Hidupku Dan Ketiba-tibaan

Ray Raymond
Karya Ray Raymond Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Maret 2016
Hidupku Dan Ketiba-tibaan

? ? Inilah hari minggu, hari dimana aku tidak bekerja dikarenakan cuti. Tujuanku ngambil cuti adalah untuk merayakan ulang tahun kawanku, tapi karena satu dan lain hal atau mungkin cuma karena satu hal gak pake yang lain, gak jadi deh. Sebetulnya profesiku sebagai pria penghibur menyulitkan aku untuk mendapatkan libur di hari minggu. Kalian tahu pria penghibur? Bukan pria penghibur yang itu, tapi yang ini, yang seperti kulakukan. Maksudku aku menghibur orang-orang yang libur, iya, itulah aku, yang bekerja di bidang seni pertunjukan. Dan ini adalah hari minggu pagi, mataharipun belum menampakkan diri, itu kira-kira pukul 05.00 waktu indonesia bagian Maleer-Bandung. Sepagi itu aku sudah mengeluarkan motor matic-ku, iya betul motor matic yang kuberi nama Jalan Hidup. Supaya ketika motorku rusak bisa kubawa ke bangkel dan bilang ke montirnya,

?Bang! Jalan Hidupku rusak. Tolong benerin Jalan Hidupku ya Bang!? Setidaknya itu akan membuat abang montir bengong untuk beberapa saat.

??? Hari itu aku bilang ke si Boris yang kebetulan menginap di tempatku

?Ris! Urang ka Tasik heula nya? itu artinya kira-kira (Ris! Saya ke Tasik dulu ya). Kalian tahu? Itu aku bilang ke si Boris dengan sungguh-sungguh, meskipun aku tidak tahu mau apa aku ke Tasik. Kupanaskan motorku, itu jelas berbeda caranya dengan memanaskan air, tapi aku gak mau membhasnya disini.

??? Kulaju sepeda motorku melintasi jalanan kota Bandung dan juga udaranya yang masih dingin. Lalu masuk daerah Cibiru terus Cinunuk lalu Cileunyi, Rancaekek dan Cicalengka, iya Cicalengka itu kampung halamanku tapi kulewati saja terus sampai masuk ke Nagrek. ?Apa betul aku mau ke Tasik?? itu aku nanya ke diri sendiri. Sampailah aku di situ, di jalan cagak Nagrek, itulah penentuan yang berat, mau kemana selanjutnya. Ke kiri itu adalah jalan menuju Tasik dan kanan adalah jalan menuju Garut. Aku tidak tahu kemana sebenarnya arah tujuanku, seperti kupasrahkan saja pada hidungku dan entah kenapa aku memilih jalur kanan yaitu jalan menuju Garut dan aku memilih jalur itu tanpa istikharah terlebih dahulu. Tapi, aku terus melaju dengan yakin padahal gak punya tujuan yang pastinya. Akhirnya aku-pun berhenti di depan Alfamart daerah Samarang-Garut, bukan Semarang tapi Samarang, kalo Semarang itu di Jawa Tengah. Itu kira-kira pukul 06.30 waktu Indonesia bagian Semarang, maksudku Samarang. Aku membeli dulu roti sama susu buat sarapan pagi, karena dari tadi perutku belum terisi.
???

??? Aku baru ingat jika kuteruskan menyusuri jalan Samarang itu akan sampai di pemandian air panas Puncak Darajat. Kunyalakan kembali motorku untuk terus melaju menuju Puncak Darajat. Kalian pikir aku mau berendam di kolam air panas? Nyatanya tidak, lihat itu aku terus melaju melewati beberapa tempat pemandian air panas menyusuri jalan setapak di bukit itu. Sampailah aku di tikungan yang jalannya menurun. Menurun jika dilihat dari arahku, kalau dilihat dari arah berlawanan itu adalah tanjakkan. Kalau Abah (ayahku) bilang itu adalah tanjakan Turdo, itu lafal akronim Tuur Dina Gado (lutut nyampe dagu) kalau berjalan menanjak. Aku-pun berhenti dan menyadari bahwa aku tidak tahu kemana jalan ini tembusannya. Akhirnya aku putar balik, kalau kalian pikir aku mau pulang, kalian salah, lihat itu aku memasuki salah satu tempat pemandian air panas. Karena aku juga baru sadar dari tadi aku belum mandi. Sekalian berendam deh pikirku.
???

