"SELAMATKAN HIDUP dari STRES dengan COPING”

Imsakiyah Homisah
Karya Imsakiyah Homisah Kategori Psikologi
dipublikasikan 04 April 2018

 “SELAMATKAN HIDUP dari STRES dengan COPING”
Di era modern ini hampir setiap individu mengalami stres. Stres dialami oleh setiap orang dengan tidak memandang jenis kelamin, usia, jabatan, atau status sosial maupun ekonomi. Stres dalam bentuk apapun merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut Machmud (salah seorang jajaran direksi Rumah Sakit Jiwa Bandung) dalam Mashudi ( 2011: 180), dalam tiga bulan terakhir ( Agustus – Oktober 2010), terjadi peningkatan ganguan jiwa di kalangan anak dan remaja di Jawa Barat. Sebelumnya, pasien rawat jalan di kalangan anak dan remaja hanya beberapa orang dalam satu bulan. Setelah itu, mencapai angka antara 20-60 pasien rawat jalan per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa kasus stres telah meningkat dan tidak mengenal usia. Dalam rangka mengembangkan keterampilan keselamatan dan kelangsungan hidup, setiap individu diharapkan mampu untuk mengidentifikasi dampak dari stres dan menemukan cara yang tepat untuk mengaturnya. Menurut Lazarus dalam jurnal Segarahayu (2013:3), apabila stres tidak ditangani dan dikelola dengan baik, maka akan memberikan efek jangka lama akan berdampak pada timbulnya penyakit, gangguan somatik, gangguan kesehatan, dan gangguan fungsi sosial (http://jurnal-online.um.ac.id). Hal ini berarti manajemen stres atau yang biasa disebut coping, sangat penting untuk direalisasikan.
 
Defenisi Stres
Menurut San Luis Obipo dalam jurnalnya, stres didefenisikan sebagai respon pada sebuah tuntutan yang menimpa seseorang (http://sas.calpoly.edu/asc/ssl.html ). Dalam jurnalnya, Uma Devi T. (2011:1) Menyebutkan bahwa stres adalah reaksi adaptif seseorang pada situasi luar yang berkaitan dengan perubahan fisik, mental, dan tingkah laku (www.gsmi-ijgb.com).
Menurut Mashudi (2012:189) stres adalah perasaan tidak enak, tidak nyaman, atau tertekan, baik fisik maupun psikis, sebagai respon atau reaksi individu terhadap stressor (stimulus yang berupa peritiwa, objek, atau orang) yang mengancam, mengganggu membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahteraan hidup.
Mashudi (2012:184) menjelaskan bahwa stres dapat memberikan dampak positif dan dampak negatif. Pengaruh positif dari stress adalah mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negatifnya adalah menimbulkan perasaa-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah atau depresi yang kemudian dapat memunculkan penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi atau stroke.
Dalam Jurnal Segarahayu (2013:4) menyebutkan pendapat Taylor (2003) dan juga disebutkan oleh Davis dan Nelson dapat disimpulkan bahwa tanda-tanda atau gejala stres pada umumnya dapat dikelompokkan sebagai berikut di bawah ini (http://jurnal-online.um.ac.id):
 
Aspek Emosional (Perasaan). 
Meliputi: merasa cemas (feeling anxious), merasa ketakutan (feeling scared), merasa mudah marah (feeling irratable), merasa suka murung (feeling moody), dan merasa tidak mampu menanggulangi (feeling of inability to cope)
Aspek Kognitif (Pikiran) . 
Meliputi: Penghargaan atas diri rendah (low self esteem), takut gagal (fear failure), tidak mampu berkonsentrasi (inability to concentrate), mudah bertindak memalukan (embarrassing easily), khawatir akan masa depannya (worrying about the future), Mudah lupa (forgetfulness), dan emosi tidak stabil (emotional instability)
Aspek perilaku sosial. 
Meliputi: Jika berbicara gagap atau gugup dan kesukaran bicara lainnya (stuttering and other speech difficulties), enggan bekerja sama (uncooperative activities), tidak mampu rileks (inability to relax), menangis tanpa alasan yang jelas (crying for no apparent reason), bertindak impulsif atau bertindak sesuka hati (acting impulsively), mudah kaget atau terkejut (startling easily), menggertakkan gigi (grinding teeth), frekuensi merokok meningkat (increasing smoking), penggunaan obat-obatan dan alkohol meningkat (increasing use of drugs and alcohol), mudah celaka (being accident prone), dan kehilangan nafsu makan atau selera makan berlebihan (losing appetite or overeating)
Aspek fisiologis. 
Meliputi: Berkeringat (perspiration/sweaty), detak jantung meningkat (increased heart beat), menggigil atau gemetaran (trembling), gelisah atau gugup (nervous), mulut dan kerongkongan kering (dryness of throat and mouth), mudah letih (tiring easily), sering buang air kencing (urinating frequently), mempunyai masalah dengan tidur (sleeping problems), diare/ ketidaksanggupan mencerna/ muntah (diarrhea/ indigestion/ vomiting), perut melilit atau sembelit (coil arround in stomach), sakit kepala (headaches), tekanan darah tinggi (high blood preasure), dan sakit pada leher dan atau punggung bawah (pain in the neck and or lower back).
 
