Aku ingin, maka akan

Imam Saiful
Karya Imam Saiful Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Februari 2016
Aku ingin, maka akan

Aku ingin menjadi air, turun dari langit menjelma hujan, berjatuhan membasahi tanah tandus, mengaliri sungai kering, membasuh daun layu juga akarnya yang haus. Tetapi tanya ibu; bagaimana jika aku menjadi airmata yang sadis setelah banjir atau tsunami?
Aku ingin menjadi api, hadir menghangatkan semesta yang menggigil, menerangi alam dari gelapnya malam, atau sekedar membakar gambar-gambar wanita berkerudung dimasa lampau. Aku ingin seperti mrapen yang keluar karena pusaka manusia shaleh untuk membentuk pusaka lain, atau sekedar menyalakan obor-obor perayaan. Tetapi kata guru, api adalah unsur pembentuk syaitan, juga inti dari neraka. Bagaimana jika aku menghanguskan hutan-hutan beserta pemukiman, menjadi lahar yang disemburkan gunung-gunung merapi, atau amarah yang meledak ditangan teroris?
Aku ingin menjadi tanah yang mampu menyelimuti inti bumi, kuat mewadahi laut, juga sebagai pijakan tangguh yang dicakar akar-akar. Tetapi kata ayah, aku harus ikhlas dilubangi besi-besi tajam dan ditindih gedung-gedung berbahan beton. Bagaimana jika aku merobohkan mesjid-mesjid, gereja, wihara, juga kuil-kuil? Bagaimana jika aku yang menimbun nuklir-nuklir biadab, atau mengubur impian mereka yang rumahnya tertimpa longsor?
Aku ingin menjadi udara, menjelma oksigen atau angin yang mampu bergerak kesemua arah. Aku ingin membelai wajah ibu pertiwi sampai ia terpejam lalu melengkungkan bibirnya. Aku ingin melayarkan kapal Vasco Da Gama ketengah laut lepas, membantunya berkeliling dilautan afrika menuju india. Tetapi, bagaimana jika aku menjelma asap yang keluar dari cerobong-cerobong pabrik? Mengepul hitam, menggelapkan pagi atau senja para pujangga? Bagaimana jika aku turun sebagai badai yang berontak, meratakan gedung-gedung tinggi, menerbangkan pohon-pohon atau menerbangkan nyawa-nyawa yang tidak berdosa?
Aku ingin mendamaikan dunia, seperti laut yang airnya menerpa karang pantai, menjelma ombak. Tetapi aku tak mau jika harus menjadi air bencana, karena bertolak belakang dengan do’a ibuku.
Aku ingin menghangatkan semesta, menari diantara binar mata kawanan muda berseragam cokelat yang kedinginan, menjelma api unggun. Tetapi aku tak mau jika harus menjadi api bencana, karena bertolak belakang dengan harapan guruku.
Aku ingin menjadi pijakan kuat seperti bukit yang ditumbuhi pepohonan besar, menjelma tanah. Tetapi aku tak mau jika harus menjadi tanah bencana, karena bertolak belakang dengan amanah bapakku.
Aku ingin menyejukkan dunia seperti angin kecil membelai gerah anak gembala yang bertengger dibawah pohon saat siang sedang terik-teriknya. Tetapi aku tak mau jika harus menjadi angin bencana, karena bertolak belakang dengan harapan orang-orang yang cintanya mengalir untukku.
Aku ingin mengubah dunia dengan cara seperti sang anak yang membalas cinta orangtuanya, seperti murid yang menghormati gurunya, seperti air, api, tanah, udara dan semua yang bertasbih kepada Tuhannya.
Aku akan mengubah dunia, dengan tangis orangtuaku yang bangga terhadap perjuangan anaknya, dengan pelukan hangat guru-guru yang ilmunya mampu kuamalkan, dengan senyum dan marah orang-orang yang mendukungku secara ikhlas atau terpaksa.
Aku ingin mengubah dunia, tetapi yang pertama aku harus membahagiakan orangtuaku, guru-guru, kawan-kawan dan siapapun yang ada disekitarku.