Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 1 Agustus 2018   14:29 WIB
Hujan

   Hujan berkisah dengan caranya. Luruh ke bumi membentuk formasi menyerbu yang tak tertandingi. Menghalangi beberapa makhluk bumi dengan segala kesibukan masing-masing. Tapi hujan, bagaimanapun ia tetap rahmat. Hanya cara manusia yang terlampau serakah yang bisa mengubahnya menjadi sebuah bencana dan malapetaka.

   Hujan. Yang kupandangi saat ini dengan caraku. Ribuan bahkan jutaan tetes yang tak pernah istirahat sejak tadi. Menghalangi beberapa rencana yang telah kususun rapi sejak semalam. Tapi aku tak akan protes apalagi memarahi hujan. Untuk apa? Duduk menulis sembari menatap sesekali jendela yang terkena tampias hujan lebih dari cukup untuk menenangkan hati yang penat akan kesibukan ibukota yang kutinggalkan beberapa hari ini. Pun suara gemuruh merdu khas hujan yang mendenting penuh di atap rumah, cukup untuk mengobati suntuk yang akut dengan aktifitas-aktifitas penuh belakangan ini yang menyita banyak waktu dan tenaga.

   Hujan di kampung halaman. Sungguh suasana yang jauh berbeda dengan hujan di ibukota, tanah rantauan. Meski sama saja kenyataannya bahwa yang jatuh tetaplah pasukan air, tapi momen yang jauh lebih menentramkan dan jauh lebih bersahaja terasa tetaplah hujan di kampung halaman. Bersama keluarga dan teduhnya rumah.

   Hujan hari ini, hujan di hari yang mulia. Adalah waktu-waktu mustajabnya doa ketika hujan, pun di hari yang mulia hari Jum’at. Maka kupandangi hujan dan kulantunkan doa melalu tulisan ini. Tulisan yang lahir dari mendungnya kehidupan yang membungkus jiwa akhir-akhir waktu yang telah terjalani ini.

   Doa dan harapan tentang masa depan yang justru semakin dekat perjalanannya semakin samar nampaknya. Jika dulu aku menggebu-gebu ingin menjadi apa saja - diplomat, pendidik, anggota KPK, kepala museum, staf kenegaraan, pegawai di beberapa instansi pemerintah– saat ini semua kosong, hampa terasa tak tahu ingin kemana. Pendidikan perguruan tinggi yang tengah kutempuh, Pendidikan Geografi Bilingual, justru menjadi bumerang takdir. Yah , dulu itu memang aku yang langsung memilihnya. Dulu itu memang aku tergesa-gesa, takut terisolasi oleh waktu dan memilih secepat kilat. Dan sekarang? Sungguh tak ada penyesalan di di awal cerita. Aku tertikam pilihanku sendiri. Di Geografi aku sama sekali tak menemukan diriku. Tak ada jiwaku disana. Tak ada cita-cita yang ingin kucapai. Tak ada pikiran dan rasa yang menyatu. Semua aktifitas terjalani dengan hampa, begitu saja.

   Geografi? Aku tak pernah menyangka akan semenyeramkan ini. Dunia dan orang-orangnya yang keras. Tapi bukan, bukan itu yang menghantuiku paling utama. Aku tak pernah menyangka di Geografi yang ketika aku Aliyah dulu menjadi mata pelajaran jurusan IPS, di tempatku sekarang malah begitu akrabnya dengan ilmu-ilmu exacta menyebalkan nan menyeramkan. Yah, itulah momok terkuatku, hantu tak nampak. Kimia, Fisika, Kalkulus, Biologi ,ahh kenapa? Kenapa harus bertemu mereka lagi?

   Mereka, kumpulan ilmu-ilmu exact itulah yang membuatku ingin lari, pergi menjauh. Kenapa pula Geografi harus bernaung dalam fakultas MIPA jika di bangku sekolah justru menjadi mata pelajaran IPS? Kesalahan kurikulum? Rancunya sistem pendidikan? Entahlah, yang jelasnya rencana indahku untuk tak terbelenggu exacta lagi selepas Aliyah, runyam tak terbantahkan saat kudapati barisan ilmu-ilmu pasti itu dalam kertas KRS-ku. Rencana indahku untuk menekuni ilmu dinamis di perguruan tinggi serasa pupus seketika. Memang salahku tak mendalaminya lebih dulu. Hanya mengambil kesimpulan dari apa yang terlihat.

   Geografi? Tak terpikir dahulu bahwa ia adalah ilmu bumi. Tentu sejawat dengan ilmu-ilmu pasti. Dulu itu aku tergesa-gesa, terlampau tergesa-gesa. Terpancing bayangan passing grade dan tentu rasa gengsi. Andai dahulu aku tak termakan rasa jumawa kelulusan di universitas yang cukup ternama di ibukota, mungkin Sastra Arab yang juga kululusi bisa kutekuni indah hari ini.  Ahh kata “andai” hanya membuat luka hati semakin menganga. Dulu aku terlampau bebal untuk berpikir jernih.

   Kalian berpikir aku hiperbola? Terlalu berlebihan dalam menyikapi ilmu exact? Andai kalian tahu aku tak pernah berbaikan dengan ilmu-ilmu pasti itu. Terlampau benci mungkin.  Ahh, urusan ini sungguh tak pernah sesederhana kata benci itu sendiri. Sungguhan, aku tak menyukai mereka, begitu membencinya, tak ada rasa. Aku muak melihat angka, aku tak suka rumus-rumus menyebalkan, proses pengerjaan mereka yang begitu rumit. Sama sekali tak ada asyik-asyiknya. Dan menyebalkannya lagi, kebanyakan orang justru menganggap istimewa mahluk-makhluk penggila angka. Jenius mungkin. Itu tak adil, penilaian yang sungguh tak adil . IQ tak hanya dinilai melalui angka-angka bukan?

   Hey, untuk kalian si jenius dalam exacta, aku mohon maaf betapa vulgarnya pendapatku. Tapi begitulah kisah angka-angka kesayangan kalian dan aku. Bahkan aku tak pernah menyukai matematika sejak masuk sekolah .

   Lalu tentang mengabu-abunya masa depan, itulah salah satu mendung yang menggelayutiku. Tetapkah aku disini, di Geografi? Atau mencoba lagi peruntungan di kesempatan berikutnya? Memilih yang benar-benar menjadi jiwaku? Memilih pun tak pernah sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Aku mempertimbangkan banyak hal, termasuk tentang orang tuaku. Akankah mereka mengizinkan niatku untuk mencoba kembali? Disinilah, disinilah titik tersulitnya memilih.

   Aku bahkan berpikir tentang Mesir, mencoba peruntungan di Al-Azhar, berkuliah disana? Ataukah mencoba beasiswa Kemenag, mendaftarkan diri di tanah Jawa, Bandung mimpiku? Ahh sudahlah, terlampau sesak mengingat tentang Bandung. Atau tetap di Makassar? Unhas? Tetap di UNM? Atau memilih berkumpul dengan teman-teman di UIN? Memilih benar-benar tidak pernah sederhana.

   Mendung ini Tuhan, mohon luruhkanlah segera menjadi hujan sebagai jawabannya. Galau yang begitu sempurna kurasakan kini. Jawaban atas gelisah-gelisah panjang untuk perkara “tetap tinggal” atau “mencoba kembali”. Momen hujan dan hari Jum’at ini, dalam doa aku sungguh memohon jawaban.



-Tertulis saat-saat kebimbangan-
Mangkoso, 23 Desember 2014

Karya : Indah Nasir