Ingin Jadi Apa?

Indah Nasir
Karya Indah Nasir Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Agustus 2018
Ingin Jadi Apa?

   Aku ingin menjadi apa? Sungguh sekarang aku bingung ingin menjadi apa. Kemarin-kemarin aku bermimpi kuat ingin menjadi seorang diplomat. Tapi semakin kesini ada yang kusadari penuh, aku tak pandai berdiplomasi. Masalah? Tentu itu urgen, kemampuan diplomasi tentu menjadi syarat utama menjadi seorang diplomat handal. Tak sekadar penguasaan bahasa. Sayangnya aku sadar diri, aku tak punya kemampuan berdiplomasi dengan baik. Meski aku mengakui aku sangat terobsesi pada penajaman kemampuan berbicaraku.

   Lalu ingin jadi apa aku di masa depan? Itulah yang kini gamang kurasa. Tak ada yang jelas di pikiranku saat ini. Diplomat? Aku terlanjur minder. Anggota KPK? Aku tak punya mental yang tangguh untuk berhadapan dengan dunia politik. Atau malah kembali pada hakikat kemampuanku dan kegemaranku yang sesungguhnya, sejarawan. Ahh, entah! Saat ini aku merasa tak tertarik dengan itu meskipun sampai saat ini aku masih sangat mencintai sejarah.

   Ingin jadi apa aku? Tapi yang kutemukan adalah aku merasa nyaman saat membayangkan diriku berada di antara kertas-kertas dan menekuni laptop di hadapan. Aku menelaah kertas-kertas itu satu-satu. Entah apa isi kertas-kertas itu. Itu hanya bayanganku. Dengan bayangan itu, ingin jadi apa aku sebenarnya?
 
   Dan di lain kesempatan kutemukan diriku berbicara dengan retorika yang mumpuni. Yah, aku membayangkan diriku menjadi seorang pembicara. Aku berdiri di hadapan banyak orang membawakan materi yang menjadi bidangku. Dan orang-orang mendengarku dengan khidmat, menyelami makna kata demi kata yang kulontarkan. Dengan bayangan itu, ingin jadi apa aku sebenarnya?

   Saat ini aku berkutat dengan tanya itu setelah memutuskan berhenti dari perkuliahan karena aku merasa salah jurusan. Salah jurusan? Yah, problema itu sedang menimpaku. Dan keputusan berat untuk berhenti telah kupilih.

   Meski menyukai dunia kepenulisan, aku tak sepenuhnya ingin berprofesi menjadi penulis. Kata Ibuku, bahkan seorang dokter pun bisa jadi seorang penulis. Dan aku setuju dengan ibuku. Aku memang ingin tetap berkarya dengan tulisanku meskipun aku tak menjadi penulis sepenuhnya. Tak apa kan? Hal tersebut tak akan mengurangi makna tulisan itu sendiri.

   Lalu ingin jadi apa aku?

   Biar kusimpan tanya itu hingga aku bisa menemukan jawab yang terang.

 
Makassar, 5 April 2015

  • view 60