Menebar Kebaikan Meski Tanpa Balasan

Ina Salma Febriany
Karya Ina Salma Febriany Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Januari 2016
Menebar Kebaikan Meski Tanpa Balasan

"De, kamu diminta buat jadi penulis sejarah Islam. Redakturnya yang minta langsung,"

?

Isi pesan singkat suami suatu sore. Jleb! Penulis sejarah Islam? Kayaknya berat banget bayangannya, hehe..

?

"Lho? Kenapa?" jawab pesan singkat saya ke suami

"Iya, mungkin sudah saatnya kamu beralih ke konten yang lain. Jangan HIKMAH terus, hehe," jawabnya

"Lho kok redaktur tau kamu suamiku?"

"Eh iya ya, aku juga nggak tau kenapa dia bisa tau. Tau-tau aku ditegor. Gila ya, isteri Lo rajin banget nulis!"

?

hahaha, ketauan kan, mungkin iya tu redaktur mau muntah saya kirimin tulisan terus :)

----Saya pun berpikir sejenak----

Ada banyak jalan berlika liku sehingga saya ---dengan seizin Allah--- bisa sampai di titik ini..

Ya, setelah dipikir-pikir sudah hampir empat tahun ini (setelah saya putuskan mengubur mimpi menjadi wartawati), saya kerap menulis catatan singkat berupa pesan-pesan Al-Quran dan Hadits, lalu saya kirimkan ke sebuah media dimana sempat saya freelance untuk keperluan karya akhir strata satu; waktu itu.

?

Media Islam Nasional pertama yang berkantor di kawasan Warung Buncit, tepat berhadapan dengan mall esar nan elite sekitaran Pejaten. Apakah selama menulis saya dibayar? hehe, tentu tidak. Semua bisa dan boleh menulis hingga mungkin jika mau mengirimkan hasil tulisannya tapi harus siap bahwa jika tulisan dipublish, penulis tidak mendapatkan hal-hal yang berbau materi.

?

Pertimbangan saya bagaimana? Kok mau menulis tanpa menerima bayaran?

?

Sering sekali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan bagus seperti di atas. Kalau saya diminta untuk menjawab, maka saya akan jawab bahwa menulis adalah berbagi. Ketika kita mampu menulis (tentu dengan izin dan ilmu dari Allah), itu berarti kita sedang berjuang melawan kemalasan) dan ketika tulisan kita pula menginspirasi banyak orang; itulah hakikat kehidupan sebenarnya; yakni berbagi.

?

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat kepada manusia lainnya?

?

Sejak karya saya dimuat di kolom HIKMAH (versi online) pertama kali, saya jadi ketagihan. Yang saya pikirkan waktu itu hingga kini adalah menulis dan menulis, tanpa memikirkan hadiah-hadiah atau kejutan di akhirnya..

?

Tibalah suatu hari, saya mencoba mencopy semua karya yang pernah dimuat dan saya print out satu persatu; Alhamdulillah, tak terasa hampir 100 tulisan termuat tapi hanya mampu saya print 60 tulisan saat itu. Dan akhirnya, saya berikan tulisan itu kepada salah satu rekan saya di Pusat Studi Al-Quran sewaktu saya berkesempatan mendapatkan beasiswa AL-Quran dengan bisa belajar langsung tafsir Al-Quran bersama pakar dan tentu saja dengan Prof Dr Muhammad Quraish Shihab.

?

Saat itu pun sama; saya hanya murni memberikan hasil tulisan saya saja tanpa berpikir akan bagaimana nasib puluhan artikel itu..

?

Dan awal tahun 2016 inilah jawabannya..

"Bisa datang ke penerbit Mbak? Kami tertarik membukukan kumpulan tulisan yang pernah Mbak kasih ke saya. Salam. Zayadi,"

?

Saya berpikir ulang, "Karya yang mana ya?" hampir lupa karena hampir dua tahun berlalu. AKhirnya tanpa mau bingung berkepanjangan, saya pun memenuhi undangan. Ternyata benar! kumpulan tulisan di media online yang pernah saya berikan ke beliau. HIKMAH.

?

Semua mengalir apa adanya...

Bismillah, saya setujui jika kumpulan tulisan itu dibukukan dengan harapan: mungkin akan memberikan banyak kebaikan.

Beberapa minggu berlalu, pihak editor manager pun akhirnya menghubungi saya lebih lanjut via mail.

?

"Bu, insyaAllah buku Ibu akan kami terbitkan di pertengahan bulan depan 2016 dan kalau Ibu tidak berkeberatan untuk launching sekaligus dibedah di Islamic Book Fair 2016. Ibu bersedia?"

?

-------Subhaanallah---------

Saya terima email itu, tepat saat anak saya masih opname di RS. Entah harus apa saya saat itu. Luapan bahagia yang sulit saya lukiskan. Antara senang dan ingin menangis. Betapa Allah selalu menepati janji-janji-Nya. Betapa dulu, saat saya ke IBF saya hanya mampu menatap para speaker di depan panggung dan berkhayal, "Kapan ya saya bisa duduk di sana?" ya, khayalan yang iseng-iseng belaka, namun akhirnya Allah-lah yang Maha Memberi Jalan dan membuka segala kemungkinan di tengah pikiran-pikiran saya yang merasa 'tidak mungkin'.

?

Akhirnya, pada Allah-lah saya berharap. Semoga hari H itu tiba, Allah masih memberi saya usia dan kesehatan..

?

Teruslah berbuat baik..

Sebab Allah Maha Baik..

Jangan pernah risau akan balasan..

Sebab Allah Maha Menyaksikan

Cukup Allah saja..

Ya, benar-benar cukuplah hanya Dia; yang Maha Membalas, dengan seindah-indahnya balasan...

?

Salam inspirasi!

  • view 206