Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 3 Agustus 2018   11:44 WIB
Sepasang Mata Cahaya

Kutatap dua lingkar bola yang berpelangi tanpa hujan.

Terang yang berpendar-pendar membentuk formasi warna-warna.

Selaksa bahasa keindahan mentari yang membiaskan cerita-cerita setelah memandangi turunnya air-air langit.

Disana ada sebuah cerita yang ingin kuukir dengan rindai-rindai aksara.

Seuntai kisah-kisah lama yang menari-nari di benak-benak sebuah masa yang bernama.

Yang bernama : Aku menemukanmu sudah lama sekali, di masa lalu sekali.

***

Dua lingkar bola yang berpelangi itu menautkan makna-makna.

Begitu tajam menerabas menyiratkan keanggunan pribadi penuh pesona.

Yang jarang ada di diri setiap manusia.

Beraninya aku berkata?

Aku sungguhan, seluruhnya bisa kusuratkan.

Ada yang berbeda , terlampau istimewa.

Aku tak mengada-ada.

***

Yang berpelangi tanpa hujan miliknya sepasang mata cahaya, dia berharga.

Menyebutnya kemarin, tadi, dan nanti.

Melewatinya dengan cara-cara euforia berbatas.

Karena sepasang mata itu menyebutkan lewat laku-laku cahaya : Bersabar Lebih Baik.

Dan aku memang begitu percaya : Bersabar Selalu Lebih Baik.

***

Sepasang mata cahaya.

Menemukan dalamnya siluet memori bersahaja yang mendendangkan kidung-kidung nirwana.

Iya , lewat sepasang  dua lingkar bola mata cahaya lahirlah cerita-cerita makna pengangungan kisah-kisah rasa sebuah masa bernama yang kusungguhkan lewat  laku-laku cahaya darinya : Bersabar Selalu Lebih Baik.

Sepasang mata cahaya dengan pesan pertanda yang percaya : Bersabar Memang Selalu Lebih Baik.

                                                                        ***                      

Makassar, 13 Desember 2015

 

Karya : Indah Nasir