Saya Percaya Sukiman adalah Reinkarnasi Superman

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Tokoh
dipublikasikan 28 Juli 2017
Saya Percaya Sukiman adalah Reinkarnasi Superman

Saya Percaya Sukiman adalah Reinkarnasi Superman
 
Sukiman, siapa yang mengenalnya?

Tak ada. Kecuali saya yang hobi begadang demi deadline tulisan di sebuah koran lokal, ibu yang suka menggosip hal-hal remeh kehidupan entertain, adik-adik yang semakin brutal pergaulannya dari hari ke hari, dan keluarga kecil kecoak yang sejak 2 tahun terakhir bersarang di belakang rak piring di rumah saya.

Ya, hanya mereka yang mengenal Sukiman. Selebihnya, saya rasa tidak.

Kalau pun ada yang mengenal Sukiman dengan baik selain apa yang saya sebutkan, pastilah hanya untuk urusan sepele seperti pinjam meminjam uang –yang entah kapan dikembalikan, atau lagu campursari apa yang paling enak dan ter-update.
 
Kehidupan seorang Sukiman kelewat monoton. Begitu-begitu saja. Tidak asyik.

***

Sekarang, pertanyaan akan jauh berbalik. Superman, siapa yang tidak mengenalnya?

Meski komik Superman diciptakan oleh DC jauh sebelum kita lahir (saya kelahiran 94 loh ya) dan belum tentu pernah membaca komiknya langsung, setidaknya kita cukup familiar dengan tokoh superhero yang hobi pamer isi celana dalam ini. Tampan, kekar, memiliki kekuatan di atas ukuran rata-rata lelaki, dan tentu saja lebih kerennya lagi: Superman bisa terbang.

Ya, Superman bisa terbang. Sukiman tidak.

Barangkali anda tidak akan mendapat banyak faedah membaca tulisan ini. Saya sarankan, sebaiknya anda melakukan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat yang bisa anda lakukan, seperti menghitung jumlah keramik yang ada di dalam kamar mandi anda, mengikuti semirip mungkin suara kucing yang kebelet kawin, atau memikirkan kegunaan yang bisa dihasilkan dari ampas teh.

Catatan ini, saya tulis iseng-iseng. Mengenang seseorang yang kepalanya kini mulai marak ditumbuhi uban di mana-mana, seseorang di seberang pulau sana, yang suka mengigau malam-malam begini, dan tidak mungkin bisa membaca tulisan ini.
 
Bukan karena buta huruf. Tetapi tidak percaya kalau anaknya ngaku-ngaku penulis.

***

Bagi yang belum tahu siapa Sukiman, tak mengapa, bukan suatu kewajiban untuk mengetahui sosoknya. Enggak penting-penting amat deh. Sukiman bukan salah satu nabi dan rasul yang wajib dihafal sewaktu sekolah madrasah dulu. Sukiman juga bukan salah seorang yang punya pangkat sehingga namanya kerap disebut-sebut dalam acara 17 Agustusan maupun perlombaan kontes dangdut antar RT.

Sukiman is Sukiman. Yang belakangan saya yakini sebagai reinkarnasi Superman.

***

Di sini Tidak Ada Bapak, yang Ada: Sukiman

Sukiman itu bapak saya.

Sukiman, setahu saya, bukan orang yang romantis. Entah kalau benar ia memang romantis, namun selama ini disembunyikannya. Sukiman hampir tidak pernah punya inisiatif untuk memberi kejutan atau semacamnya kepada Ibu. Soal bahasa cinta apalagi. Saya tidak pernah mendengar bapak mengucapkan kata-kata sayang atau semacamnya. Bapak seolah kelu. Entah apa yang membuat ibu menerima cinta Bapak.

Sukiman benar-benar nggak banget ukuran perempuan kekinian yang haus puji dan rayuan.

Satu-satunya kemampuannya --kalau boleh dikatakan kelebihan, yaitu melucu. Kadang agak garing sih. Selera humornya tidak terlalu buruk, setidaknya bagi ibu yang suka tertawa melihat tingkah bapak. Mungkin itu yang menyihir ibu, saya kira. Dan ketika bapak bilang suka, ibu pun tidak banyak berpikir menerimanya.

