah tepat bermuram durja dalam perkara rasa.

Saat ini, cukup kau dan kisah Pulau Lombok.

Yah, kau dan aku.

Kita di Pulau Lombok.

 

Mangkoso, 10 Februari 2015

  • view 45