HIDUPKU DAN KETIBA-TIBAAN 2

Ray Raymond
Karya Ray Raymond Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Mei 2016
HIDUPKU DAN KETIBA-TIBAAN 2

     Ini adalah hari selasa, kalian tahu? Hari selasa adalah hari setelah senin dan sebelum rabu, tapi aku yakin kalian sudah tahu, jadi kenapa aku harus memberitahu lagi? Sebenarnya memang tidak ada yang mengharuskan, tapi kenapa aku mau memberitahu? Ah, sudahlah! Tidak perlu aku bahas, lagi pula siapa yang mau membahas hal seperti ini. Inilah hari selasa, apa? Kalian sudah tahu? Oh iya aku lupa. Pagi itu kira-kira pukul sepuluh waktu Indonesia bagian teras rumahku dan aku sedang melamun. “Uang tinggal 500 rupiah dan STNK motor dibawa ayahku sedangkan aku sekarang harus ke kota.” Aku tinggal di kabupaten Bandung dan kalau mau ke kota itu butuh waktu satu jam. Tadinya aku mau nekat pakai motor tanpa membawa STNK karena kalo pake kendaraan umum uangku tentu saja tidak akan cukup untuk membayar ongkosnya.


     Tiba-tiba Hadi kawanku lewat didepan rumahku untuk lalu menghampiriku,


     “Mon! Mau kemana?” Tanya dia.
     “Ke kota” jawabku.
     “Main yuk” katanya.
     “Kemana?”
     “Biasa”.

      Kalian tahu? Kata “biasa,” untuk kami itu berarti kami akan pergi entah dengan kendaraan umum atau membawa kendaraan pribadi atau bisa saja jalan kaki kemanapun tanpa tujuan yang pasti sampai nantinya kami akan sadar dan bilang “kita mau kemana?” dan yang lainnya akan menjawab “gak tahu,” jika percakapan itu sudah terjadi maka kami-pun akan pulang dengan sendirinya.

     “Tapi aku mau ke kota,” itu aku bilang ke Hadi.
     “Udah nanti aja, kita main dulu, yuk!”
     “Oke deh, tapi pake motor kamu ya!”
     “Iya.”


     Kira-kira pukul sebelas siang kami-pun berangkat. Awalnya motor melaju menuju arah Sumedang, setelah kira-kira dua puluh menit perjalanan Hadi malah membalikkan arahnya dan tentu saja aku tidak akan komentar karena siapapun yang bawa motor berarti terserah dia mau kemanapun perginya. Dan motor-pun terus melaju ke arah timur dan itu adalah jalan menuju kota Garut. Di daerah Leles Garut tepatnya di pertigaan jalan menuju Tasik ada seorang wanita yang kira-kira berusia tiga puluh tahunan, sepertinya dia sedang menunggu bis atau angkot atau mungkin sedang menunggu kiamat terjadi, entahlah. Dari kejauhan Hadi ngasih kode ke aku sambil nunjuk ke wanita itu. Lalu Hadi-pun menghentikan motornya tepat di depan wanita itu.


     “Mbak! Maaf, kalo jalan kesana tuh bener ya kesana?” itu aku nanya ke wanita itu.
     “Eh, gimana mas?” dia jawab dengan ekspresi bingung.
     “Maksud saya jalan ini jalan menuju kemana ya mbak?”
     “Emang mas mau kemana?” dia balik nanya.
     “Mau ke Tasik.” Itu aku jawab asal.
     “Ooohh! Kalo mau ke tasik belok ke kiri Mas.”
     “Ok, terima kasih Mbak!”


     Dan kami-pun terus melaju, tentu saja kami ambil jalan lurus, setidaknya itu akan memunculkan ekspresi bingung dari wanita itu yang bisa terlihat jelas dari kaca spion.


