Silma Tanpa Teman Sebangku

Imasrismaimas
Karya Imasrismaimas  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2017
Silma Tanpa Teman Sebangku

Indonesia memang terlampau luas, negara kepulauan terbesar di dunia. Berjajar dari ujung barat Aceh hingga ujung timur Papua. Pulau Jawa menjadi pusat segala macam urusan. Dari ekonomi hingga pendidikan. Tingkat ketertinggalan kota-kota di pulau Jawa adalah yang paling minim di bandingkan pulau lainnya.

Majalengka adalah kabupaten yang tidak termasuk dalam  kriteria tertinggal. Tak seperti kota ku di Banten sana yang masih berada dalam lumbung ketertinggalan. Mendapat predikat kota tertingal dalam Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal tahun 2015-2019. Namun ternyata, sebulan melakukan Kuliah Kerja Nyata di Majalengka, membuat mata lebih terbuka mengenai arti ketertinggal. Meski Majalengka tak termasuk dalam runtutan kota tertinggal, tetap saja ada ujung-ujung kota yang memerlukan perhatian dan bantuan berlebih. Dan tak jauh berbeda dengan kota-kota lain yang  terbebas dari PP No 131 Tahun 2015 itu.

            Desa Haurseah berada di kecamata Argapura. Salah satu desa yang terletak di kaki Gunung Ciremai. Kegiatan belajar mengajar disini berjalan setiap pagi. dengan lingkungan agamis yang juga menjadi pendukung pembelajaran.

            Di desa ini terdapat dua Sekolah Dasar, yakni SDN Haurseah I dan 2. Jarak keduanya hanya sekitar 2 KM. SDN Haurseah I berada di pusat desa dan bersebelahan dengan Balai Desa. Namun aku berkesempatan mengabdi di SDN Haurseah 2. Sebuah sekolah yang benar-benar berada di ujung desa. Di belakang bangunan, hanya tersisa dua buah rumah kemudian menghampar sawah dan hutan setelahnya. Sarana dan prasarana di tempat ini bagiku kurang begitu baik. Sepertinya sekolahku di Banten masih sedikit lebih baik, padahal daerahku seperti yang telah ku tuliskan di awal. Masuk dalam kategori PP No 131 Tahun 2015, tertinggal. Lapangan upacara disekolah ini tak ada tiang bendera. Tiga bulan kebelakang, tiang bendera rusk dan belum bisa di gunakan lagi. Jadi terbayang, bagaimana jadinya upacara tanpa ada pengibaran bendera merah putih. Sekolah ini memiliki 6 ruang kelas dengan kondisi satu ruangan di gunakan untuk ruang guru. Dan ruang belajar hanya ada 5. Akibatnya, kelas 2 dan 3 harus belajar dalam satu ruangan.  Bersekat kayu tipis, jadilah proses belajar mengajar bersebelahan.

            Aku bertemu dengan salah seorang siswa yang duduk di kelas 4. Silma namanya. Yang selama empat tahun bersekolah ternyata tak pernah memiliki teman sebangku. Bukan karena faktor fisik atau hal lainnya, tapi karena memang semua teman-teman sekelasnya tak pernah memiliki teman sebangku.

            Sekolah ini hanya memiliki 61 siswa keseluruhannya. Setiap kelas berisi tak lebih dari 12 orang. Dan kelas empat hanya berisi tujuh orang. Mutiara adalah satu-satunya teman perempuan Silma di kelas. Yang juga duduk sendiri, karena setiap anak memang duduk sendiri-sendiri. Kelasnya cenderung sepi. Banyak bangku dan meja yang kosong tak terisi. Hal ini tentu saja berdampak pada rasa kepercayaan diri siswa dan berpengaruh pada hasil belajar siswa, Sebagaimana yang di kemukakan Surakhmad (2003), teman sebaya itu membawa pengaruh positif untuk saling bertukar pikiran, informasi dan pendapat, sehingga akhirnya mempengaruhi hasil belajar siswa.

Salah satu faktor penyebab terjadinya hal ini adalah letak sekolah yang kurang strategis. SDN Haurseah 1 berada tepat di jantung Desa, sehingga lebih mudah di akses oleh masyarakat. Sedangkan SDN Haurseah 2 harus melewati beberapa jalan menurun dengan kondisi jalan yang tidak terlalu baik. Meskipun Kepala Desa sudah mengeluarkan kebijakan untuk membagi siswa sekolah per RT, tetap saja dari delapan RT di Desa Haurseah, hanya RT 04 yang menyekolahkan anaknya di SDN Haurseah 2.

Hal semacam ini tentu harus menjadi cerminan bagi kita, bahwa selalu ada tempat tempat yang kurang terperhatikan yang tertutupi oleh tempat lain yang nampak lebih modern atau kekinian. Pembelajaran bagi anak bangsa untuk terus peduli pada pendidikan. Menghargai pendidikan yang telah di tempuh, karena tak semua orang melalui proses pendidikan dengan baik baik saja.

  • view 35