PDKT KAWANKU

Ray Raymond
Karya Ray Raymond Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juli 2016
PDKT KAWANKU

    Hari yang baik untuk aku mendengarkan “bon jovi” konser dirumahku tanpa bayaran, karena sudah kubayar, dulu sekali, pada seorang penjaga kasir ditoko CD.

    Hari ini aku ingin menuliskan cerita, tapi bingung mau cerita apa. Tadinya sih aku mau cerita tentang Jepang, tapi aku belum pernah mengunjungi Jepang yang sesungguhnya. Yang aku tahu jepang adalah lafal akronim Jembatan Plumpang (Tanjung Priuk-Jakarta Utara). Yasudah, gak jadilah aku cerita tentang Jepang.

    Lalu aku mulai berpikir lagi, meskipun ini tidak jelas apakah berpikir atau melamun. Ah, bagiku itu adalah dua hal yang sangat sulit untuk dibedakan. Tapi tidak apa-apa, aku jadi kepikiran atau mungkin kelamunan tentang Adolf Hitler yang dulu kabur ke Indonesia dan sekarang tinggal di Kiaracondong Bandung, untuk lalu membuka usaha gosok batu akik. Tapi aku ragu, karena kejadian itu tidak tertulis didalam sejarah. Yasudah, gak jadilah aku cerita tentang Adolf Hitler.

    Oh ya, gimana kalo aku cerita tentang Matahari? Tapi aku takut nanti kalian bingung. Nanti kalian tidak bisa membedakan apakah itu Matahari yang selalu menerangi Bumi ataukah Matahari Department store. Yasudah, gak jadilah aku cerita tentang Matahari.

    Apa aku harus cerita tentang ibuku? Karena punya terompet yang terbuat dari kertas.

“Ibu! Itu terompet buat apa?” Kutanya.

“Buat ditiup pas nanti kalau ada maling masuk rumah.” Jawabnya.

    Ya, mungkin untuk mebuat si Maling mengira bahwa itu adalah terompet Sangkakala. Sehingga si maling jadi takut untuk lalu membatalkan niatnya untuk mencuri, karena dikiranya itu sudah kiamat. Tapi ini aneh. Yasudah, gk jadilah aku cerita kisah tentang “Ibu dan Terompet.”

    Mmmhhh, lebih baik aku cerita tentang si Dadan kawanku itu. Aku ingat ketika dia sedang PDKT pada seorang wanita di kampung sebelah, aku ingat betapa gembiranya dia pada waktu itu. Meskipun sesaat.

    Sore itu Dadan merenung di kamarnya. Dalam hatinya dia berkata

“sungguh yang paling aku takutkan di Dunia ini adalah melewati malam minggu sendirian.”

    Kenyataannya si Dadan sudah melewati itu selama kurang lebih dua puluh tujuh tahun lamanya. Tapi hingga saat ini dia tidak juga kebal terhadap serangan sabtu malam. Meskipun sebetulnya tidak terjadi apa-apa, selain ejekan dari para kawan. Ya, inilah sabtu sore, menjelang malam minggu. Untuk ke-ribuan kalinya dia dihadapkan pada ketakutannya. Sebenarnya sudah puluhan wanita yang Dadan dekati. Tapi, tak satupun yang sudi menerima cinta Dadan. Bukan karena dia tidak tampan, tapi itulah kenyataannya. Bukan karena dia bau badan, tapi memang iya. Bukan karena dia tidak mapan,dia cuma pengangguran.  Yasudahlah.

    Saat ini Dadan sedang tergila-gila kepada Siti, wanita dari kampung sebelah yang berusia kurang lebih empat puluh tahun. Entah apa alasan Dadan bisa sampai menyukai Siti, tapi kukira cinta memang tidak butuh alasan. Barangkali itulah sebabnya kenapa cinta dibilang buta.

    Selama ini Dadan tidak pernah melakukan pendekatan secara serius kepada Siti. Apalagi sampai ngobrol berdua, berbicara tentang hutang negara misalnya atau tentang kenaikan harga cabai merah dan juga tentang bagaimana cara alien hidup jika mereka tinggal di daerah Terminal Cicaheum Bandung. Tidak pernah Dadan lakukan itu, sekalipun tidak pernah. Si Dadan itu emang pemalu. Selama ini hanya berani memandang Siti dari jauh dan dia lakukan sambil sembunyi-sembunyi. Barangkali karena Dadan terlalu yakin bahwa cintanya akan bertepuk sebelah tangan.

“Apa yang akan dihasilkan dari tepukan tangan jika hanya sebelah? Hanya akan menghasilkan suara hembusan angin yang terbelah tangan.” Pikirnya.

