Pelajaran Mencintai Buku Fiksi

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 20 Oktober 2017
Pelajaran Mencintai Buku Fiksi

Pelajaran Mencintai Buku Fiksi
 
Novel;
 
aku dunia mahaluas yang, sebagaimana kautahu, terbagi pada bab-bab berkaitan. bab bermakna pintu. kau masuk kepadaku dari satu pintu ke pintu berikutnya, berurutan. aku adalah sebuah rangkaian besar yang harus kau cermati pelan-pelan dengan penuh rasa sabar. aku dunia yang serba teratur, kau tak boleh memasuki aku semau-maunya.
 
ada anak-anak yang bermain hujan waktu di dalamku,
ada ibu-ibu yang suka sekali belanja gunjingan di dalamku,
ada bapak-bapak yang gemar memakan tembakau di dalamku.
 
sampai suatu waktu, kau bosan,
dan urung menyelesaikan.
 
"apa yang dapat dijanjikan dari sebuah karangan, yang pengarangnya sendiri tidak tahu ke mana akan memakamkan tokoh-tokoh itu kelak jika mati?"
 
tanah yang terdiri dari kata-kata,
tak pernah mampu menutupi aroma busuk dan luka.
 
Kumpulan Cerpen;
 
serba padat, ringkas, terbatas dan ruang lebih sempit adalah aku, yang pandai merangkum peristiwa dari paragraf ke paragraf. sekali kaujamah, seluruh aku masuk ke dalam kepalamu. sekali kaujumlah, seluruh aku masuk ke dalam lambungmu.
 
bersaudara dengan novel, aku pemberontak yang kerap menentang kejadian-kejadian remeh, tak banyak berhubungan dengan para pelakon yang memainkan peran.
 
sampai suatu saat, kau berpikir,
waktu telah banyak habis.
 
Kumpulan Puisi;
 
kata-kata saling menyublim jadi katakata. kata-kata saling bertindihan jadi kotakota. kata-kata saling berdorongan jadi kitakita.
 
aku belantara yang sengaja kaumasuki, walau hanya sewaktu-waktu, dari segala yang terang terwujudkan syakal makna.
 
2017
 
Pelajaran Melupakan
 
seorang guru pemalas yang diutus dari masa lalu, di pagi mendung itu, memberikan mata pelajaran pertamanya kepada para murid tak bersemangat.
 
"lupa itu, anak-anak, upaya menghilangkan ingatan yang lampau. harus cermat dan hati-hati untuk menerapkan teori satu ini. lupa itu mengikis sampai hilang. hilang tanpa bekas, meski tak lekas,"
 
ia mengawali materi itu setelah mengucapkan serak salam, meletakkan kacamata minus di atas meja, melihat sebentar ke arah kapur tulis yang agak berantakan, dan mengabsen kehadiran murid satu persatu.
 
"lupa itu, anak-anak.."
 
Ciputat, 2017
 
Dongeng Kepala dan Rambut
 
kepalaku garis melingkar, zig-zag, vertikal-horizontal, acak tak beraturan. membentuk terowongan panjang kepada cahaya yang tak berbilang. ramai arak-arakan di atasnya satu kabilah besar prajurit semut, menggotong seekor bangkai cicak yang salah melepas ekor --iya harusnya ekor, eh tapi ia malah melepas kepala.
 
rambutmu kiasan payung-payung awan yang terbentang ketika hujan batu gemuruh. malaikat yang ditugaskan merawat pelangi pernah berteduh sebentar di rambutmu manakala embun sebesar kepala seorang balita menggebuki tanah kerontang.
 
"oh, rambutmu ini," pukaunya saat pertama kali melihat, "adalah kebun warna paling sempurna mengalahkan segala apa yang dimiliki lembah-langit-laut kahyangan."
 
kemudian ia pun mencuri 7 macam warna memanjang itu darimu, mejikuhibiniu, untuk kemudian dibawa dan diramu kembali, agar dapat dipertunjukan kepada semua penduduk bumi seusai pentas badai rutinan tahun ini.
 
