Catatan akhir Desember

Imam Saiful
Karya Imam Saiful Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Catatan akhir Desember

Suatu malam diakhir Desember 2015, entah tanggal berapa saya bersantai diberanda kamar kost bersama seorang teman, namanya Hilman.

Khayalan berkelebat, saya merasa resah dengan kebiasaan raga yang menolak tidur, mungkin karena gelisah atau efek kopi. Mungkin juga seperti yang dikatakan seorang kawan lama, katanya salah satu iblis telah murka dan saya dikejarnya. Oh tidak, sungguh opini yang menggelitik, semoga Tuhan melindungi kita dari gangguan makhluk lain yang berniat jahat.
Seperti biasa, saya dan Hilman bercengkrama dengan segelas kopi hangat, diiringi musik dari gadgetnya, juga udara berasap rokok. Waktu beranjak, kita sibuk pada gadget masing-masing seperti dua orang asing yang berbeda bahasa dinegeri perantauan. Kemudian saya menyimpan gadget, mengambil balpoin dan selembar kertas. Seketika itu pula saya meminta Hilman menyebutkan minimal sepuluh kata yang berkaitan dengan pagi, saya mencatatnya.
Setelah dicatat, saya berusaha mengembangkan kata-kata itu menjadi semacam kalimat biasa, merangkainya menjadi teks ?entah?. Entah itu naratif atau saka, ?sakarepna?.
Ternyata mengolah kata itu tidak mudah, saya terlalu awam untuk melakukannya. Ini baru beberapa kata, bagaimana jika banyak? Kesadaran dalam mempelajari bahasa harus lebih ditingkatkan. Selamat untuk mereka yang sudah berkarya dalam bentuk apapun, terutama bahasa dan sastra. Saya meyakini bahwa siapapun yang mampu menuliskan apapun adalah manusia hebat.
Tentang kata itu diantaranya; dingin, udara, cahaya, harapan, air, embun, sunyi, burung, bangun, teh hangat, hangat, nikmat, berasap, panas, sejuk, segar.

Pagi
Dingin menyelinap dari lubang udara, sementara hangat memeluk dari balik selimut. Diluar jendela terlihat cahaya mulai menampakkan harapan, terdengar juga gemercik air. Lebih luar lagi, embun mulai terbentuk dari kabut kedinginan.
Sunyi menuju klimaks sebelum lahir teriak semesta, diujung sunyi ini pagi mendarat dikedua mataku. Burung berkicau ramai, mereka bebas bermigrasi dari hati kehati, menyambut manusia yang sudah bernyawa.
Dari bangun yang biasa atau terpaksa ini aku bergegas, entah kemana, bergerak keluarkah, atau sekedar duduk menikmati teh hangat. Hangat mengalir ditenggorokkan, sungguh nikmat. Semesta berhasil memaksaku memuji tuhan, lagi dan lagi
Sejuk melompat dari luar pintu, memelukku sampai nafas ini berasap. Seketika rasaku menjadi panas, ini fiksi! Panas dari dalam membakar jantung setelah melihat dua insan kasmaran, mereka saling mengucapkan "selamat pagi". Nyatanya, hari masih sejuk, dan pagiku tanpa sapaan dari siapapun
Biarlah mereka bersapa hangat, aku hanya mampu menyaksikan tanpa merasakan, setidaknya aku masih memiliki dua hal; rasa segar kopi dingin atau dingin angin pagi.

?

  • view 216