"Dia tulus mencintaiku dan bisa membuatku bahagia," pikir ibu, mungkin. Dan pada akhirnya, keduanya pun menikah. Saya, kehadiran saya dan keempat adik saya hari ini, adalah bukti kongkrit kalau kedua-duanya saling mencintai dan bukti nyata kalau Sukiman lelaki tulen + tokcer. Heuheu.

Lain bapak, lain pula anak. Tidak semua buah jatuh dekat dari pohonnya. Adakalanya, buah terlempar jauh akibat hewan nokturnal yang mememetik, memakan, lalu melemparkannya jauh dari si pohon. Atau boleh jadi, akibat angin puting beliung yang menghantamnya.

Saya suka berbicara, bahkan terkesan banyak bicara. Senang bergaul, baik dengan orang lama atau bahkan orang baru. Kehidupan sosial saya, boleh dikatakan, lebih terbuka ketimbang Sukiman yang terkesan anti sosial. Bapak, sejauh yang saya perhatikan, lebih sering jadi pendengar. Hanya sesekali menanggapi, itu pun untuk persoalan kecil dan remeh. Selebihnya ia cuma diam. Mendengarkan mulut satu dengan mulut lainnya bicara. Ia tidak pernah sekali pun terlihat mendominasi dalam sebuah perbincangan, kecuali dengan anak-anaknya.

Melihat bapak, tidak sama melihat saya, anaknya. Watak kami berbeda.

Bapak itu penyabar luar biasa. Kecerdasan emosi bapak di atas rata-rata, sekelas profesor, mungkin. Saya, berbeda. Saya terkesan lebih gampang dipancing kemarahan. Sedikit-sedikit marah. Saya kerap meluapkannya secara langsung.

Bapak lebih banyak bekerja daripada berbicara. Bapak lebih memilih melakukan hal-hal sederhana di rumah daripada 'haha-hehe' di warung kopi atau hajatan tetangga. Pepatah arab bilang, "lisaanul haal afsaah min lisaanil maqaal". Sukiman adalah representasi paling dekat bagi saya atas pepatah tersebut.

Sukiman tidak pernah bertanya bagaimana kuliah saya. Sukiman cuma memastikan dengan pertanyaan yang nyaris berulang setiap kali menelepon,

"Kuliahmu gimana, baik-baik aja kan?"

Tanpa menanyakan IP saya berapa, matkul apa yang dirasa sulit, dsb. Ini jelas menguntungkan bagi saya, sebab nilai IP saya selama ini pas-pasan, dan jika ditanya matkul apa yang dirasa sulit, ya jelas, hampir semua matkul saya rasa sulit. Haha.

Menulis tentang Sukiman, saya rasa, tidak pernah ada habisnya. Suatu hari nanti, di cerpen-cerpen berikutnya, saya ingin mematenkan nama Sukiman sebagai tokoh utama. Nama yang terkesan kampungan, namun terdengar seksi bagi saya. SGA punya Sukab dan Alena. Sungging punya Nayla. A.S Laksana punya Seno.

Saya punya Sukiman. Sedap-sedap asoy.

***

Di sini Tidak Ada Sukiman, yang Ada: Bapak

Saya suka bapak dan apa yang melekat padanya. Tampilannya sederhana, tidak perlente. Bicara sekadarnya, itu pun jika ada yang mengajak. Jika tidak, ia lebih betah menekuri kesunyian dan isi kepalanya sendiri yang entah apa. Tak ada yang bisa menerka.

Saya suka bapak; kumis yang sesekali dicukur tipis juga sikap dinginnya yang kerap membuat orang yang baru mengenal, akan mengira bahwa bapak orang yang sama sekali tidak asyik diajak berhaha-hihi, ngelantur ke sana-ke mari.
 
Saya suka bapak dengan senyumnya yang acapkali hanya sebatas seringai; tawa lebarnya seolah luntur dibabat usia dan sekian cobaan.