     Akhirnya kami-pun sampai di Simpang Lima Garut, di tengah persimpangan ada bunderan dan gak tahu kenapa Hadi malah terus mengelilingi bunderan jalan itu. Mungkin Hadi bingung, arah mana yang akan dituju atau mungkin dia sedang melakukan gladi resik untuk Tawaf, hanya bedanya ini dilakukan dengan memakai motor. Mungkin. Hadi-pun mengambil arah jalan menujuu Cikajang (kalau kawan-kawan tidak tahu silahkan lihat di peta). Aku tidak tahu apa alasan Hadi mengambil arah jalan ke Cikajang, tapi, aku tahu dia melakukannya tanpa istikharah terlebih dahulu, kupikir kami memang begitu. Kami tereus melaju tanpa memikirkan arah tujuan sampai melewati gunung Papandayan-Garut. Entah karena angin apa Hadi menghentikan motornya tepat di depan mini market, mungkin bukan karena angin, tapi karena haus. Lihat! Hadi memasuki mini market lewat pintu, aneh kan? Apa? Enggak aneh? Iya memang sebenarnya gak aneh, karena semua orang melakukannya seperti itu. Kecuali Maling atau monyet atau ulat bulu atau kuman atau pak haji Nunu. Kalian tahu pak Haji Nunu? Apa! Gak tahu? Yaudah sekarang aku kasih tahu, tapi jangan bilang-bilang ke orang lain ya! Ini rahasia. Pak Haji Nunu itu dulu punya usaha jualan buah-buahan, nah buah-buahannya itu di ambil dari kebunnya sendiri dan sekarang kebunnya sudah dijual, terus uangnya dia pake buat bikin rumah kontrakan, awas jangan bilang-bilang ya! Ini rahasia. Eh, tadi aku cerita sampai mana ya? Tuh kan jadi lupa, gosip mulu sih. Oh iya, Hadi-pun keluar dari mini market dengan membawa dua botol minuman. Selesai minum kami-pun berniat melanjutkan perjalanan, tapi sebalum naik motor Hadi nanya sama aku,

     “kita mau kemana?”
     “gak tahu,” jawabku.
     “yaudah kita pulang aja.”
     “oke.”

     Akhirnya kami melaju kembali menuju arah Bandung. Setelah empat puluh menit perjalanan kami tiba di persimpangan Samarang-Bayongbong Garut. Tiba-tiba Hadi berhenti.

     “Mon! kalo ke kebun teh kemana ya?”
     “Masuk ke samarang aja, ntar di depan belok kiri ke arah Kamojang.”
     “Oke deh.”

     Dan kami melaju lagi, tanpa terasa belokan ke Kamojang sudah dekat. Tapi Hadi malah lurus terus,

     “Di! Bukannya mau ke kamojang? Itu belokannya tadi kelewat!”
     “Hah? Serius? Yaudah gak usah aja.”
     “Oke bos.”

     Perjalanan masih terus berlanjut, sampailah kita di alun-alun kota Garut.

     “Mon! ada tukang baso tahu.”
     “Mana Di?”
     “Itu di seberang jalan.”
     “Mau beli?”
     “Iya, hayu!”
     “Joosss lah.”

Hadi memarkirkan motornya dan aku memesan baso tahu.

     “Kang! Baso tahu dua ya!”
     “Siap A. Pedes gak?”
     “Yang satu pedes, yang satu lagi sama.”
     “Eh, hehehe!”
     “Kang!”
     “Iya A?”
     “Jangan pake ikan!”
     “Gak ada ikan A!”
     “itu tulisannya baso tahu ikan, gimana sih?”
     “Maksudnya rasanya A.”
     “Oohhh.”

     Hadi-pun duduk di sebelahku, kita melamun sambil menunggu pesenan datang. Tiba-tiba ada perempuan cantik lewat depan kami. Hadi ngasih kode ke aku sambil ngedip-ngedip. Itu berarti dia nyuruh aku godain perempuan itu. Awalnya aku nolak, tapi Hadi maksa. Yaudah, mau gak mau aku samperin wanita itu.

