Rabu malam, 26 Juli

Imam Saiful
Karya Imam Saiful Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Juli 2017
Rabu malam, 26 Juli

Malam kian malam, aku semakin aku dengan keakuanku yang entah siapa.
Dulu, bahagiaku adalah ketika berhasil menaiki truk yang sedang melaju, meski harus mencobanya berkali-kali, meski harus terjatuh berulang-ulang sampai kepalaku memar, kakiku sakit, dan telingaku memerah (dijewer mama).
Masih dulu, bahagiaku yang lain adalah ketika berhasil menyaksikan kereta dari balik beton stasiun yang tinggi. Sebab disitu kurasakan getar seperti gempa saat kareta melaju; datang maupun pergi. Sebab disaat itu kutemukan debar yang bercampur waswas.
Sementara kini, mungkin bahagiaku lain lagi. Semenjak aku menyamar sebagai pejalan tangguh, atau berpura-pura menjadi superhero terhebat yang misterius, bahagiaku bukan menatap kepergian atau kedatangan kereta, bukan pula bisa menaiki truk yang melaju lamban dengan beban yang diangkutnya.
Ah, aku baru mengerti. Apa yang membuatku bahagia adalah cinta. seperti tawaku dimasa itu, yang beradu dengan semangat kawan-kawanku saat mengejar truk bermuatan, seperti ketakutanku sebagai bocah pengecut saat memegang erat tangan mereka distasiun kereta.
Tuhan, Lapangkan hati kami dengan cintaMu!
Lepaskan penyakit-penyakit, duka maupun luka yang bergelantung dijiwa kami dengan keluasan cintaMu!

  • view 59