Empat Puisi Imam Budiman di SKH Cakrawala Makassar

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 13 Maret 2016
Empat Puisi Imam Budiman di SKH Cakrawala Makassar

?

Putri Hutan Gerimis

?

jangan dulu kaupejamkan bunga taman edelweeis;
ungu-ungu sewarna bunga abadi tebing pegunungan
karena aku ingin sekali tinggal bersamamu di hutan gerimis
hutan yang menyenandungkan sajak-sajak cinta
jauh di mana perbatasan nama ibunda yang tabah menyusui
juga ayah yang bercucur keringatnya mengalir keriput tua
?
sebab begini, biar kujelaskan padamu: -semoga-
bulir napasmu adalah sekuntum napas anak-anakku kelak
ya, anak-anak kita! cucu ayah bunda yang dipinta
hujan telah mengenal baik pula siapa perangaimu
dan aku tak punya alasan untuk terlambat meminang
agar kita rayakan pernikahan ini di gubuk bahasamu
maka ragu, bolehkah kuutarakan saja?
yang membalas setiap rintik, putri hutan gerimis
?
2014
?

Sebuah Tanya

?
seorang anak laki-laki berumur? sepertiga jagung itu bertanya:
?Apa bahagia itu, ibu? aku heran, mereka selalu membicarakannya setiap hari.
menuntutnya, bahkan berkelahi, mengadu kekuatan untuk memperebutkannya.
jelaskan padaku, apa bahagia itu, Bu??
lugu, ingin tahu, si anak melepas seragam merah putihnya, menggantung sekena
?Betapa hidup tak adil. Betapa pun hidup tak pernah berpihak.? lanjut si anak.
dari dalam kamar ia mengegerutu, meraih sesuatu di bawah meja belajarnya
membuat simpul dari bisikan yang tak berasal dari hatinya, nampak kalap
?
mendengus napas, sembari mengaduk adonan bakwan yang akandijajakan
?si ibu bermata cekung -akibat tangis yang membekasi- pun menjawab:
?Maka perdengarkan ini, Nak.
Sekelopak nasihat yang tak dapat terbalas? oleh lelahmu.
Bahagia itu adalah ketika kau dapati kegembiraan, kedamaian,
dan rasa syukur dalam waktu bersamaan. Hilang saja salah satunya,
hidupmu akan timpang, tak seimbang. Kau akan kehilangan arah.?
?
si anak hanya tercengang, diam. menyelami telaga tafsir dari? ucapan ibunya
?Sebab, akan kau dapati nantinya, mereka yang bergembira dengan kesemuan.
Berpoya dalam kesementaraan. Mengagungkan angan-angan kosong
sedangkan kedamaian tak direngkuh. Bahkan, untuk syukur pun benar terkhilaf.
Maka nak, janganlah kau serupa itu? si ibu menyambung lagi, mengadon airmata
tak ada jawaban, hening. Hanya suara minyak goreng berletupan mendidih
?
sedangkan di pintu kamar belakang,
menggantung diri si anak; memutus jatah nyawa dengan seutas tali
?
2014
?

Pananjakan Bromo

?

di desa tengger, sepagi ini dingin masih begitu mengikat sendi
kaca-kaca mengembun di balik nasi dan lauk yang baru diangkat dari kuali
sebelum dipentaskan pukau alam raya,
ada yang menahan gigil hawa gunung
menanjak, menempur malam, tak sadar dengan malam yang dendam
sorak sorai suara kita membelah
dedemit yang terbangunkan dari semedinya
menyambut bias mentari berpendar dari puncak tertinggi di balik semeru
?
masih menahan gigil
sarung tangan dan syal ini tidaklah cukup,
bahkan dua lapis jaket tebal yang sudah dibawa
?
gigil yang menggoyang tulang-tulang
gigil yang hampir memisah sendi dari tempat ia berdiri
mahaindah dicipta, tumpukan tanah yang meninggi,
mengandung kawah dalam rahimnya
?
sisa tanah hikayatmu menjadi penyembuh
senantiasa berkelindan dalam setiap pengantar tidur anak-anakku kelak
?
2014
?

Meninggal Dunia

?
jikalau nantinya aku benar-benar ditetapkan oleh sangmaha untuk
rebah menyatu dengan tanah yang? membasah, kain kafan, serbuk cendana
dan juga nisan batu serta sepasang kamboja yang ditanamkan di atasnya,
maka perkenankanlah bait-bait puisiku tumbuh berkembang dalam hatimu
tidak lama, hanya untuk beberapa waktu saja
?
atau setidaknya, beri sedikit ruang agar sedianya
merawatkan hingga puisi-puisi itu beranjak separuh dewasa
?
lalu lepaskanlah, biarkan ia mencari hakikatnya sendiri tanpa ditunjuki arah
mata angin? sekalipun. Ya, walau tubuh ini sudah
tak bergerak pasrah dilayapi gelap
paru-paru yang hilang fungsi dan jantung yang enggan lagi memompa
tidak mengapa, tidak perlu khawatir.
?
sebab ada beberapa larik puisiku yang terus mengepakan sesayapnya untuk mendoakan setiap pagi, saat sekawanan puisi itu bersua dengan udara bumi yang berhembus dari timur
maka, di situlah aku kembali ada
?
2014

  • view 195

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Untaian aksara yang mengandung makna luar biasa. Terutama puisi berjudul "Meninggal Dunia" membuat saya merinding membacanya. Di dalamnya terselip pesan tentang pentingnya berkarya agar nama kita tak punah kelak meski raga telah berkalang tanah ...