Relatifitas yang Terjawab oleh Pendiri Apple

Inae Cocoon
Karya Inae Cocoon Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Maret 2016
Relatifitas yang Terjawab oleh Pendiri Apple

"Ah.. Mungkin memang kameranya yang salah", gumamku ketika melihat hasil shoot yang bener beda jauh pakek anget, sama objek bidikannya.

Era bedak, mungkin begitu julukan yang cocok buat sekarang ini. Dimana pencitraan lebih gencar digiatkan. Hem.. Jangan-jangan akunya.. juga. *aduh kebongkar

Seberapa jauh istikomah aku? Belom jauh-jauh tuh, masih di sebelah rumah, 3 langkahan kayaknya. *Heyak, nggilani.

Eh, berbicara tentang kemandekan, ada satu kalimat yang itu mengganggu.

"Segala sesuatunya relatif"

Selama kalimat itu menjadi panutan dan terus aku aamiini, ada bencana yang perlahan aku tanam dalam diri. Apa? Mau ngomong serasa kelu. Lha gimana, wong semua relatif. Menurut aku bener, belom tentu bakal disahkan orang. Begitu juga soal salah, gak mesti.

Naasnya, dalam beberapa waktu aku terus terombang-ambing. Kayak naek pelepah pisang diatas samudra, ngambang. Entah hidup itu yang bener kayak gimana. Bahkan sampai sekarang masih berpusing miring, mencari solusi buat menyikapi pandangan baik yang menyesatkan itu.

Kemudian akhirnya aku dipertemukan dengan pendiri apple. Kami tidak sengaja bertemu, ketika itu matahari sedang terik dan aku menabraknya, di suatu kafe dan menumpahkan kopi di kemeja kotaknya. *aish

Ada beberapa kalimat yang bapaknya berikan sebagai imbalan atas perbuatanku. Nasehat yang sempurna. Sekalipun sampai sekarang aku masih meraba-raba maknanya.

"Kamu ngelamun? Makanya jangan terlalu memikirkan seseorang hingga kewarasanmu terenggut"

Eh, enggak sejahat itu ding bahasanya, kayak gini..

"Your time is limited, so don't waste it living someone else's live. DON'T BE TRAPPED BY DOGMA-WHICH IS LIVING WITH THE RESULTS OF OTHER PEOPLES'S THINKING."

To yang aku tegaskan, pas banget buat resolusi pandangan baik yang menyesatkan. JANGAN TERJEBAK DENGAN DOGMA YANG ADA. Ya sekalipun kalimat pertamanya juga ngena banget. *Hiks

Mencoba mengurai, hingga menemui simpulan.

"Sekalipun hidup ini benar relatif tapi akunya wajib 'ain punya standar ideal yang harus aku penuhi. Kompetensi apa yang hendaknya ada dalam diriku harus segara dibuat list kemudian dibiasakan biar segera melekat pada diri."

Kalimat penguat selanjutnya yang hendaknya dipegang kukuh bagi yang tukang galau. *aku enggak, enggak keliru maksudnya

"Don't let the noise of other's opinions down out your own inner voice"

Kita enggak pernah bisa membahagiakan semua orang. Dari itu, jangan biarkan opini orang lain lebih kita dengarkan, hingga menenggelamkan suara hati. *aduh nyesek

Satu kalimat penutup.
"Don't change so people will like you. Be yourself (the best version of you) and the right people will love you"

Udah, segitu ajah dulu yah. ^^

  • view 120