2017
 
Es Teh Manis
; seorang ayah kepada anak perempuannya
 
luka-luka senja, 311 hari bakda matahari lahir, bersangkar serah dan tak ingin lepas dari kutukan segelas es teh manis. sebaik-baik akuarium, ujarnya, tempat terumbu dosa imitasi dilebur hingga lumer, tuntas sebelum kematian menyalakan sirine di setiap desa dan irigasi.
 
lalu, es teh manis itu dipesan seorang pengemis, 6 logam 500 rupiah diterima setengah hati oleh luka senja. pengemis diam saja, tanpa menyesapnya, meski sedikit.
 
"boleh sebentar aku mendinginkan waktu, untuk anakku yang keburu ingin beli sepatu?"
 
luka senja itu diam sejenak, agak terheran, mengingat-ingat wajah si pengemis dekil yang tak asing baginya.
 
"boleh kan ya? anak saya dulu mirip kamu, berlampau-lampau zaman lalu yang entah, tenggelam tubuhnya di dalam segelas es teh manis yang kemudian terasa hambar. semoga saya bisa lekas menjumpainya."
 
Seteru Pelaku Kata dan Penyair

penyair yang hilang akal, gerimis ini, menikam lambung malam dengan kata-kata yang prematur berpinak, "semakin larut, rintik kadung jadi puisi, tak lagi asyik."
 
biar gerimis dengan sunyi, bukan dengan kata.
biar kata dengan sukma, bukan dengan api.
 
pelaku kata yang terjebak di kedai kopi, mengisap kreteknya dalam-dalam, batang kesekian, membuat dadanya sedikit sesak. ia melirik sedikit ke arah si penyair yang tahu-tahu tubuhnya sudah penuh luka masa lalu.
 
: pelaku kata dan penyair melakoni kerja yang sama,
tapi nyaris tak serupa, selalu ada yang beda.
 
pelaku kata memasok kata dan menyulamnya, benang ke benak, senang ke jinak, sampai ia pulang dan memilih beternak; ternak kata-kata.
penyair tak punya kata, ia hanya diam-diam mencuri dari pelaku kata ketika lengah, menyimpannya dalam kantung-kantung kepala. sepulang ke rumah, penyair baru akan menyusun-nyusunnya, memilah-milihnya, menimang-nimangnya, sampai terbentuk merah bayi puisi.
 
pelaku kata menggugat,
penyair kekeuh tak akan minggat.

Ciputat, 2016
 
Pulang Kepada Ibu

di tengah hiruk pikuk dan ketidakberaturan ini, aku ingin pulang ke tubuhmu, ibu. memandang miniatur dunia dari etalase rahim hangatmu. mengutuki orang-orang dewasa yang bicara A, namun laku geraknya B. aku jenuh jika harus kembara demi mencari identitas yang, menurut para filosof, tak akan pernah usai dan capai.
 
ibu yang tak mengerti fitur-fitur smartphone, biarlah kau tetap kaku dalam kepurbaan isi kepalamu. bahwa hidup seharusnya memang sebatas menanak nasi serta membakar lauk, membesarkan anak-anak yang pergaulannya semakin kacau, juga suami yang terserang TBC akibat racun kretek. hidup, bagimu, hanya sebatas mengurusi itu.
 
dalam peta pencarian tubuhku yang tersesat, aku ingin selalu mengarah pulang ke tubuhmu. mengangkut segala payah dan letih retorika yang kubangun sendiri. atau setidaknya izinkan aku menjadi lenganmu atau kakimu atau payudaramu atau punggungmu atau keriputmu atau ubanmu atau bahkan usus pencernaanmu.
 
aku ingin sekadar bermalam di pangkumu. menyalakan unggun api yang tentram. dan tertidur sembari mendengarkan kidung sunyi kematian.
 
Ciputat, 2016
 

* Imam Budiman, dilahirkan di Loa Bakung, Samarinda, Kalimantan Timur. Kini bergiat di Komunitas Sastra Rusabesi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Puisi-puisinya dimuat di media cetak lokal dan nasional. Buku kumpulan puisi tunggalnya; Perjalanan Seribu Warna (2014), Kampung Halaman (2016) dan Riwayat Gerimis (2017).

  • view 73