??? Sebelum nyebur kolam aku pesan dulu kopi dan menyalakan rokok kretekku sambil menikmati pemandangan. Lihat di depanku ada kakek-kakek narsis minta terus di foto sama perempuan itu, mungkin anaknya, mungkin. Kakek itu di foto dengan hampir semua gayanya adalah mengacungkan jari tengah dan telunjuk, seolah-olah beliau sedang melakukan kampanye perdamaian, entahlah. Kutebak dia adalah orang betawi, kenapa aku bisa tahu? Karena itu sangat jelas dari logatnya.
Akhirnya aku-pun nyebur kolam air panas, kukira itulah tujuan utamaku memasuki tempat itu. Aku duduk di kolam tepatnya dibawah pancuran sambil menyaksikan orang-orang berenang dengan berbagai macam gaya, ada gaya katak, ada gaya punggung, ada gaya bebas dan ada juga gaya banget, kamana atuh gaayyyaa. Sekarang waktunya aku menunjukan gayaku berenang, lihat aku berenang dengan hebatnya, dengan gaya khas yang selalu kupakai, iya betul itu gaya batu, gaya favoritku. Setelah kurasa cukup aku-pun keluar dari kolam dan mengambil kopi sisa tadi yang belum habis.
Aku berjemur disana sambil mengeringkan badan, disana dipojok kolam, bukan di tempat si kakek pembela perdamaian. Sambil berjemur, ku BBM Teh Ninong sepupuku, bisa dibilang begitulah atau bisa juga yang lainnya. Pokoknya gini, kakeknya Teh Ninong sama kakek aku itu kakek-kakek.

?Teh, Lagi dimana?? kutanya di BBM.

?dirumah, kenapa?? dia menjawab dan terus bertanya.

?di Garut kah??

?iya, kamu dimana??

?di Garut, boleh aku mampir.?

?Ya, sini mampir ke rumah.?

"Minta alamat lengkapnya dong.?

?kamu sekarang dimana posisi??

?Darajat.?

?gampang kalo dari Darajat mah, kamu turun sampai ke simpang lima nanti belok kiri ke arah pasar, terus aja lurus nanti sebelah kiri ada SMA, namanya SMA Petang. Kalo udah disana BBM aja Teteh.?

?Oke.? Jawabku sambil berpikir, SMA kok namanya Petang? Semacam liputan 6 SCTV. Bodo amat ah, yang penting aku nyampe sana.

??? Aku melamun sambil melihat nenek-nenek aneh, dia menggali tanah menggunakan sendok yang terbuat dari plastik, dia menggali sekitar sepuluh sentimeter. Seolah-olah beliau sedang menggali tanah untuk kuburan jangkrik. Pengen kutanya, tapi entah kenapa aku terlalu yakin bahwa dia psikopat, takut dibunuh aku, pergi saja deh. Aku pergi sambil bertanya-tanya dalam hati, Yaa Tuhan tempat macam apa ini? Apakah ini tempat berkumpulnya kakek-kakek dan nenek-nenek anti mainstream? Bodo amat deh, yang penting aku pergi. Aku-pun pergi untuk membilas badanku karena aku yakin itu kolam tempat aku berendam sudah tercampur pipis anak kecil.
Aku keluar dan lalu pergi menuju rumah Teh Ninong, lihat aku naik motor melaju terus tanpa menginjak rem, hebat kan aku? Tentu tidak. Karena itu motor matic, tentu saja rem-nya ada di tangan kanan dan kiri, bukan di kaki. Aku sampai di simpang lima dan bertanya kepada seorang bapak-bapak di pinggir jalan.

?Pak, maaf. Kalo SMA Petang sebelah mana ya??

?Duh, gak tahu saya.?

?oh, kalo pasar kearah mana pak??

?kalo pasar ke kiri.?

?makasih pak.?

??? Aku-pun belok kiri menuju arah pasar, aku lihat sebelah kiri ada SMK, tapi, Teh Ninong bilang SMA Petang bukan SMK. Aku lurus saja terus sampai pasar. Kutanya pak tua di sebuah toko frame.

?pak, SMA Petang sebelah mana??

?Wah gak tahu.?

??? Ah, Teh Ninong ngasih patokkan fiktif pikirku. Aku balik arah dan berhenti di tikungan untuk bertanya kepada pak tua yang ada di warung,

?Pak, kalo SMA Petang sebelah mana ya??

?oh, ade turun lagi dikit nanti ada di sebelah kiri.?

?makasih pak.? Jawabku senang karena ternyata SMA Petang itu ada.