Saya suka bapak dengan kelapangan hati seluas jagat. Lebih sering menahan, ketimbang meluapkan. Ia orang yang enggan menunjukan hal yang disuka atau tak disuka dengan kata-kata. Tetapi, isyarat tubuh yang jelas mewartakan dengan amat apik kapada kami, anak-anaknya.

Saya suka bapak yang tak pandai berteori A, merumuskan B, mengonsepkan C. Ia bukan orang yang sistematis. Namun akan selalu sedia mengutamakan keperluan orang lain daripada dirinya sendiri.

Saya suka bapak yang biasa-biasa saja. Saya suka bapak yang kampungan. Saya suka bapak yang penghasilannya memang tak seberapa. Saya suka bapak yang mencintai dengan tindakan, bukan bahasa. Saya suka bapak yang dahulu pernah diam-diam menitikkan airmata, sebab lama tak berjumpa anak perempuannya.

Sehat terus, Pak. Kapan-kapan kita ngopi, dengan takaran gula alakadarnya, demi menghindari penyakit tua: diabet-kronis.
 
***

Selamat Hari Ayah, Sukiman!
(Catatan pendek ini saya tulis pada hari Sabtu, 12 November 2016)

Sabtu pagi yang terkutuk, diawali dengan kebablasan salat Subuh. Jam menunjukan pukul 7. Kepala sedikit terasa sakit. Bangun. Menuju kamar mandi yang, air krannya, tak lebih deras dari kencing sendiri.

Selesai mandi dengan sabun yang sekarat. Lalu salat 2 rakaat yang mestinya dikerjakaan 2 jam yang lalu. Hanya ada satu jadwal hari ini: pertemuan anggota redaksi kamar cerpen, sebuah jurnal komunitas sastra yang saya ikuti di kampus.

Selebihnya, tidak ada jadwal penting hari ini, karena sebagai mahasiswa yang kelewat biasa-biasa saja, kerja saya kebanyakan nganggur dan malas-malasan. Jika benar-benar suntuk, saya memilih membaca atau mampir ke warung kopi, sendiri. Jika tak ada lagi, tidur siang yang panjang, bagi saya, jadi opsi paling layak.

Dan kali ini, saya terjebak di sebuah kedai, tanpa hujan juga tanpa kenangan, di pinggiran Ciputat --masih sebagai mahasiswa semester tua yang tak ingin banyak memikirkan tugas akhir.

***

Pagi ini, dari salah satu tweet seorang kawan, sekilas saya membaca, ia mengabarkan kalau hari ini adalah hari ayah nasional. Hari yang, menurut saya, biasa saja. Tak ada euforia yang meledak-ledak. Hari yang tak semarak hari Ibu.

Untuk sekadar merayakan, tak salah kiranya mengirimkan pesan singkat ke Bapak dengan bunyi kurang lebih seperti ini:

Selamat hari Ayah, Pak.
Hari yang sebenarnya untuk para Ayah. Bukan untuk bapak. Bukan juga untuk Abah, Abi, Daddy, Papa, Papi.
Tetapi itu cuma soal penyebutan, sehingga tak patut berpanjang-panjang diperdebatkan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepadamu yang telah rutin menransfer uang jajan setiap bulan selama ini --ya, ya, meski aku setua ini, kuucapkan:

Kau, Pak Sukiman yang paling keren sejagat. Super hero paling nyata di alam sadar. Kurasa, komikus DC banyak terinspirasi darimu; Spectre, Eclipso, Batman, Superman, dkk, tokoh-tokoh hebat yang hadir hanya dalam fiksi, dunia yang serba tak nyata.

Namun kau, Pak Sukiman, senyata-nyata hidup dan ada. Terima kasih.

***

Lah
terus, di mana letaknya, kok Sukiman dibilang reinkarnasi Superman? Lagi-lagi, seperti yang lalu-lalu, tulisan saya memang menjengkelkan. Tidak pernah selesai. Mengantung begitu saja. Saya hanya menulis ulang, menambah dan mengurangi beberapa bagian, dan hasilnya seperti yang anda baca sekarang.

Oh iya, ada berapa kata Sukiman yang saya tulis di atas? Coba hitung. Nanti, saya kasih hadiah kalau kita lagi ngopi bareng.

Ciputat, 28 Juli 2017

  • view 155