Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 3 Agustus 2018   08:54 WIB
Elegi Pagi

Pagi ini voltase mimpi itu kembali menyeruak. Memaksa hatiku kembali membuka luka yang menganga. Aku kembali dihadapkan pada angan-angan tak sampai yang terhalang restu orang tua. Tapi dulu aku memang hanya diam saat tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa mimpi yang telah kususun rapi tiga tahun lamanya terhenti sampai pada titik pernyataan Ayah.

“Tak usah ke Bandung, Nak! Di Unhas juga ada Hubungan Internasional”.

Ya, di titik itu aku tertegun. Sungguhkah? Hanya sampai pada titik itukah? Lalu apa kabar Padjadjaran-ku? Mimpi-mimpiku? Mungkin memang aku tetap bisa menggapai impian diplomatku di Hasanuddin. Menjadi Dino Patti Djalal selanjutnya sesuai harapan-harapan yang sudah kuutas di berlembar-lembar kertas buku harian ataupun jejak-jejak nalar. Tapi tentang Bandung yang begitu sangat kuimpi, hanya sampai disinikah? Sungguh saat itu aku hanya bisa terdiam .

Dan pagi ini mimpi-mimpi itu kembali mengetuk hatiku yang sengaja kukunci tidak kuat. Entah alasan apa dan mengapa. Mungkin memang aku sudah tahu. Suatu saat pengertianku akan goyah. Pengertian tentang sebuah mimpi tertawan oleh mimpi yang lebih baik. Dan pagi ini elegi itu datang menghampiri. Ya, pagi ini aku kembali merasakan sesak dengan mimpi-mimpi yang berlalu tanpa pernah terjadi. Terhalang restu, sungguh benar-benar terhalang. Tidak. Aku tidak pernah menyalahkan orang tuaku. Apa yang telah mereka pikirkan, rencanakan dan memberikan tindakan adalah apa yang sudah terencana pada masa depanku. Sekalipun tak pernah kudendami dua permataku itu. Mereka jelas lebih memahami putrinya yang rajin sekali bermimpi ini .

Elegi pagi ini akan menjadi beban pikiran selama berhari-hari ke depan. Aku akan terus dikacaukan dengan bayang-bayang Kota Kembang yang beberapa bulan ini sudah tak pernah kuangankan lagi. Aku takkan melawan. Toh aku cukup bahagia bisa kembali berimpian ria dengan kota yang memang begitu kudamba itu. Segala kekacauan angan ini akan kunikmati dengan caraku. Bandung-ku, kita macam kekasih saja. Yang tak bisa bertemu karena terhalang restu.

Pagi ini aku kembali berelegi dengan impian-impian lalu. Sedikit terbenak apakah aku harus kembali berusaha bangkit mengejarmu? Kembali meyakinkan orang tuaku tentang kisah kita yang begitu indahnya, meskipun bertemu sekali saja tak pernah. Lalu cerita macam apa yang sedang kita narasikan ini Bandung-ku? Mengapa sesak yang begitu nyatanya selalu menghujam dadaku setiap mengingatmu? Haruskah kau kuperjuangkan lagi?

Elegi pagi ini mungkin sampai disini. Biar aku melanjani hariku dahulu meskipun mungkin esok pagi akan ada elegi lagi.

Makassar, 01 Desember 2014

Karya : Indah Nasir