F-R-U-S-T-A-S-I ; semester akhir pra-pengangguran

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Januari 2017
F-R-U-S-T-A-S-I  ; semester akhir pra-pengangguran

F-R-U-S-T-A-S-I

; semester akhir pra-pengangguran

malam ini, untuk yang ke sekian, saya terjebak dalam perdebatan yang tak kunjung usai sebelum benar-benar dipaksa berhenti. tembok-tembok berwajah pamflet acara bicara dengan bahasanya. pohon-pohon bertempelkan foto caleg bersiteru dengan tiang listrik. jalan-jalan proyek yang digarap asal-asalan berdebu dipenuhi luka-lebam. warkop-warkop dijejali wacana kosong kaum aktivis. bangku-bangku kelas berjam-jam diduduki untuk sekadar berpindah tempat tidur. makalah-makalah kampus diketik asal jadi tanpa isi. skripsi-skripsi tertidur di rak perpustakaan yang khas dengan aroma kemalasan.

***

keadaan kian diperparah dengan ihwal fenomena kekinian. saya terlempar jauh dari peradaban dan pergaulan mahasiswa yang banyak berbusa-busa mempresentasikan betapa kerennya film-film bioskop terbaru, tempat kongkow haha-hihi paling asyik, mall-mall yang mesti dijilati setiap jengkal lantainya. menjadi primitif, belakangan ini, merupakan salah satu cara mempertahankan kewarasan. saya betah menjadi primitif dengan isi kepala saya yang dipenuhi kolam-kolam ikan, semak dan hutan. saya suka beronani dengan waktu kalau sedang sendiri. saya rasa, saya tengah sakit jiwa berhadapan dengan model interaksi antar manusia yang kian absurd dan penuh peran ganda.

***

saya semakin marah ketika kekasih saya bilang, bila kita purna membangun bahtera, kita mesti pulang ke tanah kelahiran. tanah kita butuh peladang-peladang tangguh alumni tukang gulat ibu kota. keahlian yang kita asah, katanya, akan kian teruji dan mendapat respon baik. lantas saya keras membantah, mendiamkannya tanpa saling sapa berhari-hari. lantaran pulang, bagi saya, berarti sama saja menambah-nambah keterasingan. bukan berarti kacang lupa kulit, tetapi banyak alasan mengapa kita tidak harus pulang. tanah kelahiran kita sudah bukan seperti dulu. kita membangkang demi peruntungan masa depan dan anak-cucu kita. setiap pembangkangan, tidak selamanya buruk, termasuk yang akan kita lakukan. percayalah, sayang. kita merupakan sepasang pembangkang yang paling disenangi Tuhan.

***

tanggapan ringkas dari kekasih:

dari dulu, kau memang tukang pesimis ulung. tak pernah berubah watakmu. masih keras kepala. tetapi, entah untuk alasan apa, aku tetap bisa bertahan menghadapi emosimu, yang kadang meledak-ledak. puisi-puisi yang kau tujukan padaku di awal masa pertemuan dulu, nampaknya benar-benar menyihir dan merasuk ke dalam darah dagingku.

bila ada uang lebih serta waktu menungkinkan, kita bisa saja berlabuh pulang ke kampung halaman kapan saja. walau sebentar, sekadar 2-3 hari saja. aku juga tidak memaksakan. sebab segala titah, tetap di atas kuasamu sepenuhnya. kita bisa pulang entah ketika masa libur tiba, atau di sela padat-padatnya kesibukan semester akhir menyelesaikan skripsi, bagimu yang pemalas dan suka berdalih, sangat menjenuhkan. kita butuh rehat sejenak. kita butuh suasana yang nyaman sembari menyeruput kopi bersama tanpa beban pikiran. kita butuh bersapa-temu dan ngobrol dengan beberapa teman lama. sebagai manusia, tentu, kita gampang sekali lelah dan merasa bosan dengan suatu pekerjaan.

pulang adalah sebuah tujuan akhir. ke mana pun kita singgah, berkunjung, berkelana, pada akhirnya, kita tetap harus pulang. di kampung kita, tidak ada yang benar-benar menanti memang, banyak perubahan yang membuatmu tidak nyaman. namun, tahukah kau? kenangan masa kecil seolah-olah terus memanggil, "di sini kau pernah bersama kami, di sini kau pernah memainkan beragam permainan yang tak pernah lagi kau lihat di seberang pulau sana."

kita harus pulang, sayang. kita harus kembali menata masa kecil yang pernah kita tinggalkan, demi membangun masa depan kita kelak, juga anak-anak, berpuluh tahun kemudian.

 

Ciputat, 2016


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    10 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Curhat yang berkelas a la Imam Budiman. Sebenarnya dia hanya berniat mengungkapkan kegundahannya mengenai masa depan saat sedang menggarap skripsinya saat ini. Dasar memang menguasai teknik penulisan level tinggi, walhasil suara hatinya menjelma menjadi coretan yang sangat layak dibaca. Bak mengurai benang di otaknya yang kusam, ia seolah menuangkan yang ada di kepalanya satu per satu. Ia mengungkapkan bahan percakapannya bersama sang kekasih, yang cukup berbobot dan mengajak siapa pun yang membaca agar merenung.

    Ia mengungkapkan kejenuhan menjadi seorang ‘alien’ di ibukota dengan tren yang tak lagi sanggup ia pahami. Imam memasukkan bantahan saran pacarnya yang menginginkan agar mereka pulang kampung usai kuliah kelak dengan berbagai alasan. Singkat, berkualitas, kritis dan pastinya banyak kalimat yang bisa dikutip dari tulisan ini. Luar biasa, Imam!

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    10 bulan yang lalu.
    Frustasi => Frustrasi