     “Teh! Punten mau tanya.”
     “Iya A?”
     “Kalo ke Cikajang lewat mana ya?”
     “Masih jauh atuh A.”
     “Jauhan mana sama Bangladesh?”
     “Heuh? Dimana itu A? gak tahu ah.”
     “Yeeee, si Teteh mah, masa gak tahu Bangladesh.”
     “Enggak, udah ah lagi buru-buru.”
     “Eh Teh bentar!”
     “Apalagi A?”
     “Boleh minta nomer rekening listrik?”
     “Eh. Hehehe, buat apa A?”
     “Duh salah, maksudnya minta nomer HP. Boleh?”
     “Buat apa A?”
     “Takut nanti pas ke Cikajang nyasar Teh!”
     “Oh”

Tiba-tiba Dia ngeluarin HP, terus nyebutin nomernya.

     “081321723xxx.”
     “Teteh namanya siapa?”
     “Putri!”
     “Waduh putri dari kerajaan mana Teh? Hehehe, bercanda Teh, Kalo nama saya Endang Warnadi, tapi biasa dipanggil Edward.” Tentu saja aku ngarang.
     “hahahaha.”
     “Makasih ya Teh.”
     “Sama-sama, mari A.”
     “Iya Teh.”

Pas aku balik lagi ternyata baso tahunya udah jadi, di sambut sama Hadi yang penasaran.

     “Gimana Mon?”
     “Beresss.”
     “Mantap. Yaudah makan dulu.’
     “joosss.”

     Selesai makan Hadi membayar baso tahunya dan kami-pun langsung pulang ke Bandung. Jalanan cukup lancar di hari kerja, jadi kami cukup cepat untuk sampai ke rumah.
Dan sampailah kami di rumah Hadi. Aku duduk di teras rumahnya karena perjalanan yang cukup melelahkan. Hadi keluar lagi sambil membawa secangkir kopi. Tiba-tiba aku inget sama putri yang kenalan tadi di alun-alun Garut.

    “Di! Putri cantik juga ya?”
    “Putri mana Mon?”
    “Itu yang tadi kenalan di Alun-alun Garut.”
    “Oh iya, cepetan telfon dia.”
    “Enggak ah, males.”
    “Yeeee! Yaudah aku yang telfon dia.” Kata Hadi.
    “Mongggoooo Mas hadi.”
    “Mana nomernya?”
    “Nih.” Sambil kuberikan HP-ku sama Hadi.

Hadi-pun menekan tombol-tombol di HP-nya.

     “Mon nyambung Mon!”
     “Coba loudspeaker!”
     “Tuuutt Tuuutt Tuutt. Halo..!” suara dari telfon. Tapi suaranya laki-laki.
     “Halo kang! Putri-nya ada?” Tanya Hadi.
     “Putri mana ya A?” orang yang di telfon balik nanya.
     “Putri yang punya nomer ini Kang!” jawab Hadi.
     “Hah? Ini mah bukan nomer putri A! ini mah pabrik jaket kulit di Sukaregang. Aa mau pesen jaket kulit?” itu orang yang di telfon menjelaskan.
     “Oh, enggak kang enggak. Punten Kang salah sambung, punten!”
     “Hahahahahahahahaha.” Aku ketawa keras sekali.
     “Kammpreettt…..!!!!” jawab Hadi yang kesal.

     Hai kawan-kawan ini ceritaku bersama sahabatku Hadi. Kalo menurut kalian Kami orang aneh, Kami setuju! Kalo menurut kalian ini cerita tidak penting, aku juga setuju. Tetapi seperti inilah cara kami meikmati hidup. Bahwa ada yang bilang kepadaku “bahagia itu bukan dicari tetapi diciptakan.” Aku percaya itu dan aku sangat setuju. Ukuran bahagia bagi setiap orang berbeda-beda, bagi kami hal-hal sederhana sekalipun bisa membuat kami bahagia. Percayalah kawan-kawan! Bahagia tidak akan datang dengan sendirinya tetapi kawan-kawanlah yang mengundang kebahagiaan, bersyukur dan ciptakanlah itu.

     Yaudah, aku mau bikin robot dulu, itu juga kalo bisa, kalo gak bisa mah yaahh bikin teh manis aja deh.

     Salam…!

  • view 86