3 Sajak tentang Santri; Pembelajaran, Kopi dan Kesantunan

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 01 Februari 2017
3 Sajak tentang Santri; Pembelajaran, Kopi dan Kesantunan

Pena dan Kitab Arkais Santri

; Imam Budiman

 

pena-pena kami, saudara, bak tombak yang lesat di antara semak aksara; dhabit makna, ragam uraian, juga petuah kiai. pena, bagi kami, tak tergantikan sebagai senjata utama tuk menakhlukan i'rab di baris akhir dalam nahwu, menentukan qhata' qawafi dan menimbang bahar dalam arudh, menyesuaikan makna antar dua bahasa.

kitab-kitab kami, saudara, tak serupa komik milikmu yang menawarkan visualisasi yang apik dan pukau --meski tak jarang, kami juga menikmatinya di kala senggang dan curi-curi kesempatan.

kitab-kitab kami, saudara, tak serupa seri-seri J.K Rowling dan J.R.R Tolkien yang kau jejerkan di bagian teratas lemari kacamu --sebab berjilid-jilid kitab yang kami punyai hanya dijejerkan sekenanya di atas lemari kayu.

namun, daya imajinasi kami terlatih dengan baik manakala membaca ragam kisah-kisah fiksi dalam nawaadir dan kisah alf lailah wa lailah. daya puitis kami teruji dalam diwan-diwan nabighah, mutanabbi, umru' qais sampai as-syafi'ie.

pena dan kitab adalah sepasang abdi yang patuh. kami dan keduanya adalah karib yang ditakdirkan selagi ruh semayam dalam tubuh.

Ciputat, 2017

Sajak Kopi dan Santri

; Imam Budiman

 

kopi, bagi santri, adalah suatu keharusan tatkala mendaras kitab seorang diri, membaca fatwa-fatwa terkini hasil konsensus ulama abad ini, saling bertukar pikiran untuk mencari solusi, ataupun sekadar pelengkap dalam sebuah diskusi-diskusi kecil dalam muzakarah.

demi kopi dan sedikit gula,

kita pun ada dan bermakna.

Ciputat, 2017

 

Beragama Santun ala Santri

; Imam Budiman

 

kami diajarkan secara detail makna kasih sayang. tak sekadar teori atau ujaran belaka, melainkan tindakan yang nyata pada sesama. kepada siapa pun: muslim-nonmuslim, hewan, tumbuhan dan semesta raya. kiai-kiai kami tak sekadar mengajarkan varian ilmu alat, fiqih, aqidah dan tasawwuf. mereka pendidik terbaik yang mengarahkan para domba-domba asuhannya untuk selalu dekat sebagaimana perilaku mulia kanjeng nabi.

"apalah arti ilmu berpuluh-puluh bukit, bila tiada ditunaikan dengan hati yang tulus dan berbudi baik," begitu dawuhnya, berulang kali, di setiap kesempatan kami mengaji.

mengutamakan akhlak karimah; tanpa ada saling bersitegang, berwajah gusar dan masam, juga bentakan dalam menjalin hubungan antar sesama. di hadapan Tuhan, kita tiada beda, melainkan ketakwaan penuh pada-Nya.

Ciputat, 2017

  • view 251