Aku pun turun sedikit dan melewati SMK yang tadi kulewati, dan berjalan terus tapi tidak ada lagi sekolahan disana. Aku bertanya ke pemuda yang sedang nongkrong.

?Kang, kalo SMA Petang sebelah mana ya??

?oh, itu A.? Dia menunjuk ke arah SMK yang sudah beberapa kali kulewati.

??? Aku bengong beberapa saat untuk lalu mengucapkan terima kasih ke pemuda itu. Dan aku melaju ke depan SMK tersebut, kalian tahu? Itu tulisannya bukan SMA Petang, tapi, SMK-YPK Apalah-apalah Ulala, entahlah, aku lupa pastinya. Tapi yang pasti tidak ada tulisan SMA Petang. Ah, ternyata semua orang bersekongkol sama Teh Ninong untuk menyesatkan aku. Kenapa semua orang mengambil peran antagonis, aku bingung.
Lalu ku BBM Teh Ninong,

?Teh aku udah nyampe SMA Petang?

?Oh, kamu tinggal masuk gang di sebrang lalu belok kiri, belok kanan, belok kiri, belok kanan, pokoknya gitu deh." Karena aku tahu belokan itu Cuma ada kiri dan kanan, tidak ada belok ke depan atau belok ke belakang.

?? Akhirnya aku-pun sampai disana, iya, di empang, itu empang bukan rumah Teh Ninong. Aku nyasar lagi pikirku. Lalu kutanya ibu-ibu yang sedang ngadaweung, kalian tahu ngadaweung? Bahasa Indonesia-nya mungkin mendaweung atau mejeng atau nongkrong, entahlah, kupikir kata nongkrong terasa kurang pas untuk ibu-ibu paruh baya.

?Bu, punten, kalo rumahnya Teh Ninong sebelah mana ya??

?Itu,? dia menunjuk satu rumah dengan ekspresi judes, padahal aku gak nyekill lho.

Terus ku BBM Teh Ninong,

?Teh, rumahnya yang warna orange??

?iya, udah nyampe depan rumah?? bukannya nge-cek keluar malah balik nanya, kujawab saja

?baru nyampe Purwakarta,?

?Diiihhh.?

???? Akhirnya aku-pun sampai di sana, di rumah Teh Ninong dan disambut Teh Ninong yang sudah di depan pintu. Kalian lihat caraku masuk kerumah, iya seperti itu, seperti Teh Ninong, lewat pintu, seperti kebanyakan orang. Kami-pun berbincang tentang kabar saudara-saudara yang lainnya. Terus Teh Ninong nanya,

?kamu tahu aku dari keluarga yang mana??

?enggak jawabku,?

?Teteh tuh berasal dari kakek Setiaman, kan Kakek Setiaman punya kakak, kakek anu dan juga adik, yaitu nenek anu, kakek anu dan kakek anu.? Pokoknya begitulah.

?Oooooohhhhh.? Jawabku.

???? Setelah mendengar penjelasan dari Teh Ninong aku-pun jadi tahu tujuan hidupku sebenarnya, meskipun sebelumnya aku juga sudah tahu tujuan hidupku. Setidaknya setelah mendengar penjelasannya tujuan hidupku tetap itu, tidak berubah. Tapi, terima kasih Teh Ninong sudah mau-maunya menjeaskan. Lain kali jelasin lagi ya Teh! Biar tujuan hidupku tetap itu, tidak berubah. Salam Leuleupeutan buat saudara-saudaraku semuanya.
????

???? Kawan! Kalian tahu? Aku menulis cerita yang tidak jelas tapi inilah aku dengan segala diriku yang tidak jelas. Kalau kalian bilang aku aneh, aku setuju. Yang pasti jika kawan-kawan hendak bepergian tentukanlah dulu mau kemana perginya, jangan asal maju aja. Nanti jadi gak jelas. Udah dulu ah nulisnya aku mau bikin pesawat tempur dulu, itu juga kalo bisa, kalo gak bisa mah yang paling tidur aja! Dadah!

  • view 254

  • Widdy Nugraha
    Widdy Nugraha
    1 tahun yang lalu.
    Ajakan dey ngke mah atuh lamun ka Darajat.

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    berarti ini kasih nyata ya? udah saya baca sampe tamat. *mana cemilannya?

    • Lihat 5 Respon

  • B.R. Karya 
    B.R. Karya 
    1 tahun yang lalu.
    Ini cerita macam apa?! Tapi kocak kang, saya bacanya ampe nyakakak wkwkw