Sepilihan Sajak "Kampung Halaman" (100 sajak 2014 - 2015)

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Buku
dipublikasikan 12 Maret 2016
Sepilihan Sajak

Terdedah indah melalui isyarat bahasa bunga, daun, batang, ranting, dan buah. Buku puisi ini setidaknya mewartakan kampung halaman melalui bahasa rasa, lanskap batin, dan metafora yang menyoal hidup dan kehidupan dalam kepungan cinta. Aneka cita rasa dan renungan terpapar dan tergelar di dalam puisi terpilih. Sepilihan puisi? dalam buku ini mewakili sosok pribadi penyairnya.?

?Dimas Arika Mihardja, Penyair, Dosen Sastra Universitas Jambi & Direktur Eksekutif Bengkel Puisi Swadaya Mandiri.

?Bagi saya, kehati-hatian cukup berperan untuk menelaah serta meresapi kandungan makna puisi-puisi dalam terowong besar dan panjang bernama ?Kampung Halaman? ini. Menarik, karena lugas dan tepat sasar bagi pembaca sembari bergoyang kaki atau sedang menghirup secangkir kopi. Puisi-puisi yang sangat akrab dan bersahaja. Saya meyukai sepilihan puisi ini karena lorong besar dan panjang itu menggiring saya untuk menikmati banyak hal, pemandangan bayang-bayang, harapan demi harapan, bahkan pesan-pesan sebagai warisan yang dititipkan melalui kata demi kata, dan ungkapan yang mampu menjadi pijakan.

?
-Ali Syamsudin Arsi, Penyair, Peserta Ubud Writer and Readers Festival 2015 & Ketua Divisi Pendidikan dan Pelatihan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat.

?Sebuah arus kata yang ditulis dalam perjalanan mengamati hidup. Seperti menyalakan lampu pada etalase-etalase puisi yang ditata dengan menjelajahi lokalitas daerah, dengan atau tanpa simbolisasi. Ada semacam pembuktian bahwa ia ada dan bercerita, serta membawa pembaca tahu apa yang tengah ia tuliskan dalam identitasnya sebagai seorang penyair.?

-Cikie Wahab, Penyair, Pegiat Komunitas Paragraf, Pekanbaru, Riau.

?Membaca puisi-puisi Imam Budiman dalam buku ini, saya seperti masuk di tengah hujan. Semua tahu bahwa hujan adalah hal yang sangat sederhana. Akan tetapi, setiap kali memasuki hujan, saya mengingat-ingat segalanya yang tak sederhana. Kampung halaman, masa kecil, cinta, keluarga, dan bahkan suatu tempat yang mana tak ada kebobrokan sana-sini. Dan tentu saja tidak hanya mengingat, sebab secara tidak sadar, saya terseret arus rindu suasana seperti itu.?

?
-Daruz Armedian, Penyair, Pegiat Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

  • view 584