Riwayat Gerimis; Menghayati Sajak Arbain

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 17 Agustus 2017
Riwayat Gerimis; Menghayati Sajak Arbain

Riwayat Gerimis; Menghayati Sajak Arbain

Berawal dari sebuah diskusi hangat di suatu malam. Tepatnya, manakala sedang berlangsung acara Kenduri Takhrij (diskusi mingguan pasca sidang takhrij di Darus-Sunnah) yang membahas tentang keutamaan Hadits Arba'in yang banyak disusun oleh para ulama. Maka, atas dasar itu pula, saya berinisiatif untuk menyusun 40 puisi dalam buku kecil ini. Berbeda, tentu saja. 40 hadis yang disusun oleh ulama dengan 40 puisi yang disusun oleh mahasanti biasa. Namun, selain tafa’ulan, bagi saya 40 merupakan jumlah yang cukup ideal; tidak terlalu sedikit untuk bilangan puisi –yang menjadi semacam kenang-kenangan, juga tanda perpisahan.

Saya kembali menyortir beberapa puisi dari rentang tahun 2015 hingga pertengahan 2017. Kerja yang cukup melelahkan, sebab begitu banyak naskah yang tercecer dan lupa terdokumentasikan dengan baik. Tak seperti lazimnya puisi-puisi yang pernah saya tulis, dalam buku ini, saya mengkhususkan tema-tema puisi melalui sudut pandang seorang santri.

Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh almameter di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Segenap dewan Asaatiz, para Musyrif, teman-teman lintas angkatan, dll. Wabil khusus, kepada Almarhum Ayahanda Ali Mustafa Yaqub yang telah mendidik kami dengan tulus dalam asuhannya.

Puisi-puisi di dalam buku ini saya persembahkan sebagai "perayaan kecil" setelah purna menunaikan studi strata I selama 4 tahun di Darus-sunnah; rumah dalam menjalani proses kreatif serta mempelajari banyak hal.

Semoga buku kecil ini membawa manfaat. Semoga keberkahan mengiringi langkah kita semua. Amin ya rabbal alamin.
 
 
Kutubus Sittah 
 
berjilid-jilid tubuhmu renta,
sunyi sabda di pembaringan
 
membacamu, halaman ke halaman
adalah bunga-bunga kebahagiaan
 
mengenalmu, waktu ke waktu
adalah hikayat para pemecah batu


memaknaimu, malam ke malam
adalah api abadi yang tak padam

meneladani sosok yang berucap
di setiap kalimat rangkaian tubuhmu
adalah keinginan yang tak pernah usai

: aku ingin membacamu
di setiap jarak waktu

Ciputat, 2017


Di atas Pusaramu, Kiai

kukenang kau sebagai ayah
bertahun-tahun dalam asuhanmu

kukenang kau sebagai ayah
tulus mendidik tanpa kenal jeda

kukenang kau sebagai ayah
membimbing ruh kepada jalan nabi

di atas pusaramu doa-doa dilangitkan
di atas pusaramu ayat Quran dibacakan
di atas pusaramu rupa bunga ditadahkan

bagaimana kabarmu hari ini, kiai?
berapa banyak nikmat Tuhan
telah kau cecap-rasakan? 

2017 

 

Sanad Hadis, I

; perawi majhul

mencari-cari namamu, tuan
habis segala upaya dikerahkan

aksara demi aksara berkelindan
menyatu, memisah, meninggikan
namun nama tuan
tak dapat ditemukan

: bolehkah saya bertamu
ke gubuk tuan?

Ciputat, 2017

 

Sanad Hadis, II
; perawi tsiqaat

saya menemui tuan tsiqaat
dengan senyum hangat
serupa perpindahan
antar dua musim

“perjalananku adalah
sebenar-benar kembara,” ucapnya

menempuh puluhan badai
demi membawa kalam
milik sang baginda


Ciputat, 2017

 

Sanad Hadis, III
; perawi kaadzib

takzhim saya tak luruh
kepada tuan nan malang

sebab saya belum tentu
lebih baik dan pandai
ketimbang perangai tuan

para penjarah bertugas
menghakimi dan menilai
setiap pola  perilaku tuan

tetapi, tuan tidak
menaruh dendam bukan?

Ciputat, 2017

 

Sajak Anak kepada Ayahnya
; kepada gus ziya'

adalah sembahyang dedaunan,
membentuk sabda kenabian
yang terus dibacakan

jarak tak menjadi sebab,
doa-doa dilarungkan untukmu
kepada luas samudera rahmat-Nya 

dengan perahumu, ayah
kau mengantar masa kanakku
hingga jelang dewasa dalam asuhmu

di hari kau dipanggil, ayah
doa-doa kujelmakan angin lembut
yang mengantarmu hingga ke liang lahat

doa-doa melesat cepat antar benua,
ada wajahmu senantiasa kukenang
ada nasehatmu selalu terngiang
ada dirimu utuh membayang

aku tak ingin menuding pada
jarak, waktu, dan musim
sungguh tak ingin

kini hanya airmata yang turut,
sembahyang bersama dedaunan

2017

 

Wisuda Mahasantri

ada yang berbicara setiap senja
dan setelahnya, barangkali kita tak ada

ada yang bergumam pada pohonan
setiap temu lahir selalu ada perpisahan

ada yang bercerita senarai cahaya
telah kita temukan ia sesungguhnya

maka tiba hari ini
tunai dalam asuhan kalam nabi
yang akan terus dilanjut setiap hari

maka tiba hari ini
daun-daun senyum ranum
bersama orang-orang terkasih

2017 

 

Salawat Hujan

di balik bingkai jendela,
hujan turun rimbun
berkejaran

memecah nyanyi
sepanjang kelokan jalan
serta watak sunyi anak badai

hujan turun rimbun
bertunai-tunai
purba rintik
dan capai

2017

  • view 157