Surat Sepatu

Imasrismaimas
Karya Imasrismaimas  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Surat Sepatu

 

“Selamat pagi anak-anak” sapa seorang guru di dalam kelas.

“Selamat pagi Bu Guruu“ jawab anak-anak itu serentak.

Bu Guru kemudian melanjutkan pelajaran bahasa Indonesia yang minggu kemarin sempat terpotong karena bel tanda pulang telah lebih dahulu berbunyi.

Dari kejauhan seorang pemuda memperhatikan kelas tersebut. Sambil memegang pagar sekolah, pemuda tersenyum-senyum mengenang masa kecilnya. Pemuda itu bernama Rama. Ia mengenang kisahnya bersama Sekar. Gadis yang yang saat ini tengah ia pandang meski dari kejauhan.

“Kamu benar-benar tidak berubah Sekar“ Gumam Rama perlahan.

                                                                        ***

“Rama tunggu!“ Teriak gadis berkepang dua, kemudian berlari mendekati Rama.

“Kenapa?“ Tanya Rama bingung.

“Kamu mau kemana?“ Tanya gadis itu dengan nafas tersengal-sengal.

“Pulang lah“ Kemudian berbalik meninggalkan gadis berkepang dua.

“Kamu gak akan pramuka? Hari ini kan ada pembagian barung  (nama kelompok dalam pramuka tingkat siaga)“

“Nggak ah, males!“ Rama tak menghentikan langkahnya.

Raut muka gadis berkepang dua itu berubah. nampak sebal dengan jawaban Rama.

“Apa kamu bilang? Gak bisa. kamu harus pramuka. Harus pramuka pokoknya“ gadis berkepang dua mensejajari langkah Rama.

“Aku mau...“

“Gak bisa. Pokoknya kamu harus pramuka!!“ Gadis berkepang dua memotong perkataan Rama.

“Tapi, Sekar aku...“ lagi-lagi perkataan Rama menggantung.

“Aku gak mau tahu. Pokoknya sekarang kamu pulang, nanti siang kamu balik lagi ke sekolah. Aku titip bekal dari Ibu, bilang pada Ibu aku mau langsung pramuka. Gak akan pulang dulu“ Setelah menepuk pundak Rama dua kali, gadis berkepang dua berlari kembali ke gerbang sekolah.

Rama hanya mendengus kesal. Gadis berkepang dua itu selalu berhasil menggagalkan rencana indah Rama. Gadis berkepang dua itu adalah Sekar.

Rama dan Sekar bersahabat sejak kecil. Rumah mereka berdekatan. Hanya terpisah oleh tiga rumah. Sekar anak tunggal. Anak dari seorang petani di Desa Permai. Dan Rama adalah anak pertama dari seorang pedagang. Setiap hari mereka bermain bersama, mengerjakan PR bersama, dan selalu makan siang bersama di sekolah. Hal yang sangat mereka sukai adalah menyusuri sungai, dan menjelajah hutan di seberang desa.

“Hari ini seru kan. Untung kamu pramuka. Terpilih jadi ketua barung kan“ Sekar memulai pembicaraan dalam perjalanan pulang. Kemudian Sekar nyengir menunjukkan gigi kelincinya.

“Apanya yang seru. Aku jadi tidak bisa tidur siang tahu!“ dengus Rama.

“Tidur terus kerjaan kamu!“  Sekar mendaratkan tinjuan kecil di bahu Rama. Dan itu membuat Rama mengaduh. Sekar  berlari sambil menjulurkan lidah ke arah Rama. Rama yang sebal tak terima dengan perlakuan Sekar. Ia berniat membalasnya, mengejar Sekar. Sekar terus berlari sambil mentertawakan Rama yang tak bisa mengejarnya. Senja itu mereka habiskan dengan tawa polos anak desa.

Seperti hari biasanya mereka  pergi ke sekolah bersama. Berada dikelas yang sama. Kelas empat SD. Tiba-tiba Rama terlihat panik setelah mengeluarkan isi tas nya. Sekar bingung. Ternyata Rama lupa membawa botol air minum nya. Rama memang anak laki-laki yang serba steril. Ia harus membawa makanan dan minuman sendiri dari rumah. Rama biasanya langsung sakit perut atau gatal-gatal jika mengkonsumsi jajanan di sekitar sekolahnya. Hari itu hari senin. Semua siswa berkumpul di lapangan, melaksanakan upacara. Rama bertugas sebagai pemimpin upacara dan Sekar sebagai pengibar bendera.  Setelah upacara selesai, kepala sekolah memanggil Rama. Kemudian datang seorang ibu paruh baya membawa botol air minum berwarna biru. Mama Rama datang mengantarkan botol minum yang tertinggal. Padahal saat itu barisan belum di bubarkan. Dan pemberian botol air minum dari Ibu ke anaknya itu disaksikan oleh seluruh siswa. Rama hanya tersenyum, nampak malu saat anak-anak lain mentertawakan.

“Dasar anak mamih!” celetuk Sekar saat mereka kembali ke kelas.

“Biarin!” Rama menjulurkan lidahnya.

Sejak saat itu Sekar selalu mengolok-olok Rama dengan sebutan ‘anak mamih’. Dan Rama hanya bisa pasrah dengan ledekan sahabatnya itu.

