Eksploitasi seksual anak di Surabaya

Imsakiyah Homisah
Karya Imsakiyah Homisah Kategori Psikologi
dipublikasikan 03 April 2018
Eksploitasi seksual anak di Surabaya

STUDI PENANGANAN EKSPOILTASI SEKSUAL ANAK DI YAYASAN HOTLINE SURABAYA
 
Imsakiyah Homisah
 
Jurusan Bimbingan dan  Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya Lidah Wetan, Surabaya 60231, Indonesia
Email : imsakiyah2501@gmail.com  
Abstract
This article aims to dig up the handling of childern sexual expoiltation in Yayasan Hotline Surabaya and other institution which have been concluded as refferal organization to solve that case in order that childern get the rights in the middle of societies. This is a qualitative research using a case study approach to obtain information such how the the handling of childern sexual expoiltation in Yayasan Hotline Surabaya and other institution which have been concluded as refferal organization. The result shows that the handling of childern sexual expoiltation in Yayasan Hotline Surabaya is harmonious and various enough, for instance mentoring, counseling, training and referral programs to authorities such as psychiatry, child protection institutions, and others.
 
Keywords: child, handling, sexual exploitation.
 
 
Abstrak
Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penanganan ekspoiltasi seksual anak di Yayasan Hotline Surabaya serta lembaga apa saja yang turut dijadikan sebagai pihak rujukan dalam menangani ekspoiltasi seksual anak sehingga anak-anak tersebut mendapatkan hak yang sama di tengah-tengah kehidupannya dalam bermasyarakat. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus untuk memperoleh informasi tentang bagaimana penanganan ekspoiltasi seksual anak di Yayasan Hotline Surabaya serta lembaga apa saja yang turut dijadikan sebagai pihak rujukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan kasus ekpoiltasi seksual anak di Yayasan Hotline Surabaya cukup runtut dan beragam di antaranya program pendampingan, konseling, pelatihan hingga kegiatan rujukan pada pihak-pihak berwenang seperti psikiatri, lembaga perlindungan anak, dan lain-lain.
Kata Kunci: anak, penanganan, ekspoiltasi seksual.
 
 PENDAHULUAN
Anak merupakan anugrah yang diberikan Tuhan, dimana mereka merupakan cerminan dari generasi penerus bangsa yang akan datang. Kualitas suatu bangsa dapat diukur apabila adanya cerminan dari anak-anak bangsa yang baik saat ini sehingga anak harus dijamin dari segala kegiatan untuk melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002: 2).
 
Dewasa ini tingkat kekerasan dan ekspoiltasi terhadap anak semakin berkembang pesat. Salah satu kasus yang paling tinggi di Surabaya adalah kasus ekspoiltasi seksual terhadap anak di bawah umur 18 tahun. Anak secara tidak sadar menjadikan dirinya terekspoiltasi seksual oleh orang-orang dewasa maupun oleh teman seusianya. Kasus di Indonesia ditemukan banyak gadis yang memalsukan umurnya dan diperkirakan 30% pekerja seks komersil wanita berumur kurang dari 18 tahun, bahkan ada beberapa yang masih berumur 10 tahun. Diperkirakan pula terdapat 40.000-70.000 anak menjadi korban ekspoiltasi seks dan sekitar 100.00 anak diperdagangkan setiap tahun (Unicef dalam Kurniasari:2).
 
ILO (International Labour Organization) pada tahun 2003 memperkirakan jumlah pekerja seks komersil dibawah usia 18 tahun sekitar 1.244 anak di Jakarta, Bandung 2.511 anak, Yogyakarta 520, Semarang 1.623 dan Surabaya 4.990 anak. Jumlah tersebut diperkirakan pula dapat beberapa kali lipat lebih besar. Hal ini mengingat banyaknya pekerja bekerja di tempat-tempat tersembunyi, illegal dan tidak terdata. Di seluruh Provinsi Jawa Timur, menurut data yang ada terdapat jumlah pekerja seks komersial tercatat sebanyak 7.127 orang, dan sekitar 30% dari pekerja tersebut dilaporkan praktik di kota Surabaya. Sebagai kota metropolitan, di Surabaya memiliki enam lokalisasi dengan 534 mucikari dan 2.321 pekerja yang tersebar di berbagai wisma, belum termasuk pekerja yang praktik di luar kompleks lokalisasi (Bagong, 2012)
 
Sofian (2016:2) menyebutkan bahwa ekspoiltasi seksual anak adalah pelanggaran terhadap hak anak yang mendasar dimana anak dijadikan objek seksual dan objek komersial. Menurut ECPAT (End Child Prostitution in Asia Tourism) bentuk-bentuk utama ekspoiltasi seksual anak adalah pelacuran anak, pornografi anak dan perdagangan anak untuk tujuan seksual. Sedangkan pariwisata seks anak dan beberapa contoh perkawinan anak dapat dianggap sebagai bentuk-bentuk khusus dari pelacuran anak (http://www.ecpat.org).
 