Apa itu Coping?
Coping sering disebut juga dengan pengelolaan stres atau manajemen stres. Menurut R. S. Lazarus & Folkman dalam Mashudi (2012:221) coping adalah proses mengelola tuntutan (internal atau eksternal) yang ditaksir sebagai beban karena di luar kemampuan diri individu. Sedangkan menurut Weiten & Lloyd ( Mashudi, 2012:221) coping merupakan upaya-upaya untuk mengatasi, mengurangi, atau menoleransi ancaman menjadi beban perasaan yang tercipta karena stres. Dalam jurnal Segarahayu (2013:5) menurut Schafer coping atau manajemen stress diartikan sebagai suatu program untuk melakukan pengontrolan atau pengaturan stres dimana bertujuan untuk mengenal penyebab stress dan mengetahui teknik-teknik mengelola stres, sehingga orang lebih baik dalam menguasai stress dalam kehidupan daripada dihimpit oleh stress itu sendiri (http://jurnal-online.um.ac.id).
Dari penjelasan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa coping atau manajemen Stres adalah segala bentuk teknik yang dapat membuat seorang individu menguasai stres yang sedang menimpanya sehingga stres tersebut tidak dapat menganggu akivitas kehidupannya.
Menurut Mashudi (2012:222) kegiatan coping meliputi :
Mengurangi kondisi lingkungan yang berbahaya
Bersikap toleran terhadap peristiwa yang negatif
Memelihara citra diri yang positif
Memelihara keseimbangan emosi
Memelihara hubungan yang positif dengan orang lain
Terdapat dua jenis coping terhadap stres, yaitu coping positif dan coping negatif (Mashudi, 2012:228). Berikut penjelasan masing-masing.
Coping Negatif
Menurut Weitten Lloyd, coping  negatif meliputi beberapa hal. Pertama, melarikan diri dari kenyataan atau situasi stres, yang dapat berbentuk seperti sikap apatis, kehilangan semangat, atau perasaan tak berdaya, dan meminum minuman keras atau mengonsumsi obat-obatan terlarang. Kedua, agresif, yaitu berbagai perilaku yang ditujukan untuk menyakiti orang lain baik secara verbal maupun non verbal. Ketiga, memanjakan diri dengan berperilaku konsumtif. Selajutnya, mencela terhadap diri sendiri sebagai respon terhadap frustasi atau kegagalan dalam memperoleh sesuatu yang diinginkan. Terakhir, mekanisme pertahanan diri, seperti menolak kenyataan dengan cara melindungi diri dari suatu kenyataan yang tidak menyenangkan.
Coping Positif
Menurut Mashudi (2012:229) coping positif atau konstruktif diartikan sebagai upaya-upaya untuk menghadapi situasi stres secara sehat. Beberapa ahli psikologi sudah lama memperkirakan bahwa humor merupakan respon coping ynag positif, humor berfungsi mengurangi dampak buruk stres terhadap suasana hati seseorang.
Ciri-ciri coping yang bersifat positif menurut Mashudi (2012:229) antara lain sebagai berikut
Menghadapi masalah secara langsung, mengevaluasi alternatif secara rasional dalam upaya pemecahan masalah tersebut.
Menilai situasi stres didasarkan pada pertimbangan yang rasional
Mengendalikan diri (self-control) dalam mengatasi masalah yang dihadapi
Coping yang konstruktif dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan atau metode, di antara adalah sebagai berikut (Mashudi, 2012:229-232).
Rational-emotive Therapy
Pendekatan terapi yang memfokuskan pada upaya untuk mengubah pola pikir klien yang irasional sehingga dapat mengurangi gangguan emosi atau perilaku yang maladaptif.
Meditasi
Latihan mental untuk memfokuskan kesadaran atau perhatian dengan cara nonanalisis. Melalui meditasi ini, seseorang dapat meredam atau mereduksi kekalutan emosinya.
Relaksasi
Menurut penelitian Lehrer & Woolfolk (1984) dalam Mashudi (2012:232), relaksasi dapat mengatasi kekalutan emosional dan mereduksi masalah fisiologis.
Mengamalkan Ajaran Agama sebagai Wujud keimanan kepada Tuhan
Seseorang yang taat beribadah dan memahami makna subtansi dari ibadah tersebut, maka ia memiliki sifat-sifat pribadi yang positif. Sehingga, ia mampu mengelola hidup dan kehidupannya secara sehat, bermanfaat, atau bermakna.
 
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap stres yang sering dihadapi oleh kebanyakan individu di era modern ini, dapat diatasi dengan berbagai cara agar tidak memiliki dampak yang membahyakan. Stres dapat berpengaruh pada kesehatan mental ataupun fisik. Cara untuk mengelola stres tersebut biasa disebut coping. Coping terdiri dari beberapa jenis yang biasa dilakukan seseorang untuk mengatasi suatu stres. Coping juga memiliki berbagai teknik yang bisa dilakukan dalam rangka mengelola stres agar tidak berdampak buruk pada fisik maupun psikis seseorang.
 
Daftar Rujukan
Devi, Uma T. 2011.  A Study on Stress Management and Coping Strategies With Reference to IT Companies. Journal of Information Technology and Economic Development 2(2), 30-48, October 2011 30 (www.gsmi-ijgb.com, diunduh 20 Maret 2015). 
 
Mashudi, Farid. 2012. Psikologi Konseling. Yogyakarta: IRCiSoD
 
Obispo, San Luis. Stress Management. Academic Skills Center California Polytechnic State University, (online), (http://sas.calpoly.edu/asc/ssl.html, diunduh 20 Maret 2015).
 
Segarahayu, Rizky Dianita. Pengaruh Manajemen Stres terhadap Penurunan Tingkat Stres pada Narapidana di Lpw Malang. Jurnal Psikologi, (online), ), (http://jurnal-online.um.ac.id, diunduh 20 Maret 2015).


Sumber thumbnail : healthcarepromotion.net

  • view 57