    Ya, mungkin itulah yang dia cemaskan, suara tangis dari hati yang terbelah, akibat dari bertepuk sebelah tangan. Setidaknya Dadan percaya diri. Percaya kepada dirinya bahwa cintanya akan ditolak.

    Dadan pun memutuskan untuk pergi kerumah Arif, sahabatnya sejak kecil. Yang dikenal sebagai playboy cap cip-cup.

    Di rumah Arif, setelah Dadan bercerita panjang kali lebar tentang perasaanya kepada Siti, Dadan pun bertanya kepada Arif.

“Rif! Aku harus gimana dong?”

“Gini deh, Dan.Menurut kamu, apa itu cinta?” kata Arif.

“Mmmhh, cinta ya?” jawab Dadan kebingungan. “Apa ya rif?”

“Euh, malah balik nanya.” Jawab Arif kesal. “sepengetahuan kamu, apa itu cinta?”

“Oke deh Rif,  kalo menurutku, cinta itu bisa bertahan di temperatur suhu yang bisa membunuh kebanyakan makhluk hidup. Cinta itu bisa gak makan dan gak minum sampai berhari-hari. Cinta itu terbagi menjadi dua, ada yang punuknya satu dan ada juga yang dua. Banyak ditemukan di daerah gurun pasir.”

“Dan, itu mah Onta. Yang kita bicarakan itu cinta” jawab arif, datar.

“Oh, salah ya Rif?”

“Ah, sudahlah.”

“Ya, habis aku gak tahu, Rif.”

“Gini deh, pokoknya kamu kalau jadi cowok tuhharus romantis.”

“Maksudnya?”

“Coba kamu kasih dia bunga.”

“Bunga apa?”

“Apa aja, Dan. Yang penting wangi. Kalau bisa mah Bunga Bank, itu lebih bagus.”

“Yeee, aku kan pengangguran, Rif. Mana punya Bunga Bank.”

“Ya, apa aja deh, bebas. Asal jangan Bunga Bangkai.”

“Oke deh, Rif. Makasih ya.” Dadan-pun pamit, untuk segera pergi mencari bunga.

    Karena Dadan tidak mengerti sedikitpun tentang bunga, akhirnya Dadan memberikan kepercayaan kepadaku untuk mencari bunga.

“Mon! Bantu aku carikan bunga, buat Siti.”

“Bunga apa, Dan?”

“Apa aja deh, yang penting wangi. Paling wangi diantara yang wangi.”

“Oke, gampang itu mah. Duitnya mana? Sekalian buat beli Bensin.”

“Dari kamu dulu, Mon. Nanti kuganti”

“Euuhhh, kamu mah. Nyusahin aja.”

“Hehehehe.”

“Yaudah, nanti kucarikan.”

“Satu lagi, Mon.”

“Apa?”

“Jangan lupa, bungkus yang rapi. Hehehe.”

“Ya ampuuunnn, Daaannn.” Jawabku kesal.

“Makasih, Mon.”

“Iya.” Kupenuhi kemauannya meski sedikit terpaksa.

Cuma butuh satu jam untuk aku melaksanakan tugas suci yang Dadan percayakan kepadaku. Setelah semua selesai, aku pun pergi menuju rumah Dadan, untuk akan memberikan pesanan yang diminta.

“Dan! Nih udah beres. Sesuai permintaanmu, sudah kubungkus pake kertas kado.”

“Sekali lagi, makasih ya, Mon! Maaf udah ngerepotin.”

“Oke, santai, Dan.”

“Eh, tapi ini bunga apa, Mon?”

“Itu namanya Bunga Pasir, Dan.”

“Hah? Baru denger. Buka dulu ya, pengen lihat.”

“Jangan atuh, Dan. Ntar susah lagi bungkusnya.”

“Oh, gitu ya?Yaudahdeh. Makasih, Mon.”

“Sip, okedeh, akupulangdulu ya.”

    Lalu aku pulang tanpa memberitahu Dadan bahwa Bunga Pasir itu adalah Tai Kucing. Malang sungguh nasib Dadan, tapi gak apa-apalah, sekali-kali mesti dikerjain.

    Dadan-pun beranjak pergi ke kampung sebelah, untuk akan menemui Siti. Itu kira-kira pukul delapan malam. Pucuk di cinta, ulang tiba-tiba, Dadan mendapati Siti sedang duduk termenung di serambi depan rumahnya. Posisi rumah Siti itu tepat berada di pinggir jalan, jalan utama perkampungan tersebut. Dengan sejuta tiga ratus lima puluh satu perasaan deg-degan, Dadan dengan sengaja mondar-mandir melewati rumah Siti, untuk agar menarik perhatian Siti. Ya, Cuma jalan kaki, gakpake salto. Karena selain Dadan tidak bisa salto, Dadanpikir juga itu jalanan bukan tempat yang tepat untuk orang bermain akrobat.