Menurut Kurniasari (2016:10) istilah ekspoiltasi seksual disebut juga sebagai Ekpoiltasi Komersial Anak (ESKA), merupakan kejahatan seksual terhadap anak, atau bentuk tindakan seksual yang sangat keji terhadap anak-anak dan perempuan. Selain itu Ekspoiltasi dapat diartikan pula sebagai aktivitas seksual dari orang dewasa atau sebayanya dengan cara paksaan secara fisik maupun ancaman, tipu daya atau manipulasi emosional dalam bentuk perkosaan, penggunaan anak untuk tujuan seksual, sodomi, dan mempertontonkan alat kelamin.
 
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pada ekspoiltasi seksual anak, anak tidak hanya menjadi sebuah obyek seks tetapi juga sebagai sebuah komoditas. Ekspoiltasi seksual anak adalah penggunaan seorang anak untuk tujuan-tujuan seksual guna mendapatkan uang, barang atau jasa bagi pelaku ekspoiltasi, perantara atau agen dan orang-orang lain yang mendapatkan keuntungan dari ekspoiltasi seksual pada anak tersebut.
 
Anak rentan atau rawan merupakan suatu istilah untuk anak-anak tertentu yang mengalami suatu tekanan kultur maupun struktur di masyarakat yang mengakibatkan hak-hak mereka tidak terpenuhi. Yayasan Hotline Surabaya sudah mengadakan program anti trafficking sejak tahun 2000. Dari tahun 2000 sampai dengan 2010 dengan mengadakan program kampanye publik, penarikan dan reintegrasi ke keluarga, pencegahan di Banyuwangi (daerah pemasok pelacuran di Surabaya). Lalu mulai tahun 2011 fokus ke eksploitasi seksual komersial pada anak. Daerah miskin kota Surabaya mulai menjadi pemasok pelacuran; yang sebelumnya pemasok adalah perempuan-perempuan dari desa yang berurbanisasi ke kota Surabaya. Ada 100 anak yang berhasil ditarik dari situasi eksploitasi seksual komersial, direhabilitasi (psikologi-psikiatri, kesehatan dan pendidikan) dan diintegrasikan ke keluarga (http://www.hotlinesurabaya.or.id).
Yayasan Hotline Surabaya (YHS) adalah sebuah organisasi non profit yang mendukung isu dan permasalahan yang berkembang di masyarakat. Yayasan Hotline Surabaya berdiri sejak tahun 1989 yang pada mulanya merupakan deviasi sosial harian Surya. Pada awal berdirinya devisi sosial ini memberikan pelayanan konseling psikologis melalui surat, telepon, tatap muka dan konsultasi di rubrik “Hotline” Surya.
 
Pada tahun 2004 Yayasan Hotline Surabaya masuk pada issu anak setelah menemukan masalah yang kompleks yaitu masalah pelacuran, bahwa banyak hak anak yang terbaikan bahkan dilanggar. Yayasan Hotline Surabaya masuk melalui pencegahan dan penanganan trafficking dan ekspoiltasi seksual anak. Hingga pada saat ini Yayasan Hotline Surabaya masih bekerja di beberapa issu yaitu HIV & AIDS, trafficking dan penarikan, rehabilitasi dan reintergrasi anak korban ekspoiltasi seksual.
 
Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penanganan ekspoiltasi seksual anak di Yayasan Hotline Surabaya serta lembaga apa saja yang turut dijadikan sebagai pihak rujukan dalam menangani ekspoiltasi seksual anak sehingga anak-anak tersebut mendapatkan hak yang sama di tengah-tengah kehidupannya dalam bermasyarakat. Hal ini dikarenakan pandangan masyarakat terhadap anak-anak tersebut yang kurang menghargai dan memandang rendah mereka. Padahal sejatinya anak-anak tersebut adalah korban ekspoiltasi dari orang-orang dewasa maupun teman-teman sebayanya.
 
METODE PENELITIAN
 
Untuk menjawab tujuan tersebut maka kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yaitu menggali secara langsung ke lapangan maupun dengan literatur yang ada untuk mendapatkan fakta tentang bagaimana penanganan kasus ekspoiltasi seksual anak di Yayasan Hotline Surabaya. Data dikumpulkan melalui studi dokumen dan wawancara langsung dengan pihak yayasan. 
 
