Syukur dalam kabur

Imam Saiful
Karya Imam Saiful Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Juli 2016
Syukur dalam kabur

Pagi selalu dingin, seperti biasa. Aku terpaksa mandi dan bersiap untuk pergi menuju sekolah, Berharap tepat waktu. Setelah segalanya dipersiapkan, aku bergegas menuju kelas, sendiri. Setibanya didepan kelas, ternyata bu guru sudah memulai pelajaran.
“assalamualaikum, boleh masuk bu?” tanyaku sambil menuju kursi kosong, dibelakang.
“waalaikumsalam, silakan”. Jawab bu guru dengan senyumnya yang ramah.
Pelajaran Bahasa selalu berlangsung dengan seru, karena setiap siswa akan diberi kesempatan untuk menyampaikan karyanya. Dan dipagi itu aku membaca sebuah puisi singkat yang masih kuingat jelas;
semua jawab mengudara dilangit-langit yang berawan
sementara Tanya, semuanya tersembunyi dilautan yang masih enggan kuselami
Seusai membaca puisi, tepuk tangan akan bersorak menampar telingaku, maka disitulah aku merasa bangga dengan karya.
Penyampaian karya selalu dijadikan penutup pembelajaran bahasa, padahal aku masih ingin berlama-lama dengan pelajaran ini, aku berharap jam pelajaran bahasa ditambah tigakali lipat atau bahkan sampai tujuh. Namun angka-angka dikalikan berapapun akan tetap, mata pelajaran bahasa selalu berlangsung selama tak lebih dari dua jam.
Hari mulai terik, mentari pagi hampir habis pada pukul 09.43. bel pergantian jam pelajaran dibunyikan saat kulihat ibu fisika mendekat dengan langkah-langkah kecilnya.
“oh tidak”, gumamku-masuk kelas dengan langkah pasrah.
Aku selalu menyikapi mata pelajaran ini dengan putus asa, maka timbullah pertanyaan-pertanyaan mengapa;
Mengapa harus dengan guru menyebalkan?
Mengapa harus jam kedua?
Mengapa tidak dipindah kejam awal?
Mengapa guru fisikanya selalu dia?
Rupanya aku keliru, seandainya mampu, ingin kuhancurkan kata alasan dalam kamus hidupku.
Sang guru sudah masuk dan duduk ditahtanya, seperti biasa ia melontarkan sapaan formalitas, “apa kabar anak-anak?”, begitu bosan aku mendengarnya, pertanyaan yang tanpa ingin tahu kabar kami sebenarnya. Sang guru hendak memulai pelajaran dengan meminta kami mengeluarkan buku bacaan berisi teori-teori newton dan teori lainnya yang berhasil kulupakan.
“bu, maaf saya belum kebagian bukunya”, aku mengacungkan tangan.
Seseorang dibelakangku menambahkan,“saya juga belum bu, semua siswa disini sudah membayar lunas, tetapi saya, imam dan cecep belum mendapatkan bukunya”.
“ibu tegaskan sekali lagi, tidak ada toleransi bagi yang tidak masuk, karena minggu kemarin kamu absen, maka terima saja resikonya! Satu lagi, tiga orang dikelas ini ibu anggap gaib; Asep, Imam dan Cecep. Karena kalian sudah tiga kali tidak hadir, maka mulai hari ini dan seterusnya ibu anggap absen, meskipun masuk”, Ibu fisika menjelaskan dengan angkuh.
Aku berdiri,”hatur nuhun bu!”, sambil bergegas keluar kelas. Asep menyusulku, dan kami berjalan menuju asrama. Sesampainya diasrama, Asep memaki keadaan dengan sumpah serapahnya, “g*blok, teu apal aing saha eta si ibu, aing teu ngeunah pisan, asa teu dihargaan”
“kalem sep!”, aku berusaha menenangkan suasana.
“lain kalem-kalem, kuduna didukung aing usaha rajin teh, lamun guruna teu kitu mah aing ge moal kieu teuing”
“anj**g pisan heu’euh, jangar aing ge, indit ah”, sambil mengganti baju, aku mengantongi rokok dan korek kemudian menuju belakang kobong. Setelah didepan dinding, aku membaca situasi, kondisi. Memanjatlah aku dengan cepat, lalu melaksanakan loncat surga dengan basmallah dan sampurasun, diakhiri dengan kalimat “punten nu aya didieu bilih kaganggu”, Semacam ritual sang penakut yang hobi kabur.