    Akhirnya setelah sepuluh belas kali Dadan mondar-mandir, dengan berbekal doa dan juga percaya diri, Dadan-pun berani menghampiri Siti.

”Permisi! Ini rumahnya mbak Siti?” Tanya Dadan.

”Iya betul, saya Siti. Mas-nya siapa ya?”

 

“Perkenalkan, saya, Dadan. Pemuda dari kampung sebelah.” Seraya menjulurkan tangan.

“Oh, adaperluapa ya, Mas?”

“Eh, itu, Mbak. Anuuu, euuu.” Jawab Dadan kikuk. “Boleh saya Duduk?”

”Oh iya, silahkan.”

”Mbak Siti, sendiri aja? Suaminya mana, Mbak?” (Basa-basi busuk, Dadan).

”Saya belum menikah, Mas.”

”Oh, gitu ya? Bagus dong.”

”Lho, kok bagus, Mas?”

”Eh, enggak. Itu, mmhh anu.”

”Anu apa, Mas?”

”Itu, eeuummhhh.”

“Itu apa, Mas?” Tanya Siti yang mulai kesal karena merasa terganggu. “jujur saja, Mas. Tujuan, Mas-nya datang kesini ada perlu apa?”

    Karena dipaksa, Dadan-pun akhirnya berterus terang: “Gini, Mbak. Sebetulnya sudah lama saya memperhatikan, Mbak Siti. Sebenarnya saya sudah lama suka sama, Mbak Siti. Dari dulu pengen kenalan sama, Mbak Siti. Tapi malu, Mbak. Baru sekarang saya berani nyamperin, Mbak Siti.”

    Siti-pun  kaget, bahkan bingung harus jawab apa: ”Gimana ya, Mas? Saya kan belum kenal sama, Mas-nya. Kalau memang, Mas-nya suka sama saya, lebih baik kita jalan biasa aja dulu, Mas. Jalin komunikasi yang baik.” Sebetulnya Siti agak senang, karena sudah terlalu lama Siti menjalani hidup sendiri, tanpa ada perhatian lebih dari lawan jenis.

    Akhirnya mereka-pun ngobrol banyak, ngalor-ngidul. Dari mulai masa lalu mereka, kelangkaan daging sapi, kenaikan harga BBM, para Pejabat korup bahkan sampai peradaban Mesir mereka bicarakan.

    Sebelum pamit pulang, Dadan memberikan bingkisan yang sudah disiapkannya dari tadi.

”Ini, aku punya sesuatu buat kamu.” Ujar Dadan. ”Anggap saja sebagai hadiah perkenalan.”

”wah, apa ini?” tanya Siti yang mulai penasaran. ”Boleh aku membukanya sekarang?”

”Oh, tentu boleh.”

    Siti-pun membuka bingkisan tersebut dan alangkah kagetnya dia atas apa yang dia dapati di dalam bingkisan tersebut, yaitu bunga pasir alias tai kucing. Tanpa bicara dan dengan hati dipenuhi rasa marah, Siti menghampiri Dadan, untuk akan menamparnya dan lalu mengusirnya. Dadan-pun tidak di izinkan untuk menemui Siti lagi. Dadan kaget setengah mati, bahkan dia tidak tahu apa alasan Siti menamparnya. Dengan perasaan sedih Dadan-pun pulang. Sebelum pulang ke rumahnya, Dadan mampir dulu ke rumahku untuk bercerita tentang apa yang baru saja dia alami. Jujur ada sedikit penyesalan di hatiku, tapi itu kulakukan demi kebaikan Dadan. Maafkan aku, Dan! Menurutku Siti kurang cocok denganmu, karena beberapa alasan yang tidak bisa kusebutkan.

    Lagi pula, jika kupikir lagi, kadang bukan cinta yang perlu kau ungkapkan tapi dirimu yang pantas untuk menjalani cinta.  Jangan berharap untuk bisa memilikinya, karena apa? Bahkan dirimu sendiri bukan milikmu. Ada yang ”Maha Memiliki,” pantaskanlah dirimu untuk menjadi imam bagi keluargamu kelak.

Dan! Tuhan Maha adil, barangkali sudah disiapkannya jodoh yang terbaik untukmu. Kamu hanya perlu sedikit bersabar. Kita tidak pernah tahu tentang apa yang direncanakannya, kukira itu sengaja, supaya kita selalu berbaik sangka. Sekali lagi, Dan! Aku minta maaf atas apa yang telah kuperbuat kepadamu. Tapi inilah hidup, tempat segala kemungkinan bisa terjadi.

Satu  lagi, Dan! Cinta itu murni, murni itu emas, emas itu kuning dan kuning itu? (silahkan jawab sendiri, terserah kamu).

  • view 195