Data pertama yaitu dokumen atau literatur didapat melalui web dan fanspage resmi Yayasan Hotline Surabaya, dimana dalam web tersebut diinformasikan secara jelas mengenai program yang dilaksanakan dalam penanganan ekspoiltasi seksual anak Data selanjutnya didapat melalui beberapa informan di Yayasan Hotline Surabaya.
 
 
Data di analisa, dengan cara dikaitkan dengan proposisi dan mengelompokkan jenis-jenis data dalam satu kategori. Setelah data dikelompokkan  maka pola-pola tersebut diharapkan dapat memebrikan gambaran yang cukup jelas tentang-temuan yang dapat diinterpretasikan. Sehingga dapat diketahui penanganan kasus ekspoiltasi seksual anak di Yayasan Hotline Surabaya dan pihak apa saja yang dijadikan lembaga rujukan.
 
HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI
Berikut hasil studi dokumen atau literatur dan wawancara pada pihak Yayasan Hotline Surabaya.
Hasil studi dokumen atau literatur web dan fanspage Yayasan Hotline Surabaya: Terdapat program pelatihan anak-anak rentan, penarikan dan rehabilitasi anak korban ekspoiltasi seksual. Dalam rangka mencegah anak-anak untuk diekspoiltasi secara seksual, maka Yayasan Hotline Surabaya menawarkan kerja sama. Yayasan Hotline Surabaya menerima rujukan dari sekolah bahwa terdapat anak rentan yang teridentifikasi oleh guru BK, kemudian sekolah tersebut mengirimkan anak-anak tersebut untuk mengikuti pelatihan yayasan. Biaya pelatihan sepenuhnya ditanggung oleh yayasan. Pelatihan ini diperuntukkan bagi anak berusia 12-15 tahun. Adapun materi yang disampaikan dalam pelatihan antara lain:
Pubertas & Tugas perkembangan
Seksualitas Remaja
Personal skill & Sosial Skill
Kekerasan dan ekspoiltasi seksual
Gangguan emosi
Kehamilan dan aborsi tidak aman
Infeksi menular seksual (IMS)
HIV & AIDS
Kanker Servik
Narkoba
Selain itu, Yayasan Hotline Surabaya juga memiliki shelter untuk anak-anak korban ekspoiltasi seksual yang diberi nama “Omah Sahabat BETA” yang berarti rumah sahabat untuk belajar dan transformasi. Adapun kegiatannya antara lain:
Perpustakaan komunitas untuk anak-anak
Diskusi film dan buku
Diskusi dan konseling kelompok
Self Defens (karate praktis untuk menjaga diri)
Konseling individu yang dilakukan oleh konselor Yayasan Hotline Surabaya dan Psikiatri RS. DR. Soetomo.
Korban yang telah direhabilitasi selama minimal 1 tahun dan mengikuti berbagai program dan pertemuan intensif menjadi peer leader dengan mengelola organisasi bernama Kelompok Dukungan Bukan Perempuan Biasa untuk anggota yunior. Peranan mereka adalah menarik teman-temannya yang telah jadi korban maupun rentan untuk bergabung dalam Kelompok Dukungan.
 
Peranan lain setelah mereka terlibat dalam program adalah mendukung mereka untuk memiliki etos kerja yang baik (bukan menggunakan tubuh untuk bertahan hidup) dan menghargai pendidikan serta melihat pendidikan sebagai sarana untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Pendidikan dalam pengertian formal dan informal. Peranan Yayasan Hotline Surabaya adalah menfasilitasi program yang digagas bersama dan mendidik mereka untuk menjadi pemimpin dan mampu bekerja dalam tim.
 
Melalui mereka dan jaringan dengan sekolah dan komunitas Yayasan Hotline Surabaya mengambil peran pendidikan etos kerja, seksualitas dan kesehatan reproduksi, etika dan pembentukan karakter. Sedangkan pendidikan formal dirujuk ke sekolah. Semangat dari Kelompok dukungan ini adalah perempuan membantu perempuan. Yang yunior melakukan pengorganisasian sedangkan yang senior memberi model melalui pertemuan inspirasi yang diadakan. Jika Kelompok Dukungan ini telah berjalan maka akan dikembangkan memulai input dan peran mereka: sekolah dan komunitas ramah anak. Jadi proyek ini membuka partisipasi anak yang jadi korban dan rentan, orangtua, guru, dan komunitas selebar-lebarnya. Pada akhirnya Yayasan Hotline Surabaya bertindak fasilitator pemberdayaan anak, orangtua dan komunitas serta pemerintah.
 
