Realita kita ( untuk kekasihku yang ku dapat dari Ayah)

Imsakiyah Homisah
Karya Imsakiyah Homisah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 April 2018
Realita kita ( untuk kekasihku yang ku dapat dari Ayah)

Realita kita ( untuk kekasihku yang ku dapat dari Ayah)
Mungkin aku sudah menukarnya. Kebebasan, warna-warni kisah. Cinta, ekspresi dan semua hal indah yang seharusnya ada saat ini. Dengan kamu. Dengan perjanjian yang tak lucu. Waktu itu aku baru berumur 15 tahun, hampir 16, aku ingat sekali karena beberapa hari setelah kita dipertemukan, kamu datang memberi hadiah ulang tahun di umur 16-ku. Entah itu tulus atau hanya dipaksa orang tuamu, aku tak pernah benar-benar tahu.
 
Begitu juga dengan kamu. Tak mudah untuk berkata memilih penjara. Pengorbananmu tak hanya mendatangkan iba. Aku memang harus mengalah mengakuinya. Aku mencintaimu. Selang waktu berlalu, aku baru tahu bahwa kamu benar-benar menjadi hadiah terindah buatku. Meski beribu aral menghalangi kita. Entah kenapa kau tetap sabar. Aku yang tak pernah sesabar kamu. 
 
Kau lebih dulu menjalani hidup dibanding aku. Hingga memang kadang aku merasa iri. Karena takdir lebih cepat merampas segalanya. Tuk kubayarkan agar mendapatkanmu. Mungkin aku kehilangan semua yang mesti ada. Mungkin aku menukarnya denganmu. Tapi kamu tak mungkin aku tukar. Dengan segala apapun.
 
Sungguh . . .
 
Baiklah aku mengaku . . .
 
Kenapa aku tak seumuran denganmu? kenapa aku tak mencoba mengenalmu sejak awal? kenapa aku tak satu sekolah denganmu?  hingga aku bisa meminta takdir untuk mempertemukan kita di sana. Mengapa aku bukan pacar pertamamu? Yang kau temukan di sudut sekolah berseragam putih abu-abu. Seperti kisah cinta pada umumnya. Mengapa aku tak cepat menghampirimu?  Kau juga. Mengapa kita dipertemukan dengan cara seperti ini? Oh, mengapa takdir kita seperti ini?. Meskipun begitu kau tetap tersenyum menerima dan melindungi aku sejauh yang kau bisa.
 
Baiklah aku mengaku . . .
 
Barangkali ini keistimewaan hubungan kita. Aku sudah jadi Siti Nurbaya dan kau Datuknya. Meski kau masih gagah dan tak setua dia. Setidaknya kisah ini menjadi bukti. Bahwa tak selamanya derita itu derita. Bahwa cinta itu tak mesti bertemu di ujung jalan atau sekolah. Percayalah sayang. Aku bersyukur mendapatkanmu . . . 

  • view 87