Suatu hari disekolah, guru bahasa Indonesia tidak hadir. Kelas mereka di beri tugas untuk membuat puisi. Sebagian anak serius dengan tugas puisi mereka, namun sebagian lain termasuk Rama asyik bercanda. Mereka mencoba mempraktekan adegan ‘smackdown’ yang akhir-akhir ini ramai di televisi. Mereka saling merangkul kemudian saling membanting. Tawa kepuasan terdengar begitu jelas, hingga mengganggu Sekar dan kawan-kawan yang lain. Sekar mencoba menegur. Namun tak sedikitpun di dengar oleh anak-anak itu terutama Rama. Hingga terdengar suara benturan yang cukup keras, membuat kelas menoleh ke sumber suara. Suara itu adalah benturan tubuh Rama dan lantai. Rama  tergolek di lantai, raut wajahnya nampak kesakitan. Namun kemudian ia berdiri dan kembali tertawa. Sekar menghembuskan nafas, tanda lega karena tak terjadi apa-apa dengan Rama. Tiba-tiba seseorang berteriak ‘Rama kepala kamu berdarah!!!!’. Rama memegang kepala bagian belakang, merasa ada cairan di kepalanya. Darah.

Semua panik. Rama yang tadi tertawa pun ikut panik melihat tangannya di penuhi cairan merah. Sekar yang sedang asyik membuat puisi segera menghampiri Rama. Dan memarahi Rama karena tidak mendengarkan kata-katanya. Dalam hati Sekar sebenarnya sangat khawatir pada Rama. Ia menyuruh Rama duduk, kemudian berlari ke ruang guru. Rama di bawa ke rumah bidan yang kebetulan berada tak jauh dari sekolah. Air mata tak kunjung berhenti dari mata Sekar. Ia menangis di sepanjang jalan ke rumah Ibu bidan. Dan Rama diam-diam tersenyum melihat Sekar menangis untuknya.

Tugas membuat puisi selesai. Sekar memamerkan puisinya kepada Rama dan mentertawakan puisi hasil karya Rama. Memang selalu seperti itu, Sekar  pandai sekali memilih kata-kata hingga tercipta puisi yang indah. Setiap puisi yang di berikan Sekar, selalu Rama simpan dalam kotak berwarna merah. Bukan hanya puisi, bahkan percakapan di kelas yang biasa mereka sampaikan lewat lemparan kertas Rama simpan dengan baik. Sama baiknya seperti ia menyimpan rasa yang berbeda pada Sekar.

Hingga suatu hari, Sekar menemukan sepucuk surat di dalam sepatunya yang ia simpan di rak depan kelas. Kertas berwarna pink, berisi pujian dan kekaguman terhadapnya. Sekar tidak begitu peduli. Ia hanya mengira itu adalah ulah teman-temannya yang jail atau malah surat itu salah alamat. Salah alamat sepatu. Setelah membaca surat itu, ia  menyimpannya dalam tas. Tak peduli siapa pengirim yang memang tidak di cantumkan dalam surat pink itu. Hingga tiga hari berturut-turut ternyata sepatunya selalu di isi surat sepulang sekolah. Ia bercerita pada Rama. Menanyakan siapa kira-kira pengirim surat itu, dan Rama hanya menggeleng tidak tahu.

Rama dan Sekar berpisah setelah lulus SD. Semakin jarang bertemu ketika SMA, karena Sekar tinggal bersama Bibinya di kota. Mereka hanya bertemu ketika musim liburan tiba. Suatu hari ketika mereka sedang menyusuri sungai tempat bermain mereka waktu kecil, Sekar kembali membahas surat yang ia temukan di sepatunya dulu.

“Kamu benar tidak tahu siapa pengirim surat itu Rama?“ Tanya Sekar menatap wajah Rama.

Rama kaget. Tak menyangka Sekar akan membahas kembali surat itu. Surat yang sebenarnya ialah penulis nya dan diam-diam meletakkannya di dalam sepatu Sekar.

“Aku gak tahu Sekar” jawab Rama menunduk tak berani menatap Sekar.

Ada perasaan kecewa dalam hati Sekar mendengar pengakuan Rama. Padahal ia berharap Rama lah yang menulis surat itu. Karena tulisan dalam surat itu sama persis dengan tulisan Rama yang ia lihat di buku catatannya. Tapi Rama mengatakan tidak tahu. Dan ia tak bisa  memaksa Rama untuk mengakuinya. Maka gugurlah harapan Sekar. Harapan yang ia simpan sejak surat kedua itu muncul di sepatunya.

Rama mengutuk dirinya yang tak jujur pada Sekar dan pada perasaannya sendiri.  Penyesalan tak henti-hentinya membayangi hidupnya. Sampai akhirnya Sekar berkuliah di Jakarta dan membawa seorang pemuda ke rumahnya. Mereka bertunangan. Rama tersenyum getir ketika mendengar kabar itu. Sekar sendiri yang menyampaikannya. Dan mata mereka tak berani untuk saling menatap. Mata yang akhirnya harus mengubur semua harapan.

Setelah lulus kuliah, Sekar kembali ke desa. Mengajar di Sekolah Dasar tempat ia dan Rama dulu mengukir cerita. Tempat yang saat ini tengah Rama tatap dengan berjuta penyesalan. Sekolah yang pernah di huni oleh dua sahabat.  Sekolah yang saat ini menjadi tempat untuk Rama menatap sahabat kecilnya. Sekar.

  • view 329