Aku berjalan menuju tebing kapur dengan santai, meski sebenarnya waswas. Sesampainya disana, aku berteduh ditempat yang menurutku multifungsi; dinilai dari keamanan dan kenyamanan. Aku bernafas, berusaha meredakan cemas sambil kutatap tebing kapur dibalik ruang hampa, menyalakan sebatang rokok djarcok. Sungguh nikmat, udara bercampur asap saat angin menerpa wajah. Meski siang semakin menyala, panasnya tertutupi dedaunan pohon cengkih.
Udud Djarcok hampir habis, mendekati logo pabriknya. Kira-kira, sebatang djarcok akan habis dihisap selama kurang lebih 25 menit. Namun saat itu terasa dan terpikir lebih cepat dari biasanya, mungkin karena angin ikut menghisapnya. Aku mulai menerka waktu, puntung jarcok menunjukkan bahwa aku sudah singgah disini lebih dari 20 menit. Maka aku bergegas menuju gunung batu, jaraknya sekitar 320 meter dengan jalan setapak yang terus menanjak.
Duduklah aku diatas batu besar yang diteduhi pohon limus (mangga bacang). Ditempat itu semesta mengajarkanku banyak hal, selain mampu melihat aktivitas santri dari jauh. Aku belajar bersosial dengan alam juga manusia lain. Karena ada beberapa orang/masyarakat yang rutinitasnya melewati area itu. Aku sering bertegur-sapa dengan mereka, kadang-kadang bercengkrama seperti keluarga.
Salah satu yang paling saya kenang adalah seorang petani yang rumahnya di Desa Kendan dekat rel kereta. Sebagai petani tangguh yang juga menekuni profesi ternak sebagai sampingannya, ia mampu menjadi salah satu orang yang membuatku kagum, yaitu Kerja keras membiayai satu istri dan dua anaknya yang masih remaja, tentang ceritanya yang tak pernah kualami juga nasihatnya yang sering kusampaikan pada kawan-kawan.
Hari mulai menguning, suhu panas berubah menjadi hangat, siang menuju sore. Aku terdiam, menikmati pandanganku pada bapak petani yang lihai menyabit rumput dengan senjatanya yang memantulkan cahaya. Ketika kunyalakan korek untuk membakar ujung djarcok, bapak petani duduk disebelahku, meminjam korek api,”istirahat heula jang”. Katanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Kuberikan korek beserta rokok jarcok yang masih tersisa beberapa batang,”mangga pak, bilih bade djarcok”.
“siap jang, bagi hiji nya”. Pintanya tanpa memerlukan persetujuan. Lalu ia mngeluarkan bekas bungkus mie instan yang isinya tembakau kering.
Seperti itulah aku dan dia setiap kali bertemu digunung batu, saling bertukar rokok atau sekedar bercerita tentang isu-isu yang sedang buming dilingkungan masyarakat. Bapak petani akan sangat serius ketika topik pembicaraannya tentang korupsi, politik dan gaya hidup manusia kekinian. Namun, Saat ia menceritakan tentang pertama kalinya melihatku ditempat ini, ia tak mampu menahan tawanya, dengan tawa yang lepas, sedikit menghina. Ia sering menertawakan tentang bagaimana ekspresi wajahku yang saat itu ketakutan.
”siga ucing kapergok modol, padahal bapak mah moal ngalaporkeun ka pihak pesantren atuh jang!”
ia menghisap rokok lalu melanjutkan pernyataannya,”yeuh, lamun pernah kamari-kamari masyarakat nu ngalaporkeun santri, eta mah keur teguran, bapak kenal nu ngalaporna saha”
“teguran kumaha pa?” tanyaku singkat.
“teguran keur pihak pengurus jeung guru-guru sangkan baleg ngadidik murid-muridna, teguran keur santri, masyarakat pesen ulah ngaresahkeun deui, ulah ngaganggu, sing saropan, pake budi jeung basa nu ngacirikeun santri, ulah sangeunahna, omat! Masyarakat ge ngartikeun ari santrina ngarti mah”.

  • view 133