Kuda-Kuda Perang dalam Padanan Aksara Tuhan

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 04 Oktober 2016
Kuda-Kuda Perang dalam Padanan Aksara Tuhan

Kuda-Kuda Perang dalam Padanan Aksara Tuhan

; QS. Al-Adiyaat, ayat 1-5

/I/

adalah kuda-kuda perang kami, tuan, yang berderak lesat seumpama laju ribuan rintik mengguyur tanah pusaka, di suatu waktu yang tak tentu, di suatu musim kemarau dengan terik berhamburan. menggenapi aksara-aksara yang nyaris tak terbaca dirayapi zaman. menyambangi dahan-dahan muda agar bertunas gandasuli dan berputik matadelima. kedua belah kaki kuda-kuda kami sama menderap dalam laju di pacuan para prajurit Tuhan. deru napas kami sama terengah-terbelah-tersinggah, namun kami tak menyatakan tunduk dan payah. kuda-kuda kami, tuan, sungguh lesat tak terbendung halau meski selangkah.

/II/

maka hikayat lesatnya yang purba, bukan hanya sekadar kabar samar menurut kata orang; ladam-ladam keras di waktu dinihari memercikan bunga api berpendaran manakala terantuk sebilangan berbatu, sepanjang halu jalan dan takaran bulan, sepanjang usia sabda dan musim tak berbilang. kuda-kuda kami tak serupa kuda pejantan paling perkasa milik tuan sekalipun. kuda-kuda kami, tuan, kuda yang termaktub difirmankan oleh Tuhan sepaling tangguh dari segala pejantan.

/III/

sepagi embun belum benar-benar kering di pelataran, daun-daun sirih menguarkan harum isak. O, kuda-kuda kami tak sabar ingin menyerang tengkuk-tengkuk musuh. mencerai-beraikan susunan rusuk, mengilirkan bahu dan mematahkan lutut pasukan durja dengan sekali hentak yang teramat nyeri. mereka lalai dalam buaian dunia tak seberapa, dan serbuan kita yang sungguh rahasia, seperti sudut runcing bintang yang dihujamkan ke lambung-lambung mereka. sedinihari ini, kuda-kuda kami ingin segera beradu di medan laga dengan berlipat-lipat tenaga. lesat lari kami, tuan, adalah lari sepenuh pengabdian kepada yang maha penguasa alam kesunyian.

/IV/

berjuta debu-duli membumbung naik bertangga-tangga menyesaki udara hingga menjadi serupa kelam kabut, mengukuhkan langkah kuda-kuda kami yang terus berlari menuju arah ufuk. langkah-langkah itu mengaburkan ingatan kami yang akan menantang sepasukan musuh, tentang apa yang kami tinggalkan, jauh beribu-ribu jengkal dari tempat kami kelak akan menyatu dengan tanah bercampur wangi darah para pelaku syahid.

/V/

pedang beradu pedang, menjatuhkan musuh dengan jarak tak lebih selengan. perisai menghantam perisai, mempertahankan posisi agar tetap seimbang, sebab terkandung dalam tubuh kami laa ilaaha illallaah. ada yang menyaksikan pertarungan di tengah berkobarnya perang, kecamuk yang kian memuncak hingga lenguh penghabisan, aroma darah menyeruak ringan membumbung ke cakrawala. satu pasukan besar yang mendurhakai tuhannya berlari tunggang-langgang, sedang pasukan lain yang tak seberapa, menggumamkan tahmid yang tak habis-habisnya dibacakan di kedalaman sanubari prajurit penunggang kuda.

 

Ciputat, 2016

 

  • view 217