Pedoman Menjadi Pemalas

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 15 Juli 2017
Pedoman Menjadi Pemalas

Pedoman Menjadi Pemalas
 
untuk menjadi seorang pemalas paling sempurna di muka bumi, ia pun berinisiatif ikut mendaftar kursus. langkahnya tak terukur, gontai. setelah ia mendaftar dan membayar sejumlah uang administrasi, ia mendapat list di sebuah kertas kecil dengan cover bertuliskan "kiat-kiat menjadi pemalas terbaik di dunia".

"kemalasan sudah mendarah daging dalam diri sejak lama, sayang kalau tidak disempurnakan sekalian," pikirnya.

setengah tak sabar, ia membuka kertas kecil, di dalamnya list-list itu seolah berebut ingin lompat:

[]_[]_[]_[]_[]

1. pemalas pantang malu. pemalas bukan pemalu. malu harus lebih kecil dari malas. kemaluan harus lebih besar dari kemalasan.

2. tidur adalah cara paling biasa menghabiskan kemalasan. kau mesti terjaga. pikiran kosong melompong. tidak melakukan kegiatan apa-apa. kemalasan juga sama seperti suluk menuju sang hyang. perlu dilatih, perlu ruang.

3. bila ada seorang malaikat baik hati mengajakmu pergi ke perpustakaan kampus untuk sekadar menghabiskan waktu, jangan kausambut tawarannya. benar, membaca adalah aktivitas bagi orang-orang pemalas, hanya duduk dan main kata-kata. masa bodoh paham isi atau tidak, tetapi tetap saja sewaktu-waktu, buku-buku itu mencerdaskan. kalau kau cerdas, apa gunanya kau baca aku.

4. kau boleh menerima dengan senang hati jika ada yang mengajakmu memanjat tangga-tangga mencari letak di mana sumber hujan, mengasapi sepanjang jalan raya dengan kentut aroma ayam goreng, atau menggarami telur mata sapi yang matang di atas sebongkah es batu.

5. terakhir, selamat menjadi pemalas. jangan terlalu banyak berpikir. sebab kemalasan paling hakiki ialah memanjakan pikiran dan mematikan nalar.

Ciputat, 2017


Jek, Arta!

Jek, Arta, berdesak-desak dalam kereta, para karyawan dan pekerja serabutan pulang: bertukar bau napas bau ketek bau sperma bau bajing, menjilat keringat sendiri lebih terhormat ketimbang menjual agama atas nama umat.

Jek, Arta, macet sana-sini, angkot mengakar depan stasiun-terminal-pasar, klakson menombak kuping nenek penjual kopi keliling, asap knalpot menampar wajah seorang anak perempuan kelas 4 sekolah dasar.

Jek, Arta, ribut-ribut, butri-butri, aduh-aduh, duha-duha.

"Oy kapiiiiirr!"
"Oy kaum in[telek]raaaaan!"
"Oy teyoyiiiiis!"

Eh main tuduh. Eh main tuding. Enak aja. Lempar kondom sembunyi kelamin. 

Ciputat, 2017


Jadi Pengangguran

jadi pengangguran
seperti saya ini enak

ongkang-ongkang ngerokok
makan - tidur - berak

jadi pengangguran
seperti saya ini enak

misuh-misuh soal negara
caci maki; cuci tangan, cuci kaki

jadi pengangguran
seperti saya ini enak

enggak punya urusan umat
sorga udah dikapling
udah disekat

jadi pengangguran
seperti saya ini enak

mati jadi bangkai,
di depan tuhan cuma bilang:

"hamba enggak punya gawe loh,
enggak bertanggungjawab atas apa-apa."

Ciputat, 2017

  • view 148