Adapun pihak-pihak yang dijadikan lembaga rujukan Yayasan Hotline Surabaya antara lain:
Surabaya Children Crisis Centre untuk rujukan hukum.
Lembaga Perlindungan Anak Propinsi Jawa Timur mendapat rujukan anak dan bantuan pendidikan anak.
Psikiatri RSU Dr.Soetomo dalam mengatasi masalah-masalah psikiatri anak.
Dinas Sosial Kota Surabaya memberi pelatihan ke korban pelatihan pekerjaan dan bersama-sama mengembangkan Forum Monitoring Peraturan Daerah.
Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana untuk pelatihan korban.
Dinas Pendidikan untuk dukungan pendikan korban.
Polda Jawa Timur bagian Unit Trafficking
Pusat Pelayanan Terpadu Propinsi Jawa Timur dalam bentuk rujukan dan jaringan pembahasan kasus. 
Dunia Usaha dalam bentuk bantuan spontan ketika ada event.
Konsulat Amerika dalam bentuk dukungan untuk melakukan pencegahan bagi anak-anak rentan dan berisiko dalam bentuk Pendidikan Ketrampilan Hidup untuk seksualitas dan kekerasan berbasis gender, dan lain-lain.
 
Hasil wawancara dengan pihak Yayasan Hotline Surabaya:
Informan 1
Yayasan Hotline Surabaya bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Surabaya, dalam hal ini adalah sekolah tingkat menengah pertama. Langkah pertama dalam penanganan adalah mengidentifikasi anak-anak rentan ataupun anak-anak korban ekspoiltasi seksual. Setelah menemukan anak-anak dengan indikasi tersebut, yayasan kemudian mengerahkan beberapa relawan untuk melakukan pendampingan anak-anak tersebut. Pendampingan dilakukan dengan menjalin hubungan baik dengan korban agar mereka dapat terbuka dan percaya untuk menceritakan apa yang terjadi pada mereka. Adakalanya pendambing melakukan kegiatan konseling ataupun diskusi. Setelah terjalin hubungan baik, dan anak-anak tersebut sudah mempercayai yayasan untuk menangani mereka, kemudian Yayasan merancang jadwal pelatihan untuk anak-anak tersebut. Pelatihan dilakukan secara bertahap, sekitar 3 bulan. Materi pelatihan antara lain kesehatan reproduksi, Tugas perkembangan anak, narkoba dan lain-lain.
Informan 2
Sekolah yang menjadi sasaran Yayasan Hotline Surabaya biasanya sekolah swasta atau sekolah negeri pinggiran yang tersebar di Surabaya. Sekolah tersebut di ambil dari wilayah Surabaya utara, barat, timur dan Surabaya selatan. Sebagian besar anak-anak yang ditangani oleh Yayasan Hotline Surabaya adalah anak-anak dengan keadaan ekonomi menengah ke bawah, anak-anak dengan keluarga broken home,dan juga anak-anak yang tinggal di daerah bekas lokalisasi pelacuran di Surabaya.
 
KESIMPULAN & SARAN
Ekspoiltasi seksual anak merupakan penggalaran hukum yang menyebabkan anak kehilangan haknya sebagai generasi penerus bangsa. Ekspoiltasi seksual anak merupakan tindakan kejahatan dimana anak dijadikan objek seksual guna mendapatkan materi dan keuntungan bagi pelaku ekspoiltasi. Surabaya merupakan ibu kota provinsi Jawa Timur yang dikategorikan sebagai kota metropolitan, dimana Surabaya menjadi kota dengan pekerja seks komersil tertinggi dibanding kota-kota besar lainnya di Indonesia. Menurut ILO di Surabaya terdapat pekerja seks komersil  di bawah umur 18 tahun sejumlah 4.990 di Tahun 2003.
 
Dalam menurunkan angka tersebut, banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah maupun oleh lembaga swadaya masyarakat, salah satunya adalah Yayasan Hotline Surabaya. Yayasan yang telah berdiri sejak tahun 1989 ini memiliki program yang fokus untuk menangani kasus ekpoiltasi seksual anak, di antaranya adalah dengan program pendampingan, konseling, pelatihan hingga kegiatan rujukan pada pihak-pihak berwenang seperti psikiatri, lembaga perlindungan anak, dan lain-lain.
 
Penanganan kasus ekspoiltasi seksual hendaknya dilakukan oleh semua elemen masyarakat, terutama orang tua. Hal ini dikarenakan keluarga memiliki peranan penting dalam mendidik dan melindungi anak. Orang tua harus memebrikan dukungan kepada semua pihak yang berusaha menangani kasus tersebut.




Sumber thumbnail : tempo.co
 

  • view 44