Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 12 Februari 2018   00:11 WIB
Duka Tanjakan Emen Membuka Kesadaranku

 

Minggu, 11 Februari 2018

23:40

            Kita semua tahu, kabar duka sabtu kemarin begitu menggemparkan. Sebuah bus pariwisata terguling di jalan Subang-Bandung mengakibatkan 27 orang meninggal dan puluhan lain luka-luka. Beberapa media berlomba-lomba memberitakan dari berbagai sudut. Mulai dari mengangkat penyebab kecelakaan, kesedihan keluarga korban sampai mitos yang beredar di tempat terjadinya kecelakaan yaitu Tanjakan Emen Desa Cicenang Kabupaten Subang.

            Aku baru membaca beritanya sore tadi, karena keterbatasan kuota internet yang hanya bisa digunakan untuk chatting. Dan setelah membaca beberapa berita, aku tahu bahwa semua korban ternyata adalah perempuan, para ibu yang berniat berlibur dari suatu Koperasi Simpan Pinjam daerah Tangerang Selatan. Membaca itu, entah bagaimana aku menangis. Terbayang bagaimana para ibu-ibu yang biasanya heboh dan rempong harus terlempar kesana kemari dalam bus saat bus terjungkal, menabrak tebing pinggir jalan, bagaimana wajah-wajah yang senantiasa menyiapkan sarapan pagi itu terjepit badan bus yang memaksa mereka meregang nyawa, meninggalkan dunia beserta sanak saudara.

            Tangisku semakin tak terkendali saat membaca salah satu berita yang menceritakan kesedihan seorang anak dari salah satu korban. Sang anak mengatakan bahwa Ibu sudah dilarang Ayahnya untuk pergi, tapi Ibu tetap pergi dan tak pernah kembali. Allaaaaaaahkuuu.....

            Seketika aku ingin pulang. Aku ingin memastikan Ibu baik-baik saja di rumah. Hampir satu tahun aku tak berjumpa, bukan tidak rindu hanya waktu yang belum memberi saat untuk bertemu. Seketika itu juga aku mengingat Tuhan. Semua doa ku rapal, agar Tuhan berkenan menjaga Ibu dan Ayah dirumah. Karena tak ada kekuatan lain, takkan ada kuasa yang lain yang mampu menjaga malaikatku selain Allahku. Ku mohon, ku mohon, ku mohon biarkan aku berbakti lebih lama pada kedua malaikatku Allah.

            Lalu kemudian aku menyadari, aku begitu takut pada hal yang mutlak akan terjadi. Mati. Aku takut kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Aku takut mati. Aku takut tak kuat menahan sakitnya meregang nyawa. Aku takut berjumpa Izrail yang kelak tanpa ampun menarik nafas dari jasadku. Dan aku takut sendiri dalam liang tanah merah nanti. Kenapa aku begitu takut Allah? Karena aku tak memiliki amal? Oh Allahku, ampuni ampuni ampuni kehinaanku.

Lalu terpikir pula untuk apa aku tertawa-tawa di dunia, bahkan kadang menertawakan nasib yang Allah beri, menyangka dunia tak akan berakhir?

Mengapa aku begitu menghamba pada dunia, hingga rela menjadi budak mengikuti setiap permainannya?

Mengapa aku berleha-leha menyia-nyiakan waktu, padahal Allah sediakan waktu hanya untuk menabung amal?

Allah aku ingin berdiam saja di tempat ini. Menjadi pengabdi terbaik di pesantren ini (karena kebetulan aku tinggal disebuah pesantren). Mengaji, menghapal Alquran agar kelak aku mati di tempat yang suci. Tak perlu berdarah-darah, karena aku sungguh tak sanggup membayangkannya Allah. Meski aku tahu, maut itu urusanMu tak dapat ku pilih waktu dan tempatnya. Juga agar nanti aku bisa mengangkat orang tuaku dari siksaMu, tapi tentu saja aku berharap mereka sama sekali tak tersentuh siksaMu. Aku ingin menjadi sebab orang-orang yang aku sayangi menuju surgaMu Allah.

Berikan selalu kesadaran kepadaku, Allah. Ingatkan aku, bahwa aku hambaMu bukan hamba dunia. Bahwa tugasku hanya memujaMu, bukan menuja dunia. Peringatkan aku bahwa aku pasti mati, tak akan kekal abadi. Bimbing aku selalu dijalanMu, Allahku.

Sumber foto : jabar.tribunnews.com

Karya : Imasrismaimas