Meski Bukan Sarjana, Bapak Saya Tidak Bodoh

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Meski Bukan Sarjana, Bapak Saya Tidak Bodoh

Sukiman Bin Atmopini, nama Bapak saya, anak seorang Veteran yang meninggal karena diserang TBC, akibat candunya terhadap lintingan kretek tak tertahankan,

Bapak saya bukan sarjana, tentu. Ia hanya tamatan SMA, yang kemudian ikut bekerja dengan pakleknya sebagai tukang pandai besi; mengolah pelbagai macam senjata tajam untuk kemudian dijual di pasar-pasar sekitar Magetan. Pekerjaan itu terbilang lebih baik ketimbang membabat rumput di ladang orang dengan upah 100 perak, ketika ia kelas 2 SMA di akhir tahun 80-an. Jajan, katanya, tak pernah diberi, kecuali dengan bekerja sendiri.

Pengetahuan agama yang dimilikinya juga, jujur saya katakan, sangat minim. Bapak baru intens belajar membaca Quran dengan seorang guru kampung, yang bahkan lebih muda darinya, ketika saya kelas 3 SD. Saya ingat, waktu itu, setiba waktu maghrib, bapak menyalakan motor butut Supra-nya, dan memacu pedal gas ke rumah guru ngaji. Ia baru akan pulang ketika jam menunjukan pukul 8, lepas wirid salat isya.

***


Tidak ada maksud merendahkan karena saya sekarang lebih pandai membaca Quran atau kitab kuning daripada bapak. Semua tentu berkat jasanya --jasa ibu sebetulnya yang memaksakan kehendak agar anaknya mengenyam pendidikan di pesantren, dan bapak, tanpa banyak mendebat, menyetujuinya.

Bapak, semangat, dan sepenuh kesadarannya, merasa ada yang berbeda dengan anak-anaknya sendiri. Atas inisatif ibu, 3 anak tertua, termasuk saya, kesemuanya mengenyam pendidikan pesantren. Ibulah yang sedikit lebih mengerti persoalan agama, ia sering ikut pengajian ibu-ibu yang marak sekali di kampung kami, bertahun-tahun lalu.

Di rumah, bapak banyak bertanya ini-itu mengenai persoalan agama, apa hukumnya ini, apa maksud perkataan ulama itu, dsb. Suatu waktu, saya lupa kapan, ia pernah bertanya:

"Bapak kerja di PT ****, perusahaan pembuat kapal besar takboot yang biasa digunakan untuk mengangkut muatan batubara. Bos bapak sekarang orang Cina, menurutmu, gaji bapak ini halal atau tidak?"

Saya diam sebentar, berupaya mengingat pelajaran --meski kerap tidak sungguh memperhatikan dan mengantuk.

Saya teringat sebuah hadis sahih, di mana baginda nabi mengambil upah bekerja dari seorang Yahudi untuk menimba air, dengan upah setiap kali menimba, satu kurma.

Dalam literatur fiqih pun dijelaskan, urusan muammalah kepada nonmuslim, selama tidak berbentuk kemaksiatan --baik jenis atau pun asal-usulnya, sah-sah saja alias diperbolehkan. Betapa indahnya agama mengatur kehidupan para penganutnya.

Dan dengan dua dalih di atas, saya katakan kepada bapak, tak jadi masalah.


***


Malam ini saya cukup tersinggung --meski itu, sungguh, bukan tipikal saya sama sekali. Seorang teman jauh membanggakan ayahnya yang sarjana tahun 90-an, kemudian diterima di instansi tinggi negara dan sedang ditugaskan dinas di luar kota. Hidupnya serba enak, liburan ke luar negeri kapan pun ia mau, makan di restoran mahal, dsb. Barangkali, jika sebatas itu, saya tak mempermasalahakan. Namun yang jadi persoalan, secara tidak langsung merendahkan bapak saya yang kini bekerja serabutan.

Ah, tak seharusnya pula saya tersinggung. Mungkin lebih tepatnya, saya tak enak mendengar ucapannya saja. Atau mungkin saya yang terlalu kelelahan hari ini.


***

Sekali lagi, bapak saya bukan sarjana, benar. Ia tak pandai berbicara panjang lebar. Ia orang yang kaku, bahkan ketka berada di antara orang tua sebayanya. Ia lebih banyak bekerja, melakukan apa saja yang bisa dikerjakan tanpa berkomentar. Sosok bapak, bagi saya, seperti slogan iklan rokok: Talk less do more.

Tetapi, darinya, saya belajar tentang makna tulus memberi. Ia tidak pernah berteori macam-macam, apalagi memberikan kultum di masjid. Memberi dan melupakan, bahkan di atas urusan pribadinya sendiri.

"Kalau ada, ya berbagi. Kalau ga punya, jangan meminta-minta. Upayakan sendiri. Kerja." Bapak dan sikap dinginnya, membuat saya tercekat. Ia tak paham dalil yang bertele-tele, yang ia mengerti hanya sebatas, bahwa memberi sebagian apa yang kita miliki kepada yang membutuhkan adalah kebaikan tiada tara di sisi Tuhan.

Di lain waktu, ia pernah berujar, "soal kebutuhan, apalagi urusan kalian (anak-anaknya), selama bapak sehat, bapak usahakan. Kalian tinggal belajar. Fokus saja."

Di tengah keterbatasan keluarga kami, ia menunjukan sikap optimis. Selama mau berusaha, selalu ada jalan.


***

Kini saya masih kuliah di fakultas yang berbau agama --meski ketertarikan saya sebenarnya di ranah Sastra, entah sampai kapan. Bapak pernah menyinggung soal tujuan setelah lulus S1. Saya tak punya jawaban pasti, selain dengan "sok berani" mengatakan akan lanjut ke S2, lagi-lagi masih di jurusan yang berkaitan dengan agama.

Membayangkan bapak untuk kuliah, tentu nyaris tidak mungkin. Yang berkelindan di dalam kepalanya adalah bagaimana agar dapat terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan tanggungannya. Ah, rasanya malu kalau harus meminta jajan darinya lagi untuk seukuran anak lelaki serupa saya. Tetapi saya juga bingung mau bekerja apa untuk anak ingusan yang masih harus banyak belajar.


***

Meskipun status pendidikan dan pengetahuan agamanya tidak seberapa. Namun setidaknya, bapak mengajarkan, untuk bisa tulus dan ikhlas memberi, tak harus menunggu sampai menjadi sarjana tingkat Doktor.

Lakukan saja semampunya dengan tulus, dan biarkan Tuhan yang Maha menilai.


Ciputat, Pukul 2 lewat 5 menit, Dinihari, 18 Oktober 2016


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan ini spesial sebab kita dapat menemukan kisah serupa dalam keseharian kita. Teori agama versus praktek. Apa yang tertulis dalam kitab versus naluri alamiah manusia. Niat, niat dan kembali lagi ke niat. Pendidikan formal yang tinggi atau tempaan berat kehidupan yang sesungguhnya. Tulisan ini membuat kita merenung. Bijak, universal sekaligus berbobot. Ditulis dalam bahasa yang mengalir, karya ini sederhana dan bermakna dalam.

  • Nazlah Hasni
    Nazlah Hasni
    1 tahun yang lalu.
    terharu

  • Nazlah Hasni
    Nazlah Hasni
    1 tahun yang lalu.
    terharu

  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    terharu membacanya....

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan ini bikin kangen sama ayah saya, yang kurang lebih sama dgn ayah mas. Pendidikan nggak tinggi tapi justru menjalani hidup